Beberapa waktu terakhir, penertiban ikan sapu-sapu menjadi perhatian serius Pemprov DKI Jakarta. Aksi pembersihan dilakukan di sejumlah titik, termasuk di Kali Cideng. Puluhan ikan yang berhasil diangkat kemudian dibawa ke Pusat Promosi dan Sertifikasi Hasil Perikanan (PPSHP) milik Dinas KPKP untuk dimusnahkan dengan cara dikubur. Langkah ini diambil karena ikan sapu-sapu memiliki daya tahan tinggi dan mampu bertahan hidup cukup lama meski tanpa air.
Selain itu, sebanyak 68 ribu ikan sapu-sapu dengan berat hampir 7 ton berhasil ditangkap di lima wilayah DKI Jakarta, dengan jumlah terbanyak berasal dari Jakarta Selatan, disusul Jakarta Timur dan Jakarta Pusat.
Di Jakarta Selatan, terkumpul 63.600 ekor dengan berat 5,3 ton dari kawasan Setu Babakan. Jakarta Timur menyumbang 4.128 ekor (825,5 kg) dari 10 titik, sementara Jakarta Pusat mencatat 536 ekor (565 kg) dari tujuh lokasi. Adapun di Jakarta Utara, ditemukan 545 ekor dengan berat 271 kg di Kelapa Gading.
Kegiatan ini merupakan bagian dari edukasi kepada warga bahwa ikan sapu-sapu hidup dari limbah yang mengalir di sungai Jakarta. Sisa-sisa buangan itu menjadi sumber makanannya. Maka, ada kekhawatiran jika ikan tersebut dikonsumsi, dampaknya bisa berisiko bagi kesehatan.
Ikan sapu-sapu, yang dikenal dengan nama ilmiah Hypostomus sp. dan Pterygoplichthys sp., sejak lama dipandang sebagai penanda kondisi perairan yang bermasalah. Kehadirannya sering dikaitkan dengan gangguan ekosistem, bahkan dianggap sebagai hama yang mengganggu keseimbangan lingkungan air.
Spesies ini berasal dari Amerika Selatan dan termasuk dalam kelompok ikan lele-lelean (Siluriformes). Kemampuannya bertahan hidup di air yang tercemar, bahkan dengan kadar oksigen rendah, membuatnya berbeda dari banyak ikan lain yang lebih sensitif terhadap perubahan lingkungan.
Menurut catatan The South East Asia Desk, ketahanan tersebut justru menjadi sinyal peringatan ketika ikan ini mulai mendominasi suatu perairan. Dominasi ikan sapu-sapu menunjukkan bahwa kondisi lingkungan telah menurun cukup jauh, hingga hanya spesies dengan daya tahan tinggi yang mampu bertahan.
Ketika situasi ini terjadi, perairan tersebut dapat dikatakan mengalami pencemaran serius. Keberadaan ikan sapu-sapu dalam jumlah besar menjadi indikator menurunnya kualitas ekologi, sekaligus penanda adanya krisis dalam ekosistem air tawar.
Di sisi lain, dampaknya tidak berhenti pada ekosistem biologis. Ikan ini dikenal membuat lubang di dasar dan tepian sungai. Aktivitas tersebut berpotensi merusak struktur tanah dan tanggul. Pada konteks Jakarta yang bergantung pada sistem pengendalian banjir, ancaman ini membutuhkan perhatian serius.
Langkah penertiban yang dilakukan pemerintah menunjukkan respons yang cepat. Penangkapan massal menjadi cara paling terlihat dan mudah dipahami publik. Aktivitas ini memberi pesan bahwa negara hadir dan bekerja. Namun, sampai kapan pendekatan ini dapat bertahan?
Warga Jakarta perlu diajak memahami bahwa sungai adalah ekosistem hidup, bukan ruang buang yang bisa menampung apapun. Kesadaran ekologis tidak tumbuh dalam semalam. Pemerintah memiliki posisi strategis untuk mendorong perubahan tersebut, baik melalui kampanye publik maupun regulasi yang lebih tegas terhadap perdagangan dan distribusi ikan tertentu.
Terdapat pula asumsi tentang pemanfaatan ikan sapu-sapu sebagai sumber ekonomi alternatif. Beberapa pihak mencoba mengolahnya menjadi produk tertentu. Pendekatan ini perlu dikaji secara hati-hati agar tidak menciptakan ketergantungan baru. Ketika sebuah spesies invasif justru memiliki nilai ekonomi tinggi, risiko eksploitasi yang berbalik arah bisa saja muncul. Alih-alih berkurang, populasinya malah dipertahankan demi kepentingan pasar.
Penertiban ikan sapu-sapu dapat menjadi pintu masuk untuk membangun tata kelola ekosistem perkotaan yang lebih kuat. Jakarta memiliki kesempatan untuk menyusun model penanganan yang terintegrasi, menggabungkan kebijakan, dan partisipasi publik. Langkah ini membutuhkan konsistensi dan tidak dapat bergantung pada momentum tertentu saja.
Ketika ikan sapu-sapu mendominasi, kita sedang melihat hasil dari rangkaian pilihan kebijakan yang pernah dibuat. Menertibkannya berarti juga menata ulang cara pandang Jakarta terhadap lingkungan. Dari sana, harapan tentang sungai yang kembali seimbang dapat perlahan dibangun sebagai arah yang terus diupayakan.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


