basmi ikan sapu sapu - News | Good News From Indonesia 2026

Pemprov Jakarta Basmi Ikan Sapu-Sapu, Ini Dampaknya untuk Lingkungan!

Pemprov Jakarta Basmi Ikan Sapu-Sapu, Ini Dampaknya untuk Lingkungan!
images info

Pemprov Jakarta Basmi Ikan Sapu-Sapu, Ini Dampaknya untuk Lingkungan!


Pada Jumat lalu (17/04/2026) WIB, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jakarta, serentak melakukan penangkapan dan pembasmian ikan sapu-sapu di sejumlah sungai di wilayah Jakarta.

Aktivitas ini dilakukan sebagai upaya pengendalian populas ikan invasif tersebut yang dinilai merusak ekosistem sungai. Hal ini terjadi karena mereka memangsa telur ikan lokal dan menyebabkan penurunan populasi.

Dikutip dari Detik, hasil penangkapan mencapi 68.880 ekor dengan berat sekitar 6,98 ton. Tidak mengherankan jika hasil tangkapan bisa mencapai hampir tujuh ton karena, di Jakarta sendiri, jumlah ikan sapu-sapu telah menembus lebih dari 60%.

Kawan GNFI, 'predator' ini sebenarnya bukan ikan asli Indonesia, loh. Lantas, dari mana asalnya dan apa dampaknya dari segi lingkungan dan kesehatan? Simak penjelasannya sampai habis, ya, Kawan GNFI.

Ikan Sapu-Sapu, Bukan Ikan Asli Indonesia

Ikan sapu-sapu, termasuk dalam spesies Loricariidae, yang merupakan ikan asli Sungai Amazon di Amerika Selatan. Hewan ini kemudian menyebar ke berbagai negara melalui aktivitas manusia.

Dilansir dari rri.co.id, diketahui bahwa 'makhluk sungai' ini bisa masuk ke Indonesia karena biasanya digunakan sebagai ikan hias yang mampu membersihkan akuarium dengan memakan alga dan kotoran.

Seiring waktu, ikan sapu-sapu dilepas ke perairan umum. sebab, beberapa meyakini bahwa ikan itu dapat memangsa ikan invansif lainnya. Sayangnya, hal ini justru menjadikannya sebagai spesies invansif paling dominan dan predator utama di perairan Indonesia.

baca juga

Dampak Negatif Ikan Sapu-Sapu bagi Lingkungan

Dilansir dari Kumparan, predator alami ikan sapu-sapu adalah ikan common snook(Centropmus undecimalis) dan ikan tarpon(Megalops atlanticus). Namun, keduanya hanya bisa ditemukan di Sungai Amazon. Inilah mengapa, populasi makhluk ini semakin mengganas di Indonesia. Apalagi, dengan kemampuan hidupnya yang luar biasa, di mana bisa hidup lebih lama meskipun di wilayah paling tercemar sekalipun. Mereka juga diketahui bisa hidup di luar air hingga 13 jam lamanya.

Sebagai informasi, ikan sapu-sapu juga dikenal sebagai pemakan segala (omnivora), termasuk telur ikan lokal. Mereka juga senang membuat lubang di pinggir sungai untuk bersarang dan bertelur. Akibatnya, bisa menyebabkan longsor di pinggir sungai dan keruhnya air.

Menariknya, seekor ikan sapu-sapu betina dapat bertelur hingga 19.000 butir dan mampu bereproduksi beberapa kali. Selain itu, satu spesies jantan dapat membuahi dua ekor betina.

baca juga

Pembasmian Ikan Sapu-Sapu

Ada berbagai cara untuk membasmi ikan sapu-sapu setelah ditangkap. Pertama, dengan menimbun atau menguburnya hidup-hidup. Cara ini juga diterapkan oleh Pemprov Jakarta dalam menangani hasil tangkapannya yang mencapai hampir tujuh ton.

Kedua, menurut Kumparan, caranya adalah dengan memanfaatkan predator alami Indonesia seperti ikan baung dan ikan betutu untuk memangsa ikan Sapu-Sapu. Dengan catatan, yang dapat dimangsa hanya benihnya dan yang sedang dalam fase juvenil (0,6—10 cm). Sebab, ikan sapu-sapu dewasa berkulit keras dan sirip berduri tajam, sehingga sulit dimangsa.

Adapun cara lainnya adalah memperketat perdagangan spesies tersebut sebagai ikan hias dan mengedukasi masyarakat untuk tidak membuang sapu-sapu ke perairan bebas.

Kandungan Ikan Sapu-Sapu

Banyak yang menyebutkan di komentar media sosial soal ikan sapu-sapu yang dijadikan bahan baku mananan. Pertanyaannya, apakah itu benar?

Sebenarnya, ikan sapu-sapu bisa dikonsumsi, jika itu berasal dari hasil budidaya atau perairan yang bersih, karena mengandung protein yang tinggi dan lemak yang rendah.

Namun, pada kasus ini, di mana ikan hewan predator ini berasal dari perairan yang tercemar, maka tidak boleh dimanfaatkan untuk makanan.

Dilansir dari berbagai media, ikan sapu-sapu hidup di perairan tercemar, yang mana mengandung logam berat seperti merkuri, timbal, dan kadmium, limbah kimia, serta parasit yang dapat menular ke manusia. Jika ikan ini dikonsumsi, dapat menyebabkan gangguan kesehatan serius seperti alergi hingga keracunan.

Adapun cara untuk membedakan siomay ikan tenggiri dan ikan sapu-sapu adalah dari warna, aroma, tekstur, dan rasa.

Dilansir dari berbagai media, siomay ikan sapi-sapu cenderung kusam dan warna lebih gelap keabu-abuan, sedangkan siomay ikan tenggiri, warnanya lebih cerah.

Rasa siomay ikan sapu-sapu juga meninggalkan rasa pahit, berbau amis yang tajam dan cukup alot saat dikunyah.

baca juga

Kawan GNFI, tugas kita dalam menjaga lingkungan kini bertambah, yaitu membasmi ikan sapu-sapu untuk melindungi ekosistem ikan lokal. Upaya ini telah dimulai di Jakarta dan perlu dilanjutkan ke daerah lain. Bagaimana menurutmu?

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

A
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.