biografi sariamin ismail novelis wanita pertama indonesia - News | Good News From Indonesia 2026

Biografi Sariamin Ismail: Novelis Wanita Pertama Indonesia

Biografi Sariamin Ismail: Novelis Wanita Pertama Indonesia
images info

Biografi Sariamin Ismail: Novelis Wanita Pertama Indonesia


Dari Nh. Dini hingga Leila Chudori, dunia kesusasteraan Indonesia mengenal banyak pujangga wanita. Tetapi, apakah Kawan GNFI tahu siapa yang tercatat dalam sejarah sebagai penulis novel perempuan pertama di Indonesia?

Wanita itu adalah Sariamin Ismail yang menerbitkan roman berjudul Kalau Tak Untung pada tahun 1933 dengan nama pena Selasih. Novelis asal Sumatra Barat ini tidak hanya menjadi bagian penting dari sejarah sastra nasional. Kisah hidupnya juga mengandung banyak pelajaran khususnya untuk para perempuan Indonesia.

Latar Belakang Keluarga Dan Pendidikan

Sariamin Ismail lahir pada tanggal 31 Juli 1909 di Nagari Talu, Talamau, Pasaman Barat, Sumatra Barat. Beliau dibesarkan diantara lima saudara oleh orang tuanya, Laur Datuk Rajo Melintang, yang bekerja sebagai petani dan pemborong kayu-kayu perumahan. Ia mendapat nama Basariah sebelum diganti menjadi Sari Amin, nama dua kata yang kelak digabungnya menjadi Sariamin. Tambahan Ismail pada namanya didapat dari nama suaminya setelah pernikahan mereka pada tahun 1941.

Sariamin bersekolah di Meisjes Normaalschool (Sekolah Guru Perempuan) di Padang Panjang pada tahun 1921–1925. Sekolah tersebut merupakan satu-satunya sekolah pengajar wanita yang ada di pulau Sumatra saat itu. Kondisi demikian menumbuhkan kepeduliannya terhadap bidang pendidikan, terutama untuk kaum perempuan.

Setelah lulus, Sariamin langsung menjalankan profesi guru di Meijesvolgschool (Sekolah Gadis) di Bengkulu. Karir kepengajarannya kemudian berpindah ke Matur, Lubuk Sikaping, Bukittinggi, dan Padang Panjang pada tahun 1929. Selama periode ini, beliau juga aktif mengikuti berbagai organisasi masyarakat. Keterlibatannya di sebuah gerakan bawah tanah memaksanya pindah ke Payakumbuh pada April 1939 untuk menghindari pengawasan pemerintah Belanda.

baca juga

Menjadi Penulis Novel Wanita Pertama

Sariamin mulai mengembangkan bakat menulisnya sejak kecil. Ketika berusia 16 tahun, beliau sudah berani untuk mengirim artikel-artikel untuk berbagai media cetak. Artikel pertamanya berjudul “Betapa Pentingnya Anak Perempuan Bersekolah”. Tulisan ini dimuat di majalah Asjsjaraq pada tahun 1926 dan mendapat sambutan hangat karena hampir tidak ada penulis wanita pada saat itu. Selain artikel non-fiksi, Sariamin juga menulis karya fiksi berupa cerpen dan puisi.

Dalam karya-karya awalnya, Sariamin selalu menggunakan nama samaran. Misalnya, beliau menggunakan nama “Sri Gunung” untuk artikel pertamanya di Asjsjaraq dan “Seleguri” untuk Sri Pustaka¸ nama awal majalah Pujangga Baru.

Pada tahun 1932, Sariamin mengirim naskah novel pertamanya, Kalau Tak Untung, ke Balai Pustaka, penerbit yang menjadi pelopor sastra Indonesia modern. Beliau menggunakan nama samaran “Selasih” untuk naskah novel ini. Ketika karyanya diterima dan diterbitkan setahun setelahnya, ia mendapat pujian sebagai pujangga wanita pertama di Balai Pustaka.

Kalau Tak Untung menceritakan kehidupan seorang gadis bernama Rasmani. Lewat novel ini, Sariamin mencurahkan gagasan-gagasannya tentang pendidikan wanita lewat dan mengkritik kebiasaan perkawinan sedarah di tanah Minangkabau lewat tokoh Rasmani.

Karya-Karya Sariamin Ismail Lainnya

Pasca penerbitan Kalau Tak Untung, Sariamin terus produktif menulis. Novel keduanya sebagai Selasih, Pengaruh Keadaan, diterbitkan Balai Pustaka juga pada tahun 1937. Namun, pada masa pendudukan Jepang, beliau berhenti menulis karena khawatir akan dipenjara. Beliau kembali fokus kepada bidang kependidikan, dan aktif lagi menjadi pengurus organisasi masyarakat setelah kemerdekaan.

Sariamin baru mulai menulis lagi sekitar tahun 1970. Kali ini, beliau menulis cerita anak berjudul Panca Juara, yang baru dapat diterbitkan tahun 1981. DI tahun yang sama, ia bertemu dengan Dr. Daoed Joesoef, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia, yang mendorongnya untuk kembali menulis.

Setelah peristiwa itu, Sariamin mengarang dua novel lainnya, Kembali Ke Pangkuan Ayak (1986) dan Musibah Membawa Bahagia (1986). Selain itu, beliau juga membantu Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah dengan mengembangkan naskah legenda berbahasa Melayu dengan dialek Minang seperti Nahkoda Lancang (1982), Bujang Piaman Jo Puti Payuang Lauik (1983), dan Rantak Si Gadih Ranti (1986).

Sariamin Ismail Dan Perannya Untuk Indonesia

Pada tanggal 15 Desember 1995, Sariamin Ismail meninggal di Pekanbaru pada usia 86 tahun. Selain mewariskan berbagai karyanya untuk dunia kesusasteraan Indonesia, kisah hidup beliau juga bisa memotivasi kita untuk senantiasa bersemangat dalam hal-hal yang kita senangi, seperti menulis dan mengajar. Jasanya sebagai pujangga wanita pertama juga menjadikannya sosok inspiratif ideal bagi perempuan-perempuan Indonesia.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

KI
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.