Aktivitas membaca tidak selalu untuk mencari hiburan. Ada kalanya, sebuah buku bisa membawa pembacanya masuk ke ruang di mana hal-hal yang sulit dijelaskan perlahan mulai bisa dirasakan. Saat membaca, seseorang tidak hanya mengikuti alur cerita, tetapi juga diajak memahami perasaan tokoh di dalamnya.
Hal itu dapat dirasakan ketika Kawan GNFI membaca novel Di Tanah Lada karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie. Sekilas, buku ini tampak seperti cerita sederhana yang disampaikan dari sudut pandang anak-anak. Namun, di balik kesederhanaannya, tersimpan cerita yang jauh dari kata ringan.
Sudut Pandang Anak yang Menyimpan Banyak Cerita
Cerita dalam novel Di Tanah Lada disampaikan melalui sudut pandang seorang anak perempuan bernama Ava yang masih berusia enam tahun. Cara berpikir dan bertuturnya masih polos, tanpa penjelasan yang rumit. Justru dari kepolosannya, pembaca diajak melihat kehidupan yang tidak selalu berjalan dengan baik.
Ava tinggal bersama keluarganya di sebuah rumah susun. Tempat tersebut bukan dipilih karena kenyamanan, melainkan karena kedekatannya dengan tempat perjudian yang sering didatangi ayahnya.
Dalam kesehariannya, Ava sering menyaksikan pertengkaran orang tuanya, kebiasaan sang ayah yang kecanduan judi, hingga tindakan kekerasan yang tidak seharusnya dialami oleh seorang anak berusia enam tahun.
Di tengah situasi tersebut, Ava tidak benar-benar sendiri. Ia bertemu dengan seorang teman seorang anak laki-laki berusia sepuluh tahun bernama P, yang memiliki latar belakang kehidupan yang tidak jauh berbeda dengan yang dialaminya.
P tumbuh sebagai anak yang kehilangan peran ibu dalam hidupnya dan kerap menjadi sasaran amarah ayahnya. Pertemuan Ava dan P membuat mereka saling memahami kondisi satu sama lain, meskipun dalam kondisi yang tidak ideal.
Tokoh lain juga digambarkan dalam novel ini, seperti Mas Alri dan Mbak Suri yang menjadi bentuk lain dari kehangatan yang masih tersisa. Di tengah lingkungan yang keras, keberadaan mereka memberi jeda bagi Ava dan juga P untuk merasakan bahwa dunia tidak sepenuhnya gelap.
Luka yang Tidak Selalu Terlihat
Melalui cerita yang digambarkan melalui sudut pandang Ava, buku ini secara tidak langsung memperlihatkan luka yang dialami para tokohnya. Penjelasan dalam novel ini tentunya tidak berlebihan dan tidak ada dramatisasi yang dipaksakan.
Detail yang disajikan seperti percakapan sederhana, sikap yang tampak polos, hingga cara Ava dan P memandang dunia membuat pembaca memahami apa yang dirasakan oleh anak seusia mereka ketika mendapatkan perlakuan tertentu.
Salah satu bagian yang terasa sederhana namun menyimpan makna yang dalam adalah ketika mereka membayangkan diri mereka menjadi kakek dan nenek, tetapi mereka tidak ingin menjadi ayah dan ibu.
Bukan tanpa alasan, karena sosok itulah yang mereka kenal sebagai figur yang penuh kasih. Berbeda dengan sosok ayah dan ibu yang mereka kenal, mereka justru ingin melewati fase tersebut.
Perasaan yang Tersisa Setelah Membaca
Membaca novel Di Tanah Lada terasa seperti berhenti sejenak dari rutinitas, lalu melihat kembali hal-hal yang selama ini mungkin terlewat. Setelah membacanya, tersisa rasa diam yang bercampur dengan sesuatu yang sulit dijelaskan. Seolah-olah, cerita yang telah selesai dibaca masih terus berjalan di dalam pikiran.
Suara Kecil yang Perlu Didengar
Pada akhirnya, Di Tanah Lada terasa seperti kisah polos yang menyimpan sesuatu yang pahit. Lewat cara bercerita yang sederhana, buku ini menunjukkan betapa serius dampak kekerasan dalam rumah tangga terhadap anak-anak.
Dari situ, muncul kesadaran bahwa suara mereka, sekecil apa pun, tetap perlu didengar, karena ada luka yang mungkin tidak pernah mereka tunjukkan.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


