indonesia jadi salah satu negara paling tahan banting di tengah krisis energi global - News | Good News From Indonesia 2026

Indonesia Jadi Salah Satu Negara Paling Tahan Banting di Tengah Krisis Energi Global

Indonesia Jadi Salah Satu Negara Paling Tahan Banting di Tengah Krisis Energi Global
images info

Indonesia Jadi Salah Satu Negara Paling Tahan Banting di Tengah Krisis Energi Global


Krisis energi global yang dipicu konflik geopolitik dan lonjakan harga minyak menjadi tantangan serius bagi banyak negara. Namun di tengah tekanan tersebut, Indonesia justru dinilai memiliki daya tahan yang kuat.

Laporan terbaru JP Morgan pada 2026 menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara paling tangguh, bahkan berada di posisi ketiga dunia dalam menghadapi gejolak energi.

Posisi Ketiga Dunia

Dalam laporan JP Morgan bertajuk Pandora’s Bog: the global energy shock of 2026, Indonesia menempati peringkat ketiga dari 52 negara konsumen energi terbesar dunia dalam hal ketahanan terhadap krisis energi. Posisi ini berada di bawah Ukraina dan Afrika Selatan.

Penilaian ini didasarkan pada kombinasi rendahnya ketergantungan terhadap impor energi serta tingginya kemampuan bertahan terhadap lonjakan harga global. Selain itu, dalam indikator total faktor perlindungan energi, Indonesia bahkan menempati posisi kedua, hanya kalah dari Afrika Selatan.

Capaian ini menunjukkan bahwa struktur energi Indonesia relatif lebih stabil dibanding banyak negara lain, terutama negara industri yang sangat bergantung pada impor energi seperti Jepang, Korea Selatan, dan Singapura.

Energi Domestik sebagai Fondasi

Salah satu faktor utama yang membuat Indonesia tahan banting adalah ketersediaan sumber energi domestik yang melimpah. Indonesia memiliki produksi batu bara yang besar dan menjadi salah satu eksportir terbesar di dunia, yang berperan penting dalam menopang kebutuhan listrik nasional.

Dengan dominasi batu bara dalam bauran energi, lonjakan harga gas alam cair (LNG) di pasar global tidak langsung berdampak signifikan terhadap tarif listrik domestik. Selain itu, Indonesia juga memiliki produksi gas alam serta pemanfaatan energi terbarukan seperti biodiesel yang semakin berkembang.

JP Morgan mencatat bahwa Indonesia memiliki skor faktor isolasi sekitar 77 persen, yang berarti sebagian besar kebutuhan energi nasional masih dapat dipenuhi dari dalam negeri. Hal ini menjadi tameng utama dalam menghadapi volatilitas harga energi global.

Peran Kebijakan Pemerintah

Ketahanan energi Indonesia juga tidak lepas dari peran kebijakan pemerintah yang aktif menjaga stabilitas harga dan pasokan. Pemerintah menerapkan berbagai instrumen seperti subsidi bahan bakar minyak dan listrik untuk melindungi daya beli masyarakat.

Selain itu, kebijakan Domestic Market Obligation (DMO) batu bara menjadi salah satu langkah strategis untuk memastikan pasokan energi dalam negeri tetap terjaga dengan harga yang terkendali. Mekanisme ini memungkinkan harga energi domestik tidak sepenuhnya mengikuti fluktuasi pasar internasional.

Dengan kontribusi konsumsi domestik yang mencapai sekitar 56 persen terhadap ekonomi nasional, stabilitas harga energi menjadi faktor penting dalam menjaga pertumbuhan ekonomi. Kebijakan ini terbukti mampu meredam dampak langsung dari lonjakan harga energi global terhadap masyarakat dan industri.

Perbandingan dengan Negara Lain

Dalam analisis JP Morgan, banyak negara maju justru berada dalam posisi rentan terhadap krisis energi. Negara-negara seperti Italia, Jepang, dan Korea Selatan sangat bergantung pada impor minyak dan gas, sehingga lebih cepat terdampak ketika harga energi melonjak.

Sebaliknya, Indonesia bersama negara seperti China dan India dinilai lebih terlindungi karena memiliki diversifikasi energi yang lebih baik dan ketergantungan impor yang lebih rendah.

Faktor diversifikasi ini menjadi kunci penting. Negara yang memiliki berbagai sumber energi, baik fosil maupun terbarukan, cenderung lebih mampu menyerap guncangan dibanding negara yang bergantung pada satu jenis energi atau impor.

Tantangan yang Masih Mengintai

Meski memiliki ketahanan yang kuat, Indonesia tidak sepenuhnya bebas dari risiko. Salah satu tantangan utama adalah penurunan produksi minyak domestik yang membuat Indonesia masih bergantung pada impor bahan bakar minyak.

Ketergantungan ini dapat menjadi tekanan jika harga minyak global terus meningkat dalam jangka panjang, terutama karena transaksi impor menggunakan dolar Amerika Serikat yang berpotensi menekan nilai tukar rupiah.

Selain itu, cadangan energi strategis Indonesia juga masih terbatas dibandingkan standar internasional, sehingga perlu penguatan kebijakan untuk meningkatkan ketahanan jangka panjang.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Daniel Sumarno lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Daniel Sumarno.

DS
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.