Kawan GNFI pasti menyadari ada beberapa sifat kita yang diwariskan oleh orang tua, misalnya warna kulit atau warna mata. Dalam ilmu biologi, sifat-sifat genetika ini tersimpan di dalam rantai-rantai DNA yang menyusun kromosom.
Jumlah kromosom setiap spesies berbeda-beda. Manusia mempunyai 23 pasang atau 46 kromosom. Jumlah ini ditemukan oleh Joe Hin Tjio.
Namanya barangkali terdengar asing bagi kawan, tetapi apakah Kawan tahu kalau beliau adalah seorang ilmuwan keturunan Indonesia?
Kisah Hidup Joe Hin Tjio
Joe Hin Tjio adalah seorang keturunan tionghoa yang lahir pada tahun 1919 di Pulau Jawa. Indonesia pada saat itu masih berada di bawah pemerintahan Hindia Belanda. Beliau belajar di sekolah kolonial Belanda dan kuliah di jurusan pertanian.
Tjio mulai menekuni dunia penelitian setelah lulus kuliah. Beliau mencoba mengembangkan kentang hibrida yang tahan penyakit, tetapi riset tersebut terhenti ketika invansi Jepang tahun 1942.
Tjio kemudian dipenjara dan disiksa di kamp interniran Jepang. Meski dihadapkan dengan situasi mencekam, beliau tetap tenang dan menjahitkan baju hangat untuk rekan tahanannya.
Pasca kekalahan Jepang di akhir Perang Dunia II, Tjio pergi ke Belanda mengendarai kapal bantuan Palang Merah. Berkat dukungan finansial dari pemerintah Belanda, beliau menjadi peneliti genetika tanaman di Spanyol, Denmark, dan Swedia.
Ketika menghabiskan musim panas di Lund, Swedia, Tjio bertemu dengan Albert Levan selaku kepala Laboratorium Institute of Genetics.
Levan saat itu sedang meneliti kesamaan antara struktur kromosom pada sel kanker dan pada akar tanaman yang terkena racun. Tjio menerima ajakan Levan untuk bergabung dengannya.
Mengkoreksi Jumlah Kromosom Manusia
Kromosom adalah objek penelitian yang menantang karena ukurannya yang mikro dan warnanya yang sulit dibedakan dengan warna sel. Selain itu, setiap kromosom dalam sel bisa diibaratkan seperti spageti yang saling terikat, jadi sulit untuk membedakannya satu sama lain.
Sebelum Tjio, profesor asal Texas bernama Theophilus Painter telah lebih dahulu meneliti jumlah kromosom manusia pada tahun 1920-an. Painter mencoba memotong kromosom menjadi beberapa bagian.
Metode ini malah sebaliknya menyulitkan Painter untuk menentukan jumlah pasti. Painter akhirnya memutuskan bahwa manusia memiliki 48 kromosom. Angka ini kemudian diterima di kalangan ilmiah selama beberapa dekade.
Pada tanggal 22 Desember 1955, Levan mengambil libur natal sementara Tjio tetap bekerja di laboratorium. Tjio sedang memeriksa kromosom yang diambilnya dari inti sel embrio manusia ketika beliau menyadari suatu kejanggalan: hanya ada 46 kromosom di bawah mikroskopnya.
Setelah memeriksa lebih dari 250 sampel sel manusia lainnya, Tjio yakin bahwa manusia sebenarnya memiliki 46 kromosom.
Teknologi genetika sudah berkembang pesat saat itu. Tjio mengaplikasikan metode Levan yang menggunakan Kolkisin guna membekukan pembelahan sel. Cara inilah yang memungkinkan Tjio untuk menghitung jumlah kromosom secara akurat.
Tjio melaporkan hasil temuannya kepada Levan, dan mereka setuju untuk segera mempublikasikannya. Namun, perseteruan terjadi ketika Levan–yang posisinya lebih senior–meminta namanya dicantumkan pada urutan pertama sebagai author jurnal.
Tjio menolak permintaan tersebut karena Levan tidak terlibat secara langsung. Pada akhirnya, Tjio mendapatkan kredit lebih Levan pada jurnal Hereditas terbitan 26 Januari 1956.
Sumbangan Besar Untuk Ilmu Pengetahuan
Pengoreksian jumlah kromosom manusia berpengaruh besar terhadap perkembangan iptek dunia. Joe Hin Tjio membuka pintu penelitian kanker dan evolusi manusia. Metode yang digunakan Tjio dalam penemuannya juga digunakan di bidang kedokteran untuk mengidentifikasi penyebab kelainan genetik. Sindrom Down, misalnya, diakibatkan adanya kelebihan kromosom 21.
Pada tahun 1956, Tjio diajak oleh Hermann Muller, penerima Nobel bidang Fisiologi, untuk pindah ke Amerika Serikat. Laboratorium di sana tidak mengenal senioritas berlebihan seperti di Eropa.
Meskipun tergoda dengan prospek itu, Tjio awalnya menolak karena politik anti-komunisme ekstrim di AS. Muller terus membujuknya dan berhasil meyakinkan Tjio setahun setelahnya.
Tjio kemudian bekerja di University of Colorado dan National Institute of Health (NIH) di Maryland. Kali ini, beliau meneliti kanker dan dasar genetika dari gangguan mental. Pada tahun 1962, Tjio juga mendapat penghargaan dari Presiden John F. Kennedy berkat penelitiannya terhadap disabilitas intelektual.
Tjio tinggal di sebuah apartemen dekat NIH bersama istrinya, Inga, dan seorang anak laki-laki. Beliau pensiun pada tahun 1992 dengan gelar Scientist Emeritus, dan meninggal pada tanggal 27 November 2001 di usia ke-82.
Joe Hin Tjio lebih dari sekedar salah satu wajah Indonesia yang membanggakan dunia. Kegigihan beliau dalam dunia IPTEK juga menjadikannya sosok teladan terutama untuk para pelajar dan peneliti Indonesia.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


