Rumah adat Bali adalah bentuk potret bagaimana manusia memadukan kecintaan terhadap nilai budaya dan adat istiadat sembari menghidupkan harmoni arsitekturnya yang cantik. Masyarakat Bali tak sekadar mendirikan rumah, mereka mampu membuat kompleks hunian dengan tata ruang yang sarat makna.
Bali sendiri merupakan provinsi di Indonesia yang terkenal akan budayanya yang unik dan begitu lekat dalam keseharian penduduknya. Bahkan nilai budaya ini begitu dijunjung tinggi dan dijaga kelestariannya hingga kini, tak terkecuali melalui rumah adat Bali yang masih terjaga keasliannya serta keberadaannya sangat mudah ditemukan di seantero Pulau Dewata.
Artikel ini akan memandu Kawan GNFI menyelami bagaimana masyarakat Bali memadukan arsitektur, agama, dan hubungan dengan alam dalam satu kawasan. Penasaran dengan keunikan dan nilai-nilai yang terkandung pada rumah tradisional khas Bali? Mari kenali salah satu warisan budaya dari Bumi Pertiwi yang satu ini melalui ulasan berikut!
Apa itu Rumah Adat Bali?

Gambar Rumah Adat Bali yang Terdiri dari Kompleks Hunian Rumah, Pura, dan Bale | Laman Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Buleleng
Secara sederhana, rumah adat Bali adalah sebuah kompleks hunian khas masyarakat Bali yang setiap sudut arsitekturnya memiliki makna filosofis mendalam, salah satunya menganut konsep Tri Hita Karana.
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Buleleng menjelaskan bahwa rumah adat Bali merupakan sebuah kompleks, artinya ia tidak tersusun atas satu bangunan tunggal seperti konsep "rumah" yang kita kenal, melainkan terdiri dari rumah, pura (tempat suci umat Hindu), Banjar (balai pertemuan) dan bangunan lain yang terpisah atau tidak tergabung dalam satu atap.
Tata ruang rumah adat Bali didasarkan pada konsep Asta Kosala Kosali dalam kitab suci Weda. Mirip Fengshui dalam budaya Tionghoa, Pemerintah Buleleng memaparkan bahwa Asta Kosala Kosali adalah cara penataan lahan untuk tempat tinggal dan bangunan suci yang didasarkan pada anatomi tubuh si pemilik rumah.
Pengukurannya pun berpedoman pada tubuh si pemilik hunian, misalnya dengan berpatokan pada ukuran musti, hasta, dan depa.
Sejarah dan Perkembangan Rumah Adat Bali
Dikutip dari jurnal ilmiah Rumah Tradisional Bali (2016) oleh Ir. I Nyoman Sudiarta dan diterbitkan Universitas Udayana, dijelaskan bahwa rumah adat Bali berasal dari masa Bali Aga. Dalam jurnal yang sama juga dijelaskan bahwa arsitektur rumah adat Bali mengedepankan dan menggunakan konsep bangunan sebagai pertahanan perang.
Literatur lain seperti buku Arsitektur Tradisional Daerah Bali (1981) memang menyebutkan bahwa kelompok Bali Aga yang mengembangkan kebudayaan dan beberapa peninggalannya masih bisa dilihat di beberapa daerah di Pulau Bali. Kelompok Bali Mula tidak banyak meninggalkan peninggalan kebudayaan karena kayu dan bebatuan yang dipakai untuk arsitektur kurang tahan terhadap iklim tropis.
Sebagai tambahan insight, jauh sebelum berkembang seperti hari ini, penduduk Bali awal yang tinggal di pulau tersebut disebut kelompok Bali Mula. Para imigran India yang kemudian masuk Indonesia dan sebagian menetap di Bali dianggap sebagai penduduk Bali Aga atau Bali Pengunungan.
Pada abad ke-14, Bali dikuasai Majapahit dan penduduk Majapahit masuk ke Bali. Mereka disebut Arya atau Bali Arya. Perang Puputan Badung yang terjadi pada tahun 1906 menjadi penanda meleburnya kelompok-kelompok tersebut sebagai penduduk asli Bali dengan kebudayaan dan arsitekturnya yang khas.
Buku itu juga menceritakan bahwa sebelum hadirnya sosok Empu Kuturan, sosok Mahapatih Kerajaan Bedaulu bernama Kebo Iwa menjadi arsitek besar pada masa Bali Aga yang meninggalkan warisan kebudayaan, salah satunya konsep Bale Agung yang lestari menjadi bagian dari konsep Kahyangan Tiga di setiap desa adat Pulau Dewata.
Adapun tokoh yang memegang peranan penting dalam pengembangan rumah adat Bali adalah Empu Kuturan. Seorang budayawan, ahli teori arsitektur, sekaligus penasihat Anak Wungsu yang memerintah Bali sekitar abad ke-11.
Empu Kuturan juga adalah sosok di balik hadirnya tata pola desa adat berpedoman pada konsep Tri Hita Karana, Khayangan Tiga, Sanggah Kemulan Rong Telu, dan beragam kebudayaan upacara keagamaan lain.
Setelah para Arya berkuasa pada abad ke-14, Dahyang Nirartha menjadi budayawan dan arsitek yang menurunkan konsep-konsep arsitektur, agama, dan pembaharuan, di antaranya konsep Padmasana dan Tritayatra.
Setelah Kerajaan Waturenggong melakukan penyebaran di delapan penjuru kabupaten di Bali, arsitektur dikembangkan oleh para Undagi (arsitek tradisional) tanpa menokohkan satu sosok saja. Mereka menggunakan pedoman arsitektur teori-teori Kebu Iwa, Empu Kuturan, dan Dahyang Nirartha.
Filosofi yang Mendasari Rumah Adat Bali
Seperti yang sudah disinggung, rumah adat Bali dibangun sesuai dengan aturan Asta Kosala Kosali yaitu bagian dari kitab agama Hindu yaitu Weda yang khusus mengatur mengenai tata letak ruang dan bangunan.
Aturan ini mirip dengan aturan Feng Shui yang digunakan oleh etnis Tionghoa yang mana arah dan sudut merupakan aspek yang sangat penting dalam pembangunan suatu rumah.

Sejarah rumah adat Bali -freepik
Dengan demikian, arah dibangunnya rumah adat Bali begitu diperhitungkan. Untuk bangunan yang dianggap keramat atau suci seperti Pura harus dibangun menghadap ke gunung dan disebut dengan istilah Kaja. Sementara untuk bangunan biasa dibangun menghadap ke laut dan disebut dengan istilah Kelod.
Rumah adat Bali juga menerapkan aspek keharmonisan berkehidupan atau yang disebut dengan Tri Hita Karana. Laman Pemerintah Bali menyebut Tri Hita Karana adalah salah satu filosofi agama Hindu yang mengandung makna hubungan harmonis antara pawongan (manusia), palemahan (alam atau lingkungan), dan parahyangan (Tuhan) yang dibutuhkan guna mewujudkan kedinamisan dalam hidup.
Pawongan sendiri memiliki makna para penghuni rumah, sedangkan palemahan memiliki makna harus adanya hubungan yang baik dan harmonis antara penghuni rumah dengan alam atau lingkungan serta parahyangan yang bermakna hubungan yang seimbang antara manusia dan Tuhan yang Maha Esa.
Selain itu, ada juga konsep Tri Semaya yang menggambarkan kesadaran dengan perjalanan waktu atau hubungan antara masa yang telah lalu, masa kini, dan masa yang akan depan.
Fungsi Rumah Adat Bali dalam Kehidupan Masyarakat
Rumah adat Bali terdiri dari kompleks bangunan yang ditujukan untuk beragam fungsi. Dikutip dari buku Arsitektur Tradisional Daerah Bali, fungsi pertama yang mirip dengan rumah yang kita kenal, adalah untuk rumah tinggal serta pusat kegiatan keluarga sesuai peranannya.
Hanya saja, nama bangunan rumah tinggal untuk masyarakat Bali disesuaikan dengan kasta, ukurannya pun menyesuaikan keperluan si pemilik rumah. Untuk Kasta Brahmana misalnya, tempat tinggalnya disebut Geria.
Di dalam kompleks rumah adat Bali biasanya juga terdapat pura yang disebut Sanggah atau Pamerajan yang difungsikan sebagai pusat kegiatan ibadah dari satu rumah tangga kecil hingga satu keluarga besar.
Selanjutnya, terdapat pula bangunan Bale Dauh yang terletak di sisi barat rumah dan berfungsi sebagai ruang serbaguna. Laman Visit Indonesia menjelaskan bahwa bangunan ini kerap dijadikan ruangan untuk menerima tamu, istirahat, hingga menggelar acara adat.
Bagian-Bagian Rumah Adat Bali dan Fungsinya
Rumah adat Bali terdiri dari beberapa macam bangunan yang ditempatkan pada satu kompleks sehingga membentuk suatu harmoni.
Bangunan tersebut terbagi menjadi Angkul-angkul dan Aling-aling di area masuk, area ibadah berupa Pura/Sanggah keluarga, area hunian berupa Bale Manten/Bale Daja dan Bale Sekapat, area menerima tamu hingga tempat upacara adat terdiri dari Bale Dauh dan Bale Gede. Ada juga area dapur yang disebut Pawaregan dan area penyimpanan berupa Jineng serta Lumbung.
Berikut beberapa bangunan tradisional yang terdapat pada kompleks rumah adat Bali.
Angkul-angkul
Angkul-angkul merupakan bangunan semacam gapura yang menjadi pintu masuk ke pekarangan rumah adat Bali. Angkul-angkul sering disamakan dengan Gapura Candi Bentar karena memiliki fungsi yang sama sebagai pintu masuk.

Unsplash
Namun, terdapat perbedaan mendasar di antara keduanya, yaitu Gapura Candi Bentar tak beratap, sedangkan Angkul-angkul memiliki atap yang posisinya sejajar.
Aling-aling
Aling-aling dalam bahasa Indonesia memiliki makna “pembatas”. Aling-aling merupakan area yang menjadi pembatas antara Angkul-angkul dan pekarangan rumah ataupun tempat suci yang berfungsi sebagai penghalang aura negatif agar tidak masuk ke pekarangan rumah ataupun tempat suci tersebut.
Pada bagian Aling-aling umumnya terdapat tembok pembatas yang rendah( penyengker ) dengan arca di bagian depannya.
Pura Keluarga
Sebagian besar masyarakat Bali diketahui menganut kepercayaan Hindu. Oleh karenanya Pura Keluarga merupakan salah satu bangunan yang terdapat hampir di seluruh rumah adat Bali.
Bangunan ini terletak di sebelah timur laut dari rumah hunian dan diposisikan di sudut. Bangunan ini disebut juga dengan pamerajaan atau sanggah yang digunakan sebagai tempat beribadah dan berdoa.
Bale Manten atau Bale Daja
Bale Manten atau Bale Daja merupakan bangunan yang menjadi bagian inti dari rumah adat Bali yang digunakan sebagai tempat tidur kepala keluarga atau anak gadis yang belum menikah.
Bangunan Bale Manten berbentuk persegi panjang dan dilengkapi dengan bale-bale di sisi kanan dan kirinya. Bale Manten terletak di sebelah utara dan memiliki lantai yang lebih tinggi dibandingkan Bale Dauh.
Bale Sekapat
Bale Sekapat merupakan bangunan menyerupai gazebo dengan empat buah tiang dan bentuk atap seperti pelana. Bale Sekapat digunakan sebagai tempat anggota keluarga untuk bersantai dan bercengkerama sehingga akan menumbuhkan hubungan yang lebih harmonis.

Gambar Bale Sekapat, Bagian Kompleks Rumah Adat Bali | Unsplash @Artem Beliaikin
Bale Dauh
Bale Dauh merupakan bangunan yang dengan konsep terbuka yang digunakan sebagai tempat orang Bali menerima tamu. Bale Dauh terletak di sisi barat dan memiliki bentuk persegi panjang dengan disertai banyak tiang penyangga yang mana jumlah tiangnya berbeda-beda antar satu rumah dengan rumah yang lainnya.
Di dalam ruangan Bale Dauh terdapat semacam bale sehingga ruang ini juga dapat difungsikan sebagai tempat tidur remaja laki-laki.
Bale Gede
Bale Gede merupakan bangunan terbesar di antara bangunan lain pada komponen rumah adat Bali. Bale Gede memiliki desain yang mewah dan digunakan sebagai tempat upacara adat baik bagi keluarga hingga masyarakat sekitar.
Pawaregan
Pawaregan diambil dari kata wareg yang bermakna “kenyang”. Pawaregan sendiri merupakan sebutan untuk ruang dapur pada rumah adat Bali. Pawaregan memiliki posisi di sebelah barat laut atau selatan dari bangunan rumah utama.
Pawaregan dibagi menjadi dua area yaitu salah satunya untuk memasak dan satu area lainnya untuk menyimpan peralatan dapur.
Jineng / Klumpu
Jineng atau Klumpu merupakan bangunan berukuran sedang berbahan dasar kayu yang dirancang menyerupai gua dan memiliki atap dari jerami kering serta diposisikan lebih tinggi mirip rumah panggung.
Jineng digunakan untuk menyimpan gabah kering agar tidak dimakan burung dan terhindar dari serangan jamur. Sedangkan di bagian bawah atau kolongnya digunakan untuk menyimpan gabah yang belum dijemur.
Lumbung
Bangunan terakhir pada kompleks rumah adat Bali yaitu lumbung. Lumbung merupakan bangunan kecil yang digunakan untuk menyimpan bahan makanan seperti padi dan jagung.

Unsplash
Terbagi menjadi beberapa bangunan yang ditempatkan secara harmonis pada satu kompleks membuat rumah adat Bali memiliki keunikan dan ciri khas tersendiri.
Ragam Ornamen Penuh Makna di Rumah Adat Bali
Rumah adat Bali memang begitu menonjolkan sisi budaya hingga kepercayaan penduduk setempat. Salah satunya melalui ornamen atau ukiran khas yang terdapat pada sisi-sisi bangunan.
Ornamen pada rumah adat Bali pun juga sarat akan filosofi dimana menggambarkan kehidupan yang ada di bumi antar makhluk hidup yaitu manusia, hewan, dan tumbuhan.
Ornamen pada rumah adat ini begitu beragam dan dikelompokkan ke dalam tiga jenis.
1. Keketusan
Pada rumah adat Bali, ornamen keketusan umumnya terdapat pada sisi bangunan dengan permukaan atau bidang yang luas.
Keketusan berisi motif flora yang mana mengambil salah satu bagian penting dari tumbuhan dan dibentuk dengan pola berulang. Keketusan terbagi ke dalam berbagai jenis seperti keketusan wangsa, bunga tuwung, bun-bun dan masih banyak lagi.
Ornamen keketusan mengandung filosofi tercapainya kesejahteraan hidup. Ornamen ini diharapkan dapat mengikat hal-hal positif guna mewujudkan hidup rukun, kedamaian, kecukupan dan kesejahteraan di dunia hingga ke akhirat.
2. Kekarangan
Ornamen kekarangan merupakan perpaduan ornamen flora dan fauna. Kekarangan biasanya terdapat di sudut atau bagian tengah dari bangunan baik itu rumah adat atau bangunan suci.
Bentuk dasar dari ornamen kekarangan umumnya berupa fauna khayalan yang berbentuk abstrak dan dikombinasikan dengan ornamen flora.
Beberapa ornamen kekarangan yang paling khas dan cukup dikenal yaitu karang Hasti, Karang Sai, dan Karang Celeng.
Ornamen kekarangan pada umumnya melambangkan kekokohan serta kuasa Tuhan yang Maha Esa yang tak dapat ditandingi oleh siapa pun.
3. Pepatraan
Ornamen pepatraan merupakan ornamen flora yang biasanya terdapat pada permukaan yang sempit seperti tiang dan motifnya disusun secara memanjang.
Layaknya tumbuhan yang teduh dan menjadi salah satu sumber kehidupan, ornamen pepatraan mengandung makna filosofis agar orang-orang yang tinggal di rumah dengan berhiaskan ornamen ini dapat hidup dengan nyaman. Serta terlindungi dari rasa takut, panas, haus, dan lain sebagainya.
Rumah Adat Bali di Era Modern
Arsitektur Bali di era modern berkembang menyesuaikan diri dengan kebutuhan masyarakat dan menggabungkan seni arsitektur masa lalu dengan desain arsitektur modern di masa kini.
Penelitian Diputra dan Maulana (2026) menyebut bahwa nilai-nilai lokal Tri Hita Karana, Tri Mandala, dan aturan adat dalam penataan ruang masih diterapkan pada rumah-rumah modern di masa kini.
Terdapat inovasi mulai dari bentuk, material, hingga fleksibilitas ruang. Namun, inovasi ini dilebur bersama dengan konsep lokal, misalnya menggabungkan material beton ekspos, baja, dan kaca dengan bahan lokal seperti batu alam, kayu jati, bambu, dan atap alang-alang untuk menciptakan "tone Bali".
Arsitektur rumah dan villa juga berkembang dari segi desain, tetapi tetap berusaha menganut nilai-nilai Tri Hita Karana yang menjunjung tinggi harmoni dengan alam. Aksi nyatanya bisa dilihat dari tren green building, prinsip keberlanjutan yang dianut beragam bangunan ini.
Lebih dari sekadar rumah, rumah adat Bali lebih cocok disebut sebagai mahakarya yang memiliki nilai estetika yang tinggi dan mengandung filosofi kehidupan yang mendalam serta membawa harapan baik bagi setiap penghuninya.
Sumber:
https://id.wikipedia.org/wiki/Bali
https://www.gramedia.com/literasi/mengenal-rumah-adat-bali/amp/
https://www.bernas.id/2021/04/13508/79486-rumah-adat-bali-ciri-khas-sejarah-dan-filosofi/
https://blog.atourin.com//news/rumah-adat-suku-bali/
https://www.detik.com/bali/budaya/d-6378920/10-nama-rumah-adat-bali-keunikan-dan-ciri-khasnya/amp
https://student-activity.binus.ac.id/himdi/2021/04/15/ornamen-pada-bangunan-bali-2/
https://www.rumah.com/panduan-properti/mengenal-rumah-adat-bali-untuk-inspirasi-hunian-anda-13512
https://idea.grid.id/amp/092293738/menilik-pengaturan-tata-letak-angkul-angkul-jangan-sembarang-letakan
https://simdos.unud.ac.id/uploads/file_penelitian_1_dir/92d0addc0b3e1bbf82d65d2d8cd8c4ad.pdf
https://www.indonesia.travel/id/id/travel-ideas/culture/bale-dauh
https://share.google/Q5tsxo2fefCsfgcks
https://tarubali.baliprov.go.id/makna-dan-nilai-filosofis-tata-ruang-bangunan-tradisional-bali-dalam-teks-asta-kosala-kosali/
https://disbudpar.bulelengkab.go.id/informasi/detail/artikel/37-keunikan-rumah-di-bali
https://repositori.kemenbud.go.id/id/eprint/3360/2/ARSITEKTUR%20TRADISIONAL%20DAERAH%20BALI.pdf
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


