kain tapis khas pekon lugusari - News | Good News From Indonesia 2022

Kerajinan Kain Tapis Warisan Tradisi Provinsi Lampung khas Pekon Lugusari

Kerajinan Kain Tapis Warisan Tradisi Provinsi Lampung khas Pekon Lugusari
images info

Dokumentasi Pribadi


#WritingChallengeKawanGNFI #CeritadariKawan #NegeriKolaborasi
#MakinTahuIndonesia

Negara yang kawan GNFI sekalian jadikan tempat tinggal adalah sebuah negara yang tersusun atas kepulauan dengan beraneka ragam suku bangsa, dengan kekayaan tradisi dan budaya unik yang khas, dan diturunkan kepada para pewaris-pewaris yang memiliki kekhasan tersebut hingga sampai pada masa sekarang.

Apa saja hal tersebut? Ada kerajinan, pakaian adat, alat musik, upacara adat, cerita, ritual, tari-tarian, dan budaya lain yang seiring waktu juga kian berkembang. Keberadaan berbagai tradisi dan budaya yang berbeda di setiap daerahnya, tidak menjadi penghalang bagi bangsa Indonesia untuk tetap bersatu, bahkan dapat dijadikan sebagai pengikat dan pemersatu bangsa.

Mengenai lingkup warisan tradisi dan budaya, suatu daerah akan mudah dikenali dengan keunikan tradisi dan budayanya yang selalu berkembang. Salah satu daerah yang memiliki tradisi dan budaya unik yang selalu berkembang adalah Provinsi Lampung dengan Kain Tapis nya. Kain Tapis memiliki keunikan dalam proses pembuatan dan juga motif-motifnya.

Kain Tapis merupakan jenis tenunan yang semula berfungsi sebagai kain penutup atau sarung yang dipakai pada saat upacara adat atau perkawinan suku adat Lampung. Salah satu Kabupaten di Provinsi Lampung yang memproduksi Kain Tapis yaitu Kabupaten Pringsewu, tepatnya berada di Pekon Lugusari, Pagelaran.

Mayoritas penduduknya selain berprofesi sebagai petani, juga merupakan pengrajin binaan Kain Tapis. Mereka merupakan pengrajin upahan yang dibayar setelah menyelesaikan pembuatan Kain Tapis.

Kain Tapis yang masih polos dapat dibeli di toko tertentu, kemudian dengan mengikuti pola kain yang telah tersedia, dirajut atau disulam dengan motif dan corak yang sangat beragam. Ide untuk motif dan corak tersebut dapat muncul dari seorang pengrajin kain tapis yang mampu mengeksplor gambar yang ia bayangkan atau ia temukan di sekitar tempat tinggalnya.

Bahkan pada saat sekarang motif dan corak tersebut tidak hanya diterapkan pada kain, namun sudah berkembang karena dapat diterapkan pada kerajinan lain, misalnya tas, hiasan dinding, sepatu, dompet, dan peci. Kerajinan tersebut dikenal sebagai tapis versi modern.

baca juga

Perlu kawan GNFI ketahui menurut Inilampung bahwa terdapat dua kelompok Tapis yang diproduksi di Kabupaten Pringsewu yaitu Tapis Abung dan Tapis Krui. Tapis Abung biasa diproduksi di wilayah Gading Rejo dan Gedong Tataan. Tapis yang diproduksi di Pekon Lugusari, menggunakan jenis Tapis Krui, antara lain motif Mata Kibau, Kibau Melati, Pucuk Rebung, dan Gunung Tongkat.

Menurut Fitinline, sebagian bentuk dari motif tersebut sesuai dengan nama motifnya. Sebagai contoh motif Kibau Melati karena terdapat motif bunga melati di dalamnya. Begitu pula dengan Gunung Tongkat dan Pucuk Rebung. Semua motif tersebut memiliki keunikan dan kekhasan masing-masing.

Dalam motif Kain Tapis, ada juga yang diberi kaca tipis di tengah motifnya. Menurut tradisi suku Lampung, kaca ini memiliki makna agar setiap orang banyak bercermin untuk mengoreksi diri demi kebajikan yang akan datang sehingga dapat menjadi teladan di masyarakat.

Mengenai kualitas dan harga kain tapis juga beragam, tergantung kelas dan motif, keindahannya serta tingkat kerumitan dan kesulitan dalam proses pembuatannya. Kain Tapis ditawarkan dengan harga berkisar enam ratus ribu rupiah hingga satu juta lima ratus ribu rupiah untuk satu pasang. Terdiri dari kain tapis dan selendang untuk wanita, serta kain tapis dan peci untuk pria.

Sedangkan untuk tapis modern misalnya tas diberi harga sekitar dua ratus lima puluh ribu hingga lima ratus ribu rupiah. Untuk hiasan dinding, biasa diberi harga seratus lima puluh ribu rupiah hingga empat ratus ribu rupiah. Motif hiasan dinding juga beragam, terdiri dari ayat kursi, Lafaz Allah dan Muhammad, gajah menarik kereta, dan juga model Petruk.

Proses pembuatan atau pengerjaan kain tapis di Pekon Lugusari ini tidak bisa ditentukan lama waktunya. Hal ini dikarenakan pekerjaan sebagai pengrajin kain tapis bukanlah pekerjaan utama, namun hanya sebagai pekerjaan sampingan untuk mengisi waktu luang. Sehingga proses pengerjaannya pun bisa sampai berbulan-bulan, tergantung pada waktu yang telah disepakati dengan konsumen.

baca juga

Setelah proses pembuatan Kain Tapis selesai, para pengrajin mengumpulkan hasil sulaman kainnya kepada ketua binaan atau distributor/pemilik showroom. Para pengrajin mendapatkan bayaran sekitar tiga ratus ribu hingga enam ratus ribu rupiah. Setelah itu, distributor akan mengirimkan kain tapis tersebut ke pusat pengelola kain tapis yaitu di Bandar Lampung.

Alat dan bahan, serta proses pengerjaan Kain Tapis adalah sebagai berikut: Alat yang digunakan yaitu pembidang, gunting, jarum, paku payung, penggaris dan spidol berwarna putih. Spidol berwarna putih digunakan untuk menggambar pola awal pada kain, sebelum kain itu disulam.

Bahan yang diperlukan antara lain kain, benang emas atau benang perak, benang jahit, manik-manik, dan kaca tipis. Proses pembuatan Kain Tapis diawali dengan menggambar pola secara manual langsung pada kain menggunakan spidol berwarna putih. Untuk bagian motif yang merupakan pola bergaris, dapat menggunakan penggaris sebagai alat bantu agar garis yang dihasilkan lurus dan rapi.

Setelah pola selesai dibuat, tempatkan ujung kain pada pembidang, lalu rekatkan dengan menggunakan paku payung. Pastikan agar kain tersebut merekat pada pembidang dengan kuat. Lalu, mulailah menyulamnya dengan menggunakan benang jahit dan juga benang emas atau perak mengikuti pola yang telah tersedia.

Bisa juga menambahkan hiasan seperti manik-manik dan juga kaca tipis pada pola tersebut. Jika semua pola telah terisi dengan benang emas atau perak, lepaskan paku payung pada pembidang. Kain tapis siap dipasarkan atau didistribusikan untuk digunakan.

Demikianlah uraian secara detail mengenai kerajinan Kain Tapis khas Pekon Lugusari. Kain Tapis yang diproduksi di daerah ini, terjamin bagi para konsumen. Hal ini dikarenakan kualitas kain yang bagus, motifnya yang unik serta harganya terjangkau. Waktu untuk pemesanan dan pengerjaannya pun dapat disepakati, namun memang tidak bisa cepat, dikarenakan prosesnya yang panjang dan rumit.

baca juga

Dari uraian dan paparan di atas dapat disimpulkan bahwa dalam proses produksi atau pembuatan Kain Tapis, diperlukan keterampilan dan juga konsentrasi yang tinggi agar dapat menghasilkan kain yang indah. Oleh sebab itu, sebagai generasi penerus bangsa, hendaknya kita bersama-sama melestarikan tradisi dan budaya yang ada di daerah masing-masing.

Sebagai langkah awal adalah kita mulai mempelajari dan mencari sumber informasi dari orang-orang yang tepat, kemudian kita melestarikan dengan cara mempromosikan dan juga memilih menggunakan produk-produk daerah tersebut. Dengan demikian, tradisi dan budaya yang ada di daerah terdekat kita dapat terus berlangsung dan berkembang kearah yang semakin baik sehingga tidak akan pernah musnah.

Referensi: Fitinline | Inilampung

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

ND
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.