tidak hanya hewan rumah khas suku arfak pun berkaki seribu - News | Good News From Indonesia 2019

Rumah Kaki Seribu, Rumah Adat Suku Arfak yang Berdiri di Atas Ratusan Tiang

Rumah Kaki Seribu, Rumah Adat Suku Arfak yang Berdiri di Atas Ratusan Tiang
images info

Rumah Kaki Seribu, Rumah Adat Suku Arfak yang Berdiri di Atas Ratusan Tiang | Foto: (Wikipedia Commons | RaiyaniM)


Rumah Kaki Seribu merupakan salah satu rumah adat unik di Indonesia. Rumah tradisional milik Suku Arfak ini dikenal karena berdiri di atas puluhan hingga ratusan tiang kayu yang tersusun rapat sehingga tampak seolah memiliki banyak kaki.

Keunikan tersebut bukan sekadar menjadi ciri khas arsitektur, tetapi juga merupakan bentuk adaptasi masyarakat Arfak terhadap kondisi alam pegunungan. Hingga kini, Rumah Kaki Seribu masih menjadi simbol budaya sekaligus warisan leluhur yang mencerminkan kearifan lokal masyarakat Papua Barat.

Apa Itu Rumah Kaki Seribu?

Rumah Kaki Seribu adalah rumah adat milik Suku Arfak yang berasal dari Pegunungan Arfak, Kabupaten Manokwari, Papua Barat. 

Dalam masyarakat Arfak, rumah ini dikenal dengan nama Mod Aki Aksa atau Igkojei. Sebutan "Rumah Kaki Seribu" muncul karena bangunan ini ditopang oleh puluhan hingga ratusan tiang kayu yang tersusun rapat, bukan karena jumlah tiangnya benar-benar mencapai seribu. 

baca juga

Sejarah Rumah Kaki Seribu

Rumah Kaki Seribu telah digunakan secara turun-temurun oleh masyarakat Suku Arfak yang mendiami wilayah Pegunungan Arfak. Rumah ini dibangun sebagai bentuk adaptasi terhadap kondisi alam pegunungan yang memiliki udara dingin, curah hujan tinggi, dan kontur tanah yang tidak rata.

Sebutan "Rumah Kaki Seribu" bukan berarti bangunan ini benar-benar memiliki seribu tiang. Nama tersebut muncul karena jumlah tiang penyangganya sangat banyak dan tersusun rapat di bagian bawah rumah sehingga menyerupai kaki seribu. Sementara itu, Mod Aki Aksa merupakan sebutan dalam bahasa masyarakat Arfak untuk rumah adat tersebut.

Keunikan Arsitektur Rumah Kaki Seribu

Rumah Kaki Seribu berbentuk rumah panggung dengan tinggi sekitar 4–5 meter. Bagian bawahnya disangga oleh banyak tiang kayu berdiameter sekitar 10 sentimeter yang dipasang rapat sebagai penopang utama bangunan.

Seluruh bagian rumah dibuat menggunakan bahan-bahan alami. Atapnya menggunakan ilalang, lantainya terbuat dari anyaman rotan atau bambu, sedangkan dindingnya dibuat dari susunan kayu yang diikat tanpa banyak menggunakan paku. Teknik penyambungan tersebut membuat bangunan tetap kokoh sekaligus lebih lentur saat menghadapi kondisi alam.

Tata ruang rumah dibuat sederhana untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Di dalamnya terdapat ruang berkumpul, tempat beristirahat, serta area untuk menyimpan perlengkapan sehari-hari.

Mengapa Rumah Kaki Seribu Tidak Memiliki Jendela?

Salah satu ciri khas Rumah Kaki Seribu adalah tidak memiliki jendela dan hanya memiliki sedikit bukaan. Desain ini merupakan bentuk penyesuaian terhadap lingkungan Pegunungan Arfak.

Dinding yang tertutup membantu mengurangi angin dingin yang masuk ke dalam rumah sekaligus melindungi penghuni dari hujan dan cuaca ekstrem. Selain itu, minimnya bukaan juga memberikan perlindungan lebih baik dari gangguan hewan liar dan ancaman keamanan pada masa lalu ketika konflik antarkelompok masih sering terjadi.

Fungsi Rumah Kaki Seribu

Rumah Kaki Seribu tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal, tetapi juga menjadi pusat kehidupan keluarga Suku Arfak. Di dalam rumah inilah anggota keluarga berkumpul, beristirahat, dan menjalankan berbagai aktivitas bersama.

Struktur rumah panggung yang tinggi juga menjadi bentuk adaptasi terhadap kondisi pegunungan. Banyaknya tiang membuat bangunan lebih stabil di atas tanah yang tidak rata, sementara posisi rumah yang tinggi membantu melindungi penghuni dari hewan liar dan memudahkan pengawasan terhadap lingkungan sekitar.

Selain itu, Rumah Kaki Seribu menjadi simbol identitas budaya masyarakat Arfak yang mencerminkan cara hidup mereka yang selaras dengan alam.

baca juga

Filosofi Rumah Kaki Seribu

Rumah Kaki Seribu mengandung nilai budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi. Penggunaan kayu, rotan, bambu, dan ilalang menunjukkan kedekatan masyarakat Arfak dengan alam serta pemanfaatan sumber daya secara bijaksana.

Proses pembangunannya dilakukan secara gotong royong sehingga memperkuat kebersamaan antarwarga. Bagi masyarakat Arfak, rumah bukan sekadar tempat berlindung, tetapi juga pusat kehidupan keluarga, tempat menjaga tradisi, dan simbol persatuan.

Saat ini, Rumah Kaki Seribu mulai jarang dijumpai karena pengaruh modernisasi dan perubahan pola permukiman. Meski demikian, rumah adat ini masih dapat ditemukan di beberapa wilayah Pegunungan Arfak.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

A.
AA
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.