Saya tak akan pernah melupakan momen sederhana ini, tahun 2011. Saya baru selesai bicara di depan mahasiswa baru sebuah kampus besar di Jawa Timur, ketika seorang dosen menghampiri saya dengan segelas air putih.
"Saya tak mengerti," katanya, "mengapa mas Arry (nama panggilan saya) begitu optimis soal Indonesia. Saya sendiri sudah lama kehilangan harapan."
Saya tidak marah. Saya tidak juga terkejut sepenuhnya. Tapi ada yang mengganjal; bukan karena dia seorang pengajar, tapi karena di baliknya ada ribuan mahasiswa yang bisa saja menyerap cara pandang yang sama. Kehilangan harapan itu menular, sama seperti harapan itu sendiri. Bedanya, yang satu jauh lebih mudah menyebar.
"Nggak capek, Mas?" tanyanya sambil tersenyum tipis.
"Jalan ini rasanya memang sepi, Pak," jawab saya.
Beberapa bulan kemudian, di Yogyakarta; kampung halaman saya, hal serupa terjadi. Di depan sekitar 200 mahasiswa, seorang dari mereka angkat suara: "Sudahlah. Kita terima saja bahwa Indonesia ini negara yang gagal. Auto-pilot." Tepuk tangan sebagian ruangan menyusul. Bukan tepuk tangan antusias, tapi tepuk tangan orang-orang yang lelah, yang merasa ungkapan itu akhirnya diucapkan keras-keras.
Saat itu, menjadi optimis soal Indonesia terasa seperti sesuatu yang perlu dimaafkan.Dan...sepi.
Saya memilih tetap di jalan itu, meski sepi. Bukan karena saya tidak melihat masalah; saya melihatnya. Korupsi nyata. Kesenjangan nyata. Birokrasi yang melelahkan, nyata. Tapi saya juga melihat hal lain yang jarang masuk berita: saya melihat, bahkan kadang bertemu dengan anak-anak muda yang tak henti berinovasi meski dengan segala keterbatasan, yang tetap bereksperimen, yang gagal lalu mencoba lagi. Potensi yang mungkin tak ramai dibicarakan oorang.
---
Sebenarnya, yang saya khawatirkan bukan tentang banyaknya kekurangan Indonesia. Yang saya khawatirkan adalah jika kita, terutama yang muda, berhenti percaya bahwa ada gunanya berbuat sesuatu untuk kebaikan dan perbaikan bangsa.
George Akerlof dan Robert Shiller (keduanya peraih Nobel Ekonomi) menulis dalam buku Animal Spirits (2009) bahwa yang paling menentukan nasib sebuah ekonomi bukan hanya modal atau kebijakan, tapi confidence: kepercayaan kolektif bahwa masa depan layak untuk dibangun. Pesimisme bukan sekadar kesedihan. Ia adalah keyakinan fungsional bahwa usaha sekuat apapun tidak akan mengubah apapun. Bahaya, kan? Dan keyakinan itu, ketika menyebar, bekerja seperti virus, ia melemahkan sebelum kehancuran nyata itu sendiri datang.
Sebuah bangsa yang berhenti percaya pada masa depannya, akan berhenti membangunnya. Bukan karena tidak punya sumber daya. Bukan karena tidak berdaya, tapi karena yang paling dulu pergi, ketika pesimisme menang, adalah the will to try, keinginan untuk mencoba. Dan ketika anak-anak muda yang seharusnya menjadi arsitek masa depan sudah menyerah bahkan sebelum mulai membangun, itulah yang sesungguhnya berbahaya. Dan itu sangat mengkhawatirkan saya.
---
Tahun 2013. Jam 5 pagi, handphone saya berbunyi berkali-kali dari nomor yang tidak saya kenal. Saya tak sempat angkat. Ketika saya telepon balik, ternyata itu dosen yang sama dari Jawa Timur itu.
"Mas, jam 10 nanti ada kuliah umum di kampus saya. Ada pak menteri. Tolong datang."
Saya tidak sempat menjawab sebelum dia menyambung: "Harus ya, Mas. Mahasiswa perlu mendengar yang biasa panjenegan sampaikan."
Saya batalkan aktifitas lain hari itu. Ada pak menteri, katanya.
Ketika tiba, suasana kampus berbeda dari yang saya bayangkan. Di beberapa ruang diskusi, mahasiswa baru; yang baru beberapa minggu lulus SMA, sedang mendebat topik yang tidak sederhana: potensi Indonesia vis-à-vis hambatannya. Bukan debat yang naif, dari saya saya liat. Ada kejernihan di sana, dan ada sesuatu yang lebih dari itu, ada kemarahan yang sudah berubah menjadi pertanyaan, bukan keputusasaan.
Di satu sudut, seorang mahasiswi berkata sesuatu yang membuat saya diam sejenak: "Kita tidak banyak tahu tentang Indonesia yang sebenarnya. Yang banyak masuk ke kita adalah yang buruk-buruk. Mungkin itu ya, yang membuat banyak dari kita apatis."
---
Saya menyadari sesuatu waktu itu, saya terlambat memperhatikan bahwa sesuatu sudah bergeser di luar sana, perlahan tapi nyata. Dan saya, yang selama ini merasa berjalan sendiri, rupanya tidak pernah benar-benar sendirian. Saya hanya belum melihat yang lain.
Good News From Indonesia, yang bermula dari tulisan-tulisan kecil tentang pengalaman saya di Kepulauan Solomon, kini punya dua program di televisi nasional. Redaksinya diisi puluhan anak muda yang bekerja bukan karena dibayar besar, tapi karena mereka percaya ada yang perlu diceritakan berbeda.
Suatu hari saya bertemu seorang pemuda dari Bontang. Dia membangun gerakan lokal bernama Bontang Bisa, dengan tagline sederhana: Deliver Optimism. Gerakannya sudah menyentuh berbagai lapisan masyarakat di kotanya. Ketika saya tanya apa yang memulai semua itu, jawabannya singkat:
"Satu tweet GNFI tentang Bontang, beberapa tahun lalu."
Saya tidak tahu harus berkata apa. Ada rasa yang sulit diberi nama; bukan bangga, tapi lebih dalam dari itu. Semacam kesadaran bahwa hal-hal kecil yang kita lakukan dengan tulus, kadang terus berjalan jauh setelah kita melupakannya.
Mungkin memang begitu cara kerja hal-hal kecil, kita tidak tahu ke mana mereka pergi setelah kita lepaskan.
Petang tadi, menjelang malam terakhir 2015, masuk pesan singkat dari dosen Jawa Timur waktu itu. Saya baca dua kali. Lalu saya simpan.
"Mas Arry, selamat tahun baru 2016. Semoga tetap istiqomah di jalan yang mas tempuh. Jalan mas Arry kini tak lagi sepi."
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


