Penemuan 4.000 artefak di pembangunan MRT fase 2A menjadi bukti sejarah penting yang mengungkap dinamika kehidupan masyarakat serta jalur perdagangan masa lalu di ibu kota. Ribuan benda bersejarah tersebut berhasil ditemukan secara bertahap oleh tim arkeolog di sepanjang koridor proyek pembangunan jalur MRT Jakarta dari rute Bundaran Hotel Indonesia (Bundaran HI) hingga Kota.
Keberadaan cagar budaya ini memberikan wawasan baru mengenai perkembangan ruang perkotaan Jakarta dari masa ke masa. Artefak-artefak yang ditemukan diserahkan ke Dinas Kebudayaan DKI Jakarta.
Berbagai struktur unik dan pecahan cagar budaya berhasil diidentifikasi, mulai dari fragmen keramik kuno hingga fondasi kayu cerucuk. Penemuan ini semakin memperkuat bukti kuat adanya jaringan perdagangan global pada zaman dahulu yang menghubungkan Indonesia dengan berbagai negara sahabat, seperti Jepang, China, Vietnam, Thailand, hingga Kamboja.
Sebagai bentuk apresiasi kebudayaan, sebanyak 200 objek pilihan dari penemuan 4.000 artefak di pembangunan MRT fase 2A tersebut sempat diboyong untuk dipamerkan secara khusus di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Tokyo, Jepang. Pameran ini sekaligus menegaskan eratnya kolaborasi teknik dan budaya dalam proyek strategis nasional yang sedang berjalan.
Proyek perkeretaapian bawah tanah ini terus berakselerasi dengan mempertahankan prinsip kehati-hatian terhadap peninggalan sejarah. PT MRT Jakarta menargetkan penyelesaian segmen 2A dari Bundaran HI hingga Harmoni pada tahun 2027, sementara segmen berikutnya dari Harmoni menuju Kota dijadwalkan rampung sepenuhnya pada tahun 2029.
Penemuan 4.000 artefak di pembangunan MRT fase 2A menjelaskan ditengah modernisasi pembangunanΒ transportasi publik di Jakarta dapat ditemukan banyak warisan budaya Indonesia dari masa lampau.
Sinergi antara pembangunan infrastruktur modern MRT Jakarta dan penyingkapan sejarah masa lalu ini akan terus memperkaya narasi sejarah bangsa bagi generasi mendatang.


