Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menyiapkan tiga komoditas pertanian utama sebagai penopang pasokan program campuran bioetanol bensin 20 persen. Langkah ini mematangkan ketersediaan bahan baku menjelang pelaksanaan mandatori E20 pada dua tahun mendatang.
Direktur Jenderal EBTKE Eniya Listiani Dewi memilih varietas singkong Mukibat sebagai bahan baku utama karena memiliki kandungan pati tinggi. Karakteristik rasa pahit pada komoditas tersebut membuat ketersediaannya tidak mengganggu pasokan kebutuhan pangan harian masyarakat.
Pemerintah turut mengoptimalkan penggunaan limbah bonggol jagung serta molase tetes tebu dari hasil samping industri gula nasional. Pemanfaatan limbah pertanian tersebut memperluas potensi produksi bahan bakar ramah lingkungan tanpa merusak rantai pasok pangan.
Penyusunan formula harga standar bioetanol berbasis jagung dan singkong ditargetkan rampung dalam waktu enam bulan ke depan. Penetapan skema pembiayaan ini memberikan kepastian investasi bagi para pelaku usaha pabrik pengolahan energi terbarukan.
Otoritas terkait menyelesaikan revisi Peraturan Presiden Nomor 40 untuk memperluas kapasitas fasilitas pencampuran bahan bakar nasional. Penyesuaian regulasi tersebut mempercepat kesiapan infrastruktur distribusi BBM ramah lingkungan di seluruh wilayah Indonesia.
"Penggunaan varietas Mukibat menjamin ketercukupan pati tanpa perlu berbenturan dengan konsumsi pangan warga," kata Eniya.
Kepastian pasokan bahan baku lokal menjadi kunci utama keberlanjutan program diversifikasi energi nasional jangka panjang.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


