Hubungan kemitraan antara Indonesia dan China semakin erat lewat perluasan proyek di sektor manufaktur pintar, industri hijau, dan pembangunan berkelanjutan.
Penguatan jaringan bisnis kedua negara tersebut mengemuka dalam ajang Forum Kemitraan Revolusi Industri Baru BRICS 2026 yang diselenggarakan di Xiamen, Fujian, China.
Kolaborasi multilateral ini didesain untuk merespons percepatan teknologi global seperti kecerdasan buatan, internet industri, teknologi robotika, dan mahadata (big data).
Pengembangan teknologi tersebut diintegrasikan dengan peta jalan nasional bertajuk "Making Indonesia 4.0" guna membangun ekosistem industri yang inklusif serta berkeadilan.
Sektor manufaktur domestik menunjukkan performa kuat dengan membukukan pertumbuhan sebesar 5,0 persen pada kuartal pertama 2026.
Realisasi angka tersebut menyumbang lebih dari 19 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional, di mana sektor ekspor manufaktur mendominasi hingga di atas 80 persen dari total pengiriman logistik luar negeri.
"Bagi negara-negara Global South, transformasi ini menjadi hal yang mendesak. Kita perlu meningkatkan pengembangan sumber daya manusia, memperkuat kerja sama internasional, dan memperbarui teknologi," ujar Direktur Jenderal Ketahanan, Perwilayahan, dan Akses Industri Internasional RI, Tri Supondy, Rabu (27/5/2026).
Dalam implementasi investasi fisik, produsen baterai Contemporary Amperex Technology Co., Limited (CATL) bersama ANTAM dan Indonesia Battery Corporation (IBC) membentuk konsorsium rantai industri baterai kendaraan listrik terintegrasi.
Proyek berskala makro dengan nilai investasi hampir 6 miliar dolar AS ini mencakup penambangan, peleburan nikel, produksi material katode, hingga tata kelola daur ulang baterai bekas.
Infrastruktur pabrik fase pertama di Karawang dirancang memiliki kapasitas produksi tahunan sebesar 6,9 GWh dengan target penciptaan hingga 35.000 lapangan kerja tidak langsung.
Fasilitas ini juga mengadopsi sistem sirkulasi energi terbarukan pertama di Indonesia dengan tingkat daur ulang komponen logam mencapai lebih dari 95 persen.
Pada lini industri logam, Xiangyu Group turut memperkuat rantai pasok internasional dengan mengoperasikan proyek peleburan baja tahan karat berkapasitas 2,5 juta ton per tahun di Indonesia.
Selain korporasi skala besar, akselerasi inovasi digital juga menyentuh sektor teknologi kesehatan melalui rancangan sistem manajemen pintar rumah sakit yang diusung oleh perusahaan lokal PT Nusantara Innovation Global untuk penjajakan mitra strategis di China.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


