pengaruh gaya hidup mahasiswa terhadap pola konsumsi di era digital - News | Good News From Indonesia 2026

Pengaruh Gaya Hidup Mahasiswa terhadap Pola Konsumsi di Era Digital

Pengaruh Gaya Hidup Mahasiswa terhadap Pola Konsumsi di Era Digital
images info

Ilustrasi pola konsumsi dan perilaku belanja impulsif mahasiswa.


Ikuti GNFI di WhatsApp

Perkembangan teknologi digital telah membawa banyak perubahan dalam kehidupan mahasiswa. Kehadiran media sosial, aplikasi belanja online, dan layanan pesan antar makanan membuat berbagai aktivitas menjadi lebih mudah dan praktis. Perubahan ini tidak hanya memengaruhi cara mahasiswa memenuhi kebutuhan, tetapi juga gaya hidup dan pola konsumsi mereka.

Gaya hidup merupakan cara seseorang menjalani kehidupan sehari-hari yang terlihat dari kebiasaan, minat, dan penggunaan uang. Sementara itu, pola konsumsi adalah cara seseorang menggunakan pendapatannya untuk membeli barang dan jasa. Di era digital, pola konsumsi mahasiswa dipengaruhi oleh tren media sosial, promosi produk, diskon, dan lingkungan pertemanan.

Fenomena tersebut didukung oleh data Badan Pusat Statistik (BPS) dalam Statistik Telekomunikasi Indonesia 2024. BPS mencatat bahwa sebanyak 72,78% penduduk Indonesia telah mengakses internet pada tahun 2024. Tingginya penggunaan internet menunjukkan bahwa teknologi digital semakin dekat dengan kehidupan masyarakat, termasuk mahasiswa. Kondisi ini turut membuka peluang bagi masyarakat untuk melakukan berbagai aktivitas secara online, termasuk berbelanja.

Mahasiswa umumnya memiliki sumber keuangan terbatas, seperti uang saku dari orang tua atau penghasilan pekerjaan sampingan. Oleh karena itu, kemampuan mengatur pengeluaran sangat penting agar mahasiswa dapat membedakan kebutuhan dan keinginan serta menghindari perilaku konsumtif.

baca juga

Pola konsumsi mahasiswa di era digital dapat dilihat dari kebiasaan belanja online, penggunaan media sosial, uang saku, dan perilaku konsumsi sehari-hari. Belanja online memberikan kemudahan dalam membeli berbagai kebutuhan tanpa harus pergi ke toko. Namun, kemudahan tersebut juga dapat meningkatkan frekuensi pembelian apabila tidak disertai perencanaan keuangan yang baik.

Selain itu, media sosial menjadi sarana hiburan sekaligus promosi produk. Konten mengenai pakaian, makanan, dan barang yang sedang populer dapat memengaruhi mahasiswa untuk mengikuti tren. Jumlah uang saku juga menentukan kemampuan mahasiswa dalam memenuhi kebutuhan, seperti makanan, transportasi, biaya kuliah, dan keperluan pribadi. Perilaku konsumsi mahasiswa pun beragam, ada yang mengutamakan kebutuhan utama, tetapi ada juga yang lebih banyak mengeluarkan uang untuk mengikuti tren.

Beberapa faktor yang memengaruhi pola konsumsi mahasiswa adalah tren media sosial, diskon dan promosi, serta lingkungan pertemanan. Konten media sosial mengenai gaya hidup dan barang populer dapat mendorong mahasiswa membeli sesuatu agar tidak tertinggal tren. Diskon, gratis ongkos kirim, dan cashback juga dapat menarik mahasiswa untuk berbelanja, bahkan membeli barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan. Selain itu, lingkungan pertemanan dapat memengaruhi kebiasaan konsumsi, seperti mengikuti tren pakaian, mencoba makanan populer, atau membeli produk tertentu agar dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan.

Hal tersebut sejalan dengan penelitian Oktaviani dan Widiansyah (2026) yang membahas perilaku konsumtif mahasiswa dalam penggunaan TikTok Shop. Hasil penelitian terhadap 10 informan menunjukkan bahwa promosi, diskon, tren viral, dan pengaruh lingkungan sosial dapat mendorong mahasiswa melakukan pembelian impulsif. Penelitian ini menunjukkan bahwa keputusan konsumsi tidak selalu didasarkan pada kebutuhan, tetapi juga dapat dipengaruhi oleh keinginan dan lingkungan sekitar.

baca juga

Faktor-faktor tersebut dapat mendorong perilaku konsumtif, yaitu kebiasaan membeli barang atau jasa secara berlebihan tanpa mempertimbangkan kebutuhan dan kemampuan keuangan. Dalam perspektif ekonomi, hal ini berkaitan dengan perilaku konsumen dalam mengalokasikan pendapatan yang terbatas untuk memenuhi berbagai kebutuhan dan keinginan. Meskipun demikian, teknologi digital tidak selalu memberikan dampak negatif. Mahasiswa dapat memanfaatkannya untuk membandingkan harga, membaca ulasan produk, dan mencari barang dengan harga lebih terjangkau.

Untuk menghindari perilaku konsumtif, mahasiswa perlu membiasakan diri membedakan kebutuhan dan keinginan. Kebutuhan utama seperti makanan, transportasi, pendidikan, dan perlengkapan kuliah sebaiknya lebih diutamakan daripada keinginan yang masih dapat ditunda. Selain itu, mahasiswa perlu membuat anggaran bulanan, mencatat pengeluaran, dan mengurangi kebiasaan belanja impulsif dengan mempertimbangkan manfaat barang sebelum membeli.

Peningkatan literasi keuangan juga penting agar mahasiswa mampu mengatur uang, menabung, menentukan prioritas, dan menghindari utang yang tidak diperlukan. Dukungan keluarga dan lingkungan kampus melalui edukasi keuangan juga dapat membantu membentuk kebiasaan konsumsi yang lebih baik.

Berdasarkan pembahasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa gaya hidup mahasiswa memiliki kaitan erat dengan pola konsumsi di era digital. Kemudahan belanja online, penggunaan media sosial, diskon, dan pengaruh lingkungan pertemanan dapat memengaruhi keputusan mahasiswa dalam menggunakan uangnya. Jika tidak dikendalikan, hal tersebut dapat mendorong perilaku konsumtif dan pengeluaran berlebihan.

baca juga

Oleh karena itu, mahasiswa perlu membiasakan diri membedakan kebutuhan dan keinginan, membuat anggaran bulanan, mengurangi belanja impulsif, serta meningkatkan literasi keuangan. Dengan demikian, teknologi digital dapat dimanfaatkan secara positif sehingga mahasiswa mampu membentuk pola konsumsi yang bijak, rasional, dan bertanggung jawab.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

NS
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.