dampak trauma perundungan terhadap penurunan konsentrasi dan kesulitan belajar anak sekolah dasar - News | Good News From Indonesia 2026

Dampak Trauma Perundungan terhadap Penurunan Konsentrasi dan Kesulitan Belajar Anak Sekolah Dasar

Dampak Trauma Perundungan terhadap Penurunan Konsentrasi dan Kesulitan Belajar Anak Sekolah Dasar
images info

Perundungan terhadap Anak (Pexels/Hidar Azmi)


Sekolah dasar dan madrasah ibtidaiyah (SD/MI) seharusnya menjadi ruang aman bagi anak-anak untuk tumbuh, bersosialisasi, serta mengeksplorasi potensi dirinya. Namun, di balik keceriaan ruang kelas, aksi perundungan (bullying) masih menjadi ancaman laten yang merusak iklim pendidikan dasar. Data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat 11.567 kasus perundungan, dengan 7.206 di antaranya merupakan perundungan verbal di lingkungan sekolah.

Laporan Programme for International Student Assessment (PISA) memperkuat kondisi ini dengan mencatat bahwa peserta didik di Indonesia sangat rentan mengalami kekerasan sebaya, meliputi 22% mengalami penghinaan, 19% pengucilan, dan 15% intimidasi.

Selain tindakan fisik dan relasional, perundungan verbal serta perundungan siber (cyberbullying) menjadi bentuk yang kian marak di tingkat sekolah dasar. Berdasarkan amatan saya, kekerasan nonfisik ini sering kali diabaikan karena tidak meninggalkan bekas luka luar yang kasat mata. Padahal, dampak psikologis yang ditimbulkannya tersembunyi, meresap sangat dalam, dan bertahan jauh lebih lama bagi masa depan anak.

Melalui sudut pandang kritis, saya melihat bahwa tekanan emosional yang dialami siswa korban perundungan bukan sekadar konflik anak-anak biasa, melainkan penderitaan psikologis yang sistematis. Korban mengalami kecemasan sosial, rasa malu, ketakutan berinteraksi, hingga krisis kepercayaan diri yang drastis.

baca juga

Penelitian ilmiah mencatat bahwa sekitar 25% siswa korban perundungan bahkan menunjukkan gejala gangguan stres pascatrauma (Post-Traumatic Stress Disorder/PTSD), seperti trauma mendalam dan kecemasan ekstrem.

Akibat rasa minder dan cemas akan cemoohan kawan sebayanya, anak-anak ini cenderung menarik diri dari pergaulan, mengalami pengucilan sosial, serta selalu meragukan kemampuan intelektualnya sendiri. Jika kondisi ini dibiarkan tanpa penanganan emosional yang tepat, trauma tersebut akan mengikis kesehatan mental dan mengganggu pembentukan karakter anak hingga mereka dewasa.

Implikasi utama dari trauma emosional ini menyerang langsung fungsi kognitif anak di dalam kelas. Menurut analisis saya, ketika pikiran seorang anak dipenuhi ketakutan dan rasa cemas akan keselamatan dirinya, daya konsentrasi belajar mereka akan terganggu secara drastis.

Korban menjadi sangat sulit memusatkan perhatian saat guru menjelaskan materi, mengalami penurunan daya serap informasi, serta takut untuk sekadar bertanya atau tampil di depan kelas. Rasa cemas berada di lingkungan kelas ini juga memicu peningkatan angka absensi karena siswa berusaha menghindari pelaku perundungan.

baca juga

Pada akhirnya, korban mengalami kesulitan belajar yang berkepanjangan dan penurunan capaian akademik secara signifikan, terutama pada mata pelajaran yang membutuhkan tingkat konsentrasi tinggi. Para ahli menegaskan bahwa selama trauma psikologis tersebut belum teratasi secara tuntas, peserta didik tidak akan pernah mampu mencapai tujuan pembelajarannya secara optimal.

Untuk memutus rantai persoalan yang kompleks ini, saya berpandangan bahwa penanganan perundungan tidak cukup hanya bersandar pada sanksi formal atau teguran biasa. Diperlukan rekonstruksi ekosistem sekolah yang menghadirkan rasa aman psikologis (psychological safety) bagi seluruh peserta didik.

Sekolah harus membangun sistem penanganan terpadu yang menyinergikan peran guru, konselor, serta orang tua untuk deteksi dini dan pendampingan korban. Di ruang kelas, saya mendorong penerapan strategi pembelajaran interaktif dan kolaboratif, seperti pembelajaran berbasis STEAM (Science, Technology, Engineering, Arts, and Mathematics).

Melalui proyek kelompok STEAM yang menyenangkan dan inklusif, siswa diajak berinteraksi aktif, memecahkan masalah bersama, dan mengapresiasi keberagaman ide kawan sebayanya. Cara ini tidak hanya efektif menekan potensi perilaku agresif, tetapi juga perlahan memulihkan motivasi dan konsentrasi belajar anak yang sempat redup.

baca juga

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

AR
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.