aroma tanah setelah hujan jejak bakteri di bawah kaki kita - News | Good News From Indonesia 2026

Aroma Tanah Setelah Hujan, Jejak Bakteri di Bawah Kaki Kita

Aroma Tanah Setelah Hujan, Jejak Bakteri di Bawah Kaki Kita
images info

Rintik hujan yang membasahi permukaan kayu di tengah suasana teduh. Foto: Liv Bruce/Unsplash


Saat rintik hujan pertama jatuh di tanah kering, aroma khasnya menguar. Pasti Kawan juga kerap kali memerhatikannya, bukan?

Aroma ini menghadirkan sensasi segar yang cukup sulit dijelaskan. Bahkan, tak sedikit orang yang sengaja duduk di dekat jendela atau serambi rumah hanya untuk menikmati wangi yang hadir saat hujan turun.

Akan tetapi, apakah Kawan tahu, sebenarnya dari manakah aroma itu berasal? Sebenarnya itu bukan aroma dari air hujan loh. Faktanya, itu adalah salah satu tanda kehidupan yang ada di dalam tanah.

Aroma yang Lahir dari Kehidupan di Bawah Pijakan Kaki

Ketika hujan jatuh menyentuh tanah yang kering, kerap kali kita mencium aroma khas tanah yang segar dan menenangkan. Sebagian orang mungkin menganggapnya aroma air hujan yang jatuh, atau bahkan Kawan juga beranggapan demikian? Padahal, itu adalah tanda kehidupan mikroba yang ada di dalam tanah.

Aroma khas tanah setelah hujan dikenal dengan istilah petrichor. Salah satu senyawa yang berkontribusi terhadap aroma tersebut adalah geosmin, yang dihasilkan oleh mikroorganisme di dalam tanah, termasuk bakteri dari genus Streptomyces.

Ketika tetesan hujan menghantam tanah kering yang berpori, tumbukan akan menghasilkan aerosol yang membawa partikel dari permukaan tanah ke udara. Proses inilah yang membantu melepaskan senyawa beraroma, salah satunya geosmin, sehingga aroma khas setelah hujan dapat tercium.

Geosmin di dalam tanah dapat menarik springtail atau hewan kecil di tanah ke koloni Streptomyces yang sedang membentuk spora. Springtail nantinya akan memakan bakteri dan ikut menyebarkan sporanya ke tanah yang ada di sekitarnya.

Bakteri yang sama, ternyata tidak hanya menyebabkan aroma khas tanah yang wangi, tetapi juga berfungsi dalam menjaga akar tanaman.

baca juga

Si Pembuat Aroma yang Ikut Menjaga di Akar

Keberadaan bakteri Streptomyces di dalam tanah bukan sekadar berkaitan dengan aroma khas setelah hujan. Bakteri ini ternyata juga punya peran dalam melindungi akar tanaman. 

Di dalam tanah, terdapat beberapa patogen yang mengganggu tanaman, seperti fusarium. Kehadiran patogen ini bisa merusak fungsi akar yang menyebabkan tanaman gagal tumbuh dengan baik bahkan dapat mengalami kematian.

Sejumlah bakteri Streptomyces berperan sebagai penghasil antibiotik dan enzim yang bisa merusak dinding sel patogen, dan bersaing dengan patogen untuk mendapatkan sumber makanan di sekitar akar. Sehingga, adanya bakteri ini berpotensi menekan pertumbuhan patogen di dalam tanah.

Salah satu contohnya terlihat dalam penelitian Hakim dkk. (2025) di Malang, Jawa Timur. Penelitian itu menguji kemampuan isolat Streptomyces dari tanah di sekitar akar cabai dalam menekan pertumbuhan Fusarium, sp. secara in vitro. Hasilnya menunjukkan bahwa isolat 6 dan 9 memiliki daya antagonis masing-masing sebesar 48,3% dan 41,9%.

Selain beropotensi menekan patogen, sejumlah spesies bakteri Streptomyces juga berperan sebagai zat pengatur tumbuh tanaman. Bakteri ini mampu menghasilkan hormon pertumbuhan tanaman dan melarutkan fosfat, sehingga membantu meningkatkan ketersediaan hara di sekitar akar.

Dari sebuah aroma tanah yang semerbak setelah hujan atau petrichor kita bisa tahu, tanah yang kita pijak itu memiliki kehidupan. Kehadirannya bukan sekadar tempat kita melangkah atau media tanam saja bagi tumbuhan. Lantas, kalau tanahnya hidup, hal apa yang bisa kita lakukan untuk merawatnya?

Petrichor memang bukan alat ukur tentang kesuburan tanah, tapi dengan adanya aroma hujan kita bisa tahu bahwa ada tanda kehidupan di bawah kaki kita. Jadi, kapan terakhir kali Kawan berhenti sejenak untuk menikmati aroma hujan yang beradu dengan tanah?

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

AP
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.