Saat kebarakan hutan dan lahan jadi berita, media hampir selalu menulisnya sebagai karhutla. Kata pendek itu sebenarnya gabungan dari tiga kata, dan bisa kita ucapkan dengan lancar.
Singkatan dan akronim seperti ini ada di mana-mana, dari berita sampai obrolan grup. Kawan pasti sering ketemu kata seperti ini, mulai dari japri sampai mager. Lalu, kenapa kita suda memendekkan kata?
Apa Beda Singkatan dan Akronim?
Dua istilah ini sering tertukar. Menurut kajian Khairun Nisa, berjudul βProblematika Akronim dan Singkatan dalam Bahasa Indonesia: Kajian Pembentukan Kataβ, singkatan adalah bentuk pendek dari kata atau gabungan kata.
Cara bacanya bisa dieja huruf demi huruf, seperti KTP yang dibaca "ka-te-pe" dan KK "ka-ka". Karena dieja satu per satu, singkatan seperti ini tidak terdengar seperti kata biasa.
Akronim juga hasil memendekkan, tapi dibaca seperti kata baru. Cara membuat akronim juga punya polanya. Salah satu yang paling seirng ditemi adalah mengambil bagian awal dari tiap kata, lalu menyambungkannya.
Contohnya seperti Kemenlu, puskesmas, dan karhutla tadi. SIM juga termasuk akronim karena cara membacanya adalah "sim", bukan "es-i-em".Β
Jadi, cara membedakannya adalah kalau bisa dibaca lancar sebagai satu kata, maka itu adalah akronim. Kalau umumnya harus dieja per huruf, maka itu adalah singkatan.
Asal-Usul Indonesia Menyingkat Kata
Awalnya kebiasaan membuat akronim di banyak negara dipengaruhi dunia militer yang mengutamakan efisiensi dan kerahasiaan. Melansir dari detik.com bahkan menyebut materi akronim menjadi pelajaran wajib di akademi militer Indonesia.
Kebiasaan ini sudah lama ada, tapi baru populer pada 1960-an. Presiden Sukarno sendiri dikenal memakai akronim seperti Jas Merah, Nasakom dan berdikari. Berdikari berasal dari "berdiri di kaki sendiri" dan sering muncul di pidato-pidatonya.
Setelah peristiwa 1965, peran militer di pemerintahan makin besar dan kebiasaan itu ikut menyebar. Para jurnalis juga ikut memperkenalkan banyak akronim ke masyarakat leat koran, majalah, dan televisi.
Di era Presiden Suharto, banyak program pemerintah yang disingkat, seperti Repelita dan Jaya (Jakarya Raya). Akronim juga dipakai untuk memudahkan sosialisasi program.
Alasan Kita Suka Menyingkat?
Menurut linguis Nenagh Kemp dari University of Tasmania, menyingkat adalah proses wajat untuk menghemat waktu dan tenaga. Hasilnya, percakapan juga terasa lebih santai.
Sampai sekarang, kebiasaan itu terus berjalan bahkan di kehidupan sehari-hari. Banyak akronim baru datang dari bahasa gaul, seperti mager (malas gerak), bucin (budak cinta), dan japri (jalur pribadi).
Nama makanan juga ikut disingkat, misalnya batagor yang berasal dari bakso tahu goreng. Di situasi formal juga seperti itu, misalnya "Nataru" untuk Natal dan Tahun Baru. Di chat, kita juga terbiasa menulis "gmn" untuk bagaimana dan "dmn" untuk di mana.
Efisien, tapi Kapan Jadi Membingungkan?
Menyingkat memang bisa lebih praktis, tapi hanya kalau lawan bicara paham. Bayangkan Kawan mengirim pesan βotw yaβ atau βgwsβ ke orang tua. Anak muda langsung paham, tapi orang tua mungkin harus bertanya dulu artinya. Itu sebabnya singkatan perlu disepakati kedua pihak supaya tidak salah paham
Karena itu, di tulisan formal, sebaiknya tetap dituliskan kepanjangannya saat istilah pertama kali muncul. Kemudian di kalimat setelahnya bisa disingkat.
Singkatan gaul juga seringnya dipahami di lingkatan tertentu, jadi bisa disesuaikan dengan siapa Kawan berbicara. Jadi, singkatan apa yang paling sering bikin Kawan bingung?

