ketertarikan joyce teo hui chu tidak paham bahasa jawa tapi jatuh cinta pada musik gamelan - News | Good News From Indonesia 2026

Ketertarikan Joyce Teo Hui Chu, Tidak Paham Bahasa Jawa, tapi Jatuh Cinta pada Musik Gamelan

Ketertarikan Joyce Teo Hui Chu, Tidak Paham Bahasa Jawa, tapi Jatuh Cinta pada Musik Gamelan
images info

Ketertarikan Joyce Teo Hui Chu, Tidak Paham Bahasa Jawa, tapi Jatuh Cinta pada Musik Gamelan | Berita Harian/22 April 1992


Kecintaan akan dunia musik bisa membius siapa saja. Tidak peduli latar belakang yang dia miliki, seseorang bisa saja jatuh cinta pada musik tertentu begitu dia mendengarkannya.

Rasa inilah yang dirasakan oleh Joyce Teo Hui Chu beberapa dekade silam. Meskipun berasal dari latar belakang keturunan Tionghoa di Singapura, dirinya justru jatuh cinta pada salah satu alat musik khas dari kebudayaan Jawa, yakni gamelan.

Padahal Joyce sendiri tidak mengerti dan bisa bahasa Jawa pada waktu itu. Namun pertemuannya pertama kali dengan alat musik khas Jawa ini justru meninggalkan bekas tersendiri dalam perasaannya.

Tidak hanya sekadar sebagai penikmat, Joyce justru mendalami secara serius ketertarikannya terhadap alat musik gamelan tersebut. Bahkan dia juga mengambil studi khusus yang berkaitan dengan kesenian tradisional khas dari Indonesia ini.

baca juga

Lantas bagaimana kesan saat Joyce pertama kali jatuh cinta pada alat musik gamelan beberapa dekade silam? Simak ulasannya dalam artikel berikut ini.

Perkenalan di Australia

Joyce Teo Hui Chu merupakan salah satu tokoh asal Singapura yang memiliki ketertarikan khusus terhadap kebudayaan Indonesia, khususnya alat musik gamelan. Perkenalan Joyce dengan alat musik tradisional ini pertama kali terjadi saat dirinya menempuh pendidikan di Australia pada 1980-an.

Dinukil dari artikel "Gadis Cina Jatuh Cinta pada Gamelan" yang terbit di surat kabar Berita Harian edisi 22 April 1992, Joyce pertama kali mengenal musik gamelan saat dia menjadi mahasiswa tahun pertama di University of New England, Australia.

Pada waktu itu, dia melihat sebuah pertunjukan yang menampilkan musik gamelan di dalamnya. Pertunjukkan ini justru menjadi gerbang awal ketertarikan Joyce atas musik gamelan tersebut.

baca juga

Joyce merasa jika musik gamelan yang pertama kali dia dengarkan sangat indah untuk dihayati. Keindahan dari musik tradisional ini kemudian makin menarik minat Joyce pada waktu itu.

Mendalami Secara Serius Musik Gamelan

Joyce tidak hanya berhenti sebagai penikmat saja. Dirinya pun mulai mendalami musik gamelan secara serius.

Saat menempuh studi di University of New England, dirinya pernah mengambil kelas gamelan dalam masa studinya. Tidak hanya itu, dirinya juga tergabung dalam kelompok musik gamelan yang ada di kampusnya tersebut.

Dari kelompok musik ini, Joyce juga pernah menjadi penampil di berbagai acara di Australia. Misalnya, Joyce bersama kelompok musiknya pernah mengadakan pertunjukkan di Pesta Seni Brisbane, Pesta Seni Orange, hingga penampilan khusus di salah satu radio yang ada di Australia.

baca juga

Keseriusannya terhadap musik gamelan juga terus berlanjut ketika dirinya kembali ke Singapura. Joyce secara rutin mengajarkan musik gamelan bagi masyarakat Singapura dalam berbagai macam kursus berbeda.

Temukan Ketenangan Batin

Joyce yang pada awalnya tidak bisa berbahasa Jawa sama sekali justru dapat menguasai puluhan jenis alat musik gamelan. Dirinya juga bisa menyanyikan beberapa tembang dalam bahasa Jawa sebagai pengiring saat memainkan musik gamelan.

Meskipun sudah bersentuhan dengan dunia musik sejak kecil, Joyce menemukan ketenangan tersendiri saat memainkan musik gamelan. Dia merasa gamelan memiliki nilai berbeda dengan musik barat yang pernah ditekuni sebelumnya.

Joyce merasa jika musik gamelan lebih memberikan kedamaian jiwa untuknya. Lain halnya dengan musik piano yang dia rasa agak sedikit kasar dalam alunan permainannya.

baca juga

Hal ini pula yang membuat Joyce merasa jika gamelan bukanlah seni musik yang ketinggalan zaman. Bahkan dia merasa musik tradisional khas Jawa tersebut justru menjadi ciri dan kekhasan tersendiri dari orang-orang Asia.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Irfan Jumadil Aslam lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Irfan Jumadil Aslam.

IJ
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.