Jika tiga tanda itu muncul bersamaan— kota kecil yang bergerak, si bisu yang mulai bicara, dan ibu kota yang bertahan— mungkin yang terjadi bukan sekadar pawai protes. Ada sesuatu lebih besar, yang sedang mencari bentuk.
Mula-mula, hanya suara pengeras yang parau. Di sebuah alun-alun kabupaten—yang namanya tak pernah mampir dalam buku sejarah—spanduk dicetak tergesa di kios fotokopi yang letih. Hujan baru saja usai. Ada bau tanah yang ganjil, bercampur asap gorengan dari pinggir jalan. Di sana, seorang ibu penjual sayur menggulung lengan baju.
Ia memegang selembar kardus; huruf-huruf di atasnya mulai luntur oleh gerimis. Tak ada kamera televisi nasional. Tak ada orator yang mengutip Danton, Robespierre, atau ayat-ayat suci. Namun dari sanalah, barangkali, sejarah merayap. Pelan. Lamat-lamat. Dan diam-diam menumpuk menjadi arus.
Reformasi—jika memang akan datang jilid kedua—mungkin tak akan diumumkan lewat pidato kenegaraan yang rapi. Ia tumbuh dari sesuatu yang lebih purba: rasa letih.
Ia merembes dari percakapan di warung kopi selepas Isya, dari keluhan sopir truk di jalur Pantura, dari guru honorer yang menua bersama janji-janji perbaikan. Dari mahasiswa yang perlahan sadar bahwa frasa “demi stabilitas negara”, acap kali, hanyalah ancaman halus agar yang bungkam tetap bungkam.
Baca Selengkapnya

