Kita bermimpi jadi negara maju, tapi cara pikir masih terjajah psychological control Barat. Kemajuan diukur dari istilah demokrasi versi impor. Padahal itu jebakan indoktrinasi.
Empat tahun lalu, waktu dunia masih sibuk debat kusir soal konspirasi atau siapa yang bakal menang pemilu, saya sempat menulis sebuah analisis sederhana. Nggak viral kayak ramalan dukun medsos atau tebakan garis tangan para influencer. Tapi anehnya, setelah saya cek lagi hari ini, prediksi itu justru tepat sasaran. Nggak meleset jauh. Bahkan jauh lebih presisi dibanding analisis para pakar berdasi di TV yang hobinya jualan istilah asing biar kelihatan pinter.
Inti ramalannya simpel: Western Empire alias oligarki global Baratβ termasuk blok Inggris dan sekutunya yang digdaya selama lima abadβ sebenarnya lagi di ambang kejatuhan. Dan kita, suka atau tidak, cuma penonton di bangku ekonomi yang sesekali kena cipratan ludahnya.
Tiga Raksasa vs Para βAnak Buahβ
Coba bayangkan geopolitik dunia ini kayak tongkrongan RT. Sekarang, petanya cuma terbagi dua: negara yang beneran berdaulat, dan negara yang seolah-olah merdeka padahal statusnya masih βjajahanβ oligarki. Kita di NKRI? Ya masuk kategori kedua, barengan sama negara-negara maju yang kelihatannya keren tapi sebenarnya tunduk sama kebijakan pro-globalis. Sementara itu, di sudut lain tongkrongan, ada tiga pemain yang beneran merdeka dan punya nyali buat ngelawan: Rusia, Iran, dan China (RIC).
Baca Selengkapnya

