Membaca Kota Melalui Alirannya
CERITA KOTA | Di balik ketenangan alirannya, Sungai Kapuas menyimpan memori, benturan ekologi, dan jalinan kisah hulu-hilir yang tak pernah usai. Berangkat dari kesadaran tersebut, Pontianak Biennale 2026 hadir bukan sekadar sebagai pameran visual, melainkan sebuah laboratorium gagasan.
Resmi dibuka mulai Jumat, 25 September hingga 25 Oktober 2026, perhelatan dua tahunan ini mengundang para seniman dan warga untuk merajut ulang narasi Kota Pontianak melalui tema besar βArus Pertemuan dan Gelombangβ.
Kehangatan pergerakan ini telah berpendar sejak agenda Mukadimah dan Taklimat Media di Port 99, Rabu (23/9). Dalam suasana kasual, para perupa, penyelenggara, dan warga duduk melingkarβmelepaskan sekat formalitas untuk membicarakan kota. Sungai Kapuas terus hadir sebagai benang merah, tidak lagi dipandang sebagai latar visual yang pasif, melainkan episentrum wacana, ingatan kolektif, dan gerak hidup masyarakatnya.
Panitia Pontianak Biennale 2026, Gusti Enda, menegaskan bahwa sungai adalah pintu masuk (entry point) untuk membedah persoalan yang lebih mendasar. Karya-karya yang dihadirkan tidak secara harfiah melukiskan air atau tepian, melainkan merespons dinamika sosial, praktik budaya, hingga lanskap ekologi yang terhubung oleh nadir sungai.
Baca Selengkapnya

