Ketika manusia mulai percaya bahwa semua jawaban harus datang dari sistem, maka manusia perlahan berhenti mendengar kehidupan itu sendiri.
Malam itu hujan turun pelan di Nitiprayan, Yogyakarta. Angin membawa bau tanah basah dan daun pisang dari halaman belakang. Saya duduk di bangku kayu sambil membaca buku tua karya Ivan Illich. Lampu temaram. Suara jangkrik bersahutan. Entah bagaimana, di antara bunyi hujan dan halaman-halaman buku yang mulai menguning itu, saya merasa seseorang duduk di depan saya.
Ia memakai baju sederhana. Wajahnya tenang, tetapi matanya seperti menyimpan kegelisahan panjang terhadap dunia modern. “Jadi,” katanya sambil tersenyum tipis, “Anda masih percaya sekolah bisa menyelamatkan manusia?”
Saya tertawa kecil. “Di negeri kami, sekolah justru sering menjadi ukuran harga diri seseorang.” Illich mengangguk pelan. “Itulah masalahnya,” katanya. “Ketika belajar dipenjara di dalam sekolah, manusia mulai percaya bahwa pengetahuan hanya sah jika diberi stempel institusi.”
Saya terdiam. Saya teringat anak-anak yang sebenarnya cerdas, tetapi merasa bodoh hanya karena tidak cocok dengan ruang kelas. Saya teringat petani yang memahami cuaca lebih dalam daripada sarjana pertanian, tetapi dianggap tidak ilmiah. Saya teringat ibu-ibu kampung yang hafal tanaman obat, tetapi kalah wibawa di depan iklan farmasi.
Baca Selengkapnya

