Tanah tak menjadi besar karena luasnya wilayah. Tapi karena gagasan, narasi, dan keberanian yang tumbuh di atasnya. Dari Luxembourg dan Bojonegoro, kita akan mempelajari itu.
Selama ini, peta dunia seolah mengajari kita bahwa negara-negara raksasa adalah pusat gravitasi peradaban, sementara negara-negara kecil hanyalah titik-titik yang mudah terlewatkan. Namun, Luxembourg mengajarkan pelajaran berbeda.
Luas negara Luxembourg hanya 2.586 kilometer persegi. Mirip Kabupaten Bojonegoro yang seluas 2.307 kilometer persegi. Selisihnya hanya sekitar 279 kilometer persegi. Perbedaan ini hanya seluas sempalan hutan Perhutani di pinggiran kabupaten.
Luxembourg bukan negara yang kaya karena tanahnya luas. Ia juga bukan negara dengan jumlah penduduk melimpah. Bahkan, tak banyak yang mengenali namanya, karena sering tenggelam di antara Prancis dan Jerman yang berada di dekatnya.
Namun, seperti batu kecil yang menentukan arah arus sungai, Luxembourg menempati posisi yang tak tergantikan. Sebab, dari ruang yang nyaris seukuran kabupaten Bojonegoro itulah, denyut nadi ekonomi Eropa berdegup.
Baca Selengkapnya

