Bruno Abd al-Haqq Guiderdoni telah memilih jalan yang tidak biasa: menjadi ilmuwan sekaligus sufi. Dan dalam perjalanannya, ia membuktikan bahwa langit dan jiwa, teleskop dan Quran, sains dan iman, pada akhirnya berbicara bahasa yang sama: kebenaran.
DI PUNCAK Bukit Saint-Genis-Laval, sekitar tujuh kilometer dari pusat kota Lyon, Prancis, tegak sebuah kubah putih yang menjulang ke langit. Di dalamnya, sebuah teleskop raksasa terus mengamati galaksi-galaksi jauh. Cahayanya memerlukan miliaran tahun untuk sampai ke Bumi. Di ruang kerjanya yang dipenuhi tumpukan jurnal ilmiah dan lembaran-lembaran rumus, seorang ilmuwan berusia sekitar 60-an tahun itu duduk merenung.
Malam itu, ilmuwan itu baru saja menyelesaikan perhitungan tentang pembentukan bintang-bintang di semesta alam dini: sebuah topik yang telah ia tekuni selama lebih dari tiga dasawarsa. Namun, di sudut ruangan yang sama, terdapat rak buku lain: koleksi kitab-kitab tafsir Al-Quran, karya-karya Ibn Arabi, dan terjemahan Al-Quran dalam berbagai bahasa. Dua dunia yang tampak berjauhan-sains modern dan spiritualitas Islam-hidup berdampingan dalam diri satu manusia.
Bruno Abd Al-Haqq Guiderdoni
Ilmuwan itu bernama Bruno Abd Al-Haqq Guiderdoni. Ia seorang astrofisikawan kondang Prancis, spesialis pembentukan dan evolusi galaksi, Direktur Observatorium Lyon, dan sekaligus seorang Muslim yang telah menulis puluhan makalah tentang teologi dan mistisisme Islam.
Baca Selengkapnya

