Seringkali kita memulai hari dengan keputusan-keputusan kecil yang berulang. Misalnya, bangun lebih awal supaya tidak terjebak macet, memilih rute yang sedikit lebih jauh karena jalan utama sudah padat, hingga menghitung ongkos perjalanan, harga makan siang, dan sisa-sisa uang sebelum gajian berikutnya.
Lama-lama, kita mungkin lupa bahwa hidup di kota sebesar Jakarta memang membutuhkan kemampuan beradaptasi yang tidak sedikit. Harga kebutuhan yang kian naik, ruang-ruang yang bergeser tidak sesuai fungsi nya dan jarak yang terasa jauh karena waktu tempuh yang semakin panjang.
Mungkin ini sejalan dengan backstory dari tema “Kebal” yang diangkat pada Pameran Jakarta Biennale 2026. Tema ini berbicara tentang ketangguhan warga menghadapi tekanan kehidupan perkotaan yang rasanya begitu dekat dengan kehidupan banyak orang.
Jakarta Biennale melihat pengalaman “keterusiran” yang perlahan dialami warga ketika harga properti dan kebutuhan hidup terus meningkat. Sebagian kita terpaksa berpindah, terdorong ke pinggir,, atau semakin sulit menemukan ruang nyaman di kota yang tetap kita datangi setiap hari untuk bekerja.
Jakarta memang punya hubungan yang agak rumit dengan orang-orang yang tinggal di dalamnya.
Kota ini menjanjikan banyak hal. Pekerjaan, kesempatan, pertemuan, pengalaman baru, sampai kemungkinan untuk mengubah hidup. Namun, semakin lama tinggal, kita juga mulai mengenal sisi lain dari Jakarta. Kota dengan harga tawar yang begitu mahal. Jakarta terus tumbuh dan berubah, sementara kemampuan setiap orang untuk mengimbangi langkahnya tentu berbeda.
Pameran Jakarta Biennale 2026 berlangsung di Gedung Trisno Soemardjo, Taman Ismail Marzuki, pada 4 hingga 28 Oktober 2026. Puluhan karya dari 20 seniman lokal dan internasional ditampilkan untuk membaca kehidupan masyarakat urban, terutama pengalaman kelas pekerja.
Tema “Kebal” lahir dari proses diskusi yang menjadi dasar pemilihan para seniman dan karya yang ditampilkan.
Jakarta Biennale menghadirkan Ruang Tamu, sebuah platform yang membawa program seni ke berbagai ruang kolektif. Program ini hadir di 13 titik kota Jakarta, mulai dari Panna Lab, Taman Stasiun Manggarai, Posko Masyarakat Peduli Lingkungan Kali Krukut, Rooftop Pasar Gembrong, Neha Hub, sampai ruang-ruang yang dikelola komunitas seni dan warga.
Biennale ingin bicara tentang warga Jakarta yang hidup jauh di luar dinding ruang pamer. Kehidupan halte, pasar, gang permukiman, sampai pinggir-pinggir kali kota Jakarta. Di mana orang-orang bertemu, bekerja, istirahat, lalu kembali lagi menjalani rutinitas sehari-hari.
Kehadiran seni di ruang kolektif terasa seperti sebuah percakapan yang begitu dekat dengan kehidupan kita. Kita tidak harus datang dengan bekal pengetahuan seni yang rumit. Tidak juga harus selalu memahami setiap simbol dalam sebuah karya.
Cukup sesederhana hadir, kemudian barangkali membawa pulang satu penyataan atau bahkan pertanyaan yang berbeda. Tentang bagaimana seseorang tetap bertahan ketika lingkungan tempat tinggalnya terus mengalami perubahan.
Perlu diketahui bahwa Jakarta Biennale bukan pendatang baru dalam perjalanan seni Indonesia. Kegiatan ini telah berlangsung sejak 1974 dan selama puluhan tahun menjadi ruang untuk membicarakan perubahan sosial, budaya, serta kehidupan perkotaan melalui seni.
Pada edisi 2026, penyelenggaraan kembali digerakkan oleh Majelis Jakarta, kumpulan seni yang membawa semangat kerja kolektif dan nilai-nilai mendasar tentang kehidupan.
Seni memberi kesempatan untuk akhirnya kita menyadari bahwa pengalaman yang kita kira sangat personal ternyata dirasakan oleh banyak orang. Barangkali di situlah arti “kebal”. Kita bukan warga yang tidak pernah lelah.
Kita juga bukan orang-orang yang selalu kuat. Kita bisa kecewa ketika harga sewa naik, atau merasa cemas ketika penghasilan tidak sebanding dengan kebutuhan. Kita boleh merasa asing ketika lingkungan yang sudah menahun membersamai kehidupan kita kian “mengusir” dengan tekanan yang berbeda.
Mungkin ini adalah bentuk kekebalan yang paling dekat dengan kita sebagai warga Jakarta. Bukan karena kita sudah tidak lagi merasakan kerasnya Jakarta, tetapi karena kita tahu bahwa berhenti bukan pilihan yang mudah.
Hari-hari rasanya semakin melelahkan. Namun, kita memilih bertahan.
Sebab di balik semua kerasnya Jakarta, masih tersimpan harapan tentang hari esok yang lebih baik. Pameran Jakarta Biennale menempatkan harapan sebagai sesuatu yang mampu mengalahkan keputusasaan hari ini.
Bahwa rasa “kebal” kita kadang bentuknya terwujud dalam keputusan-keputusan tetap tinggal dan mencintai Jakarta sekali lagi, sambil tetap mencoba membuat hidup terasa layak dijalani.
Jika akhir pekan ini belum punya rencana, mungkin saatnya menyempatkan diri datang ke Jakarta Biennale 2026. Pameran utama “Kebal” bisa dikunjungi di Gedung Trisno Soemardjo, Taman Ismail Marzuki, hingga 28 Oktober 2026. Mari melihat karyanya satu per satu, lalu membiarkan diri menemukan cerita Jakarta dari perspektif yang berbeda.

