kelenteng eng an kiong malang jejak komunitas tionghoa sejak 1825 yang masih aktif hingga kini - News | Good News From Indonesia 2026

Kelenteng Eng An Kiong Malang, Jejak Komunitas Tionghoa Sejak 1825 yang Masih Aktif hingga Kini

Kelenteng Eng An Kiong Malang, Jejak Komunitas Tionghoa Sejak 1825 yang Masih Aktif hingga Kini
images info

Dok. Antya Anantari (Google Maps)


Di kawasan Kotalama, tidak jauh dari tepi Sungai Brantas, berdiri kelenteng tertua di Kota Malang. Kelenteng Eng An Kiong didirikan pada 1825 oleh Letnan Kwee Sam Hway, seorang perwira Tionghoa keturunan ketujuh dari jenderal Dinasti Ming yang menetap di Malang.

Usianya kini sudah melampaui dua abad, dan pada September 2025, kelenteng ini merayakan 200 tahun berdirinya dengan kirab besar yang melibatkan sekitar 3.000 peserta dari berbagai negara dalam rangkaian World Tua Pek Kong Festival ke-14.

Kelenteng ini terletak di Jalan R.E. Martadinata No. 1, Kotalama, Kecamatan Kedungkandang, dan berjarak sekitar 850 meter dari Alun-Alun Kota Malang. Menempati lahan seluas 5.000 meter persegi, Eng An Kiong adalah rumah ibadah bagi penganut Tri Dharma, yaitu Taoisme, Konfusianisme, dan Buddhisme sekaligus. Lebih dari 90 persen struktur asli bangunannya masih terjaga, termasuk tiang-tiangnya yang sudah berdiri sejak abad ke-19.

Satu catatan sejarah yang menyertainya adalah peristiwa pasca-G30S 1965, ketika sejumlah foto bersejarah kelenteng dibakar dalam iklim gejolak politik yang juga menghantam komunitas Tionghoa di seluruh Indonesia.

Sebagian dokumentasi visual tentang perjalanan kelenteng ini tidak bisa lagi ditelusuri secara utuh akibat kejadian itu, dan ini yang membuat koleksi foto yang tersisa kini menjadi benda yang dijaga dengan sangat hati-hati oleh pengelola.

 

Sekilas Mengenai Kelenteng Eng An Kiong

Pembangunan kelenteng ini berlangsung dalam dua periode. Periode pertama pada 1825 mencakup ruangan tengah utama, sementara periode kedua antara 1895 hingga 1934 menyelesaikan bangunan-bangunan pendukung lainnya. Nama "Eng An Kiong" sendiri berasal dari dialek Hokkien yang berarti "Istana Ketenangan Abadi", sebuah nama yang mencerminkan fungsi kelenteng sebagai ruang meditasi dan ibadah.

Kwee Sam Hway adalah keturunan ketujuh dari seorang jenderal Dinasti Ming yang datang ke Jawa dan kemudian menetap di Malang. Posisinya sebagai letnan dalam sistem pemerintahan kolonial Belanda, di mana komunitas Tionghoa dipimpin oleh mayor, kapten, dan letnan yang ditunjuk, memberinya cukup pengaruh dan sumber daya untuk mendirikan bangunan ibadah yang representatif bagi komunitasnya.

Arsitekturnya memadukan gaya Tionghoa klasik dengan sentuhan Eropa yang terlihat di beberapa detail ornamental. Ini adalah ciri khas bangunan Tionghoa yang didirikan pada masa kolonial Belanda di Jawa, di mana pengaruh dua peradaban berpadu dalam satu bangunan yang sama. Di setiap sudut ruangan terdapat 99 arca dewa dan dewi, sebuah jumlah yang dipilih dengan pertimbangan filosofis dan tidak sembarangan dalam tradisi Tionghoa.

 

Daya Tarik Utama Kelenteng Eng An Kiong

Kondisi fisik kelenteng adalah yang paling pertama menarik perhatian. Dengan lebih dari 90 persen struktur aslinya yang masih terjaga, Eng An Kiong terasa berbeda dari banyak bangunan bersejarah yang sudah banyak mengalami renovasi modern. Tiang-tiang aslinya masih berdiri, lantainya sebagian masih asli, dan ornamen-ornamen di dinding serta langit-langit mempertahankan karakter abad ke-19 yang tidak mudah ditiru.

Di salah satu sudut kawasan kelenteng terdapat kolam ikan koi yang menjadi elemen dekoratif sekaligus fungsional dalam tradisi Tionghoa, karena ikan koi dipercaya membawa keberuntungan. Aroma dupa yang mengepul di area altar menciptakan suasana yang khas dan membuat pengunjung merasakan bahwa ini bukan sekadar bangunan tua yang diawetkan, melainkan ruang ibadah yang benar-benar hidup dan aktif digunakan setiap harinya.

Saat Imlek, Eng An Kiong menjadi salah satu titik paling ramai di Kota Malang. Tidak hanya umat Tionghoa yang datang, tapi juga warga dari berbagai latar belakang, termasuk warga Muslim sekitar yang turut memeriahkan suasana, sebuah gambaran tentang kehidupan bertetangga yang sudah berlangsung lama di kawasan Kotalama.

 

Akses Menuju Kelenteng Eng An Kiong

Kelenteng Eng An Kiong beralamat di Jalan R.E. Martadinata No. 1, Kotalama, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang, Jawa Timur 65118. Dari Alun-Alun Kota Malang, jaraknya hanya sekitar 850 meter dengan waktu tempuh sekitar 10 menit berjalan kaki atau beberapa menit berkendara.

Dari Stasiun Malang Kota Baru, waktu tempuh sekitar 10 hingga 15 menit menggunakan kendaraan. Ojek online beroperasi di Kota Malang dan bisa digunakan untuk perjalanan langsung ke lokasi. Area parkir tersedia di sekitar kawasan kelenteng.

 

Jam Operasional dan Harga Tiket

Kelenteng Eng An Kiong buka setiap hari Senin hingga Sabtu mulai pukul 08.00 hingga 21.00 WIB. Waktu terbaik berkunjung adalah sore hari sekitar pukul 15.00 hingga 17.00 saat cahaya alami masih cukup baik untuk melihat detail ornamen dan suasana kelenteng mulai lebih hidup.

Tiket masuk Rp5.000 per orang. Fasilitas yang tersedia meliputi area parkir, toilet, kolam ikan koi, dan food court di area kelenteng yang menjual berbagai makanan dan minuman khas Tionghoa.

 

Ayo Berkunjung ke Kelenteng Eng An Kiong!

Kelenteng Eng An Kiong cocok untuk Kawan GNFI yang ingin mengenal Malang dari sisi sejarah dan keberagamannya. Datanglah sore hari, amati detail arsitektur yang masih asli, dan jika memungkinkan sesuaikan kunjungan dengan perayaan Imlek untuk pengalaman yang paling penuh. Selamat berkunjung!

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Muhammad Fazer Mileneo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Muhammad Fazer Mileneo.

MF
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.