Jalur kereta api lama tidak hanya menyimpan cerita tentang perjalanan dari satu tempat ke tempat lain. Rel, stasiun, bangunan pendukung, dan kawasan di sekitarnya juga merekam pertumbuhan kota serta perubahan kehidupan masyarakat.
Warisan tersebut masih berpeluang dimanfaatkan untuk pariwisata, khususnya wisata sejarah. Pengembangannya dapat dilakukan dengan menghubungkan jalur kereta lama dengan museum, kawasan cagar budaya, pusat kota, dan aktivitas ekonomi masyarakat.
Peneliti sekaligus kandidat doktoral Universitas Groningen, Belanda, Arida Fitriana Yasmin, mengatakan warisan perkeretaapian perlu dipahami secara lebih luas, bukan hanya sebagai bangunan atau lokomotif tua.
โWarisan perkeretaapian bisa melampaui sekadar peninggalan fisik. Namun, juga menjadi bagian dari fenomena sejarah yang lebih luas dan kompleks,โ ungkap Arida dalam diskusi daring yang diinisiasi Bumi Pelestarian Pusaka Indonesia, Kamis (29/10/2026).
Jalur Lama Merekam Pertumbuhan Kota
Menurut Arida, warisan perkeretaapian turut memengaruhi bentuk kota, pembangunan, kegiatan ekonomi, dan struktur sosial masyarakat.
Jalur kereta pada masa lalu menghubungkan pusat perdagangan, kawasan permukiman, pelabuhan, perkebunan, dan wilayah produksi. Karena itu, peninggalannya dapat menjadi pintu masuk untuk memahami bagaimana kota dan wilayah di Indonesia terbentuk.
โDi Indonesia, warisan perkeretaapian dapat ditelusuri dalam dampaknya terhadap morfologi perkotaan, pembangunan, ekonomi, dan struktur sosial,โ lanjutnya.
Arida menyebut hampir 2.000 kilometer jalur kereta api tidak lagi aktif sejak era pascakolonial. Meski demikian, sebagian peninggalan masih dilestarikan. Sejumlah stasiun juga telah dialihfungsikan menjadi museum atau ruang publik.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa jalur yang tidak lagi digunakan untuk transportasi reguler tetap dapat memiliki fungsi baru. Salah satunya melalui pengembangan wisata berbasis sejarah.
Ambarawa dan Sawahlunto Jadi Contoh
Beberapa jalur lama telah dimanfaatkan untuk perjalanan wisata, seperti di Ambarawa dan Sawahlunto.
Di dua daerah tersebut, jalur kereta api tidak hanya menjadi bagian dari peninggalan sejarah, tetapi juga pengalaman wisata. Pengunjung dapat menikmati perjalanan dengan kereta bersejarah sembari mengenal lanskap, bangunan, dan cerita perkembangan kawasan.
Model tersebut berpotensi memberikan manfaat bagi ekonomi lokal. Wisatawan membutuhkan transportasi, makanan, penginapan, pemandu, suvenir, dan berbagai layanan lain selama berkunjung.
Namun, pengembangan wisata jalur lama perlu memperhatikan daya dukung kawasan. Pelestarian bangunan, keselamatan pengunjung, dan keterlibatan masyarakat perlu berjalan bersama agar manfaat ekonomi tidak menghilangkan nilai sejarah.
Terhubung dengan Kawasan Sekitar
Menurut Arida, wisata sejarah akan lebih kuat jika warisan perkeretaapian tidak diperlakukan sebagai objek yang berdiri sendiri.
Ia mencontohkan kawasan Kota Tua Jakarta yang kini terhubung dengan layanan MRT. Stasiun Jakarta Kota dan plaza di depannya bukan hanya fasilitas transportasi, melainkan juga penghubung antara jaringan kereta dan kawasan bersejarah.
Konektivitas semacam itu memudahkan wisatawan berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain. Dampaknya, kunjungan tidak berhenti di stasiun, tetapi dapat menyebar ke museum, ruang publik, pusat kuliner, dan usaha masyarakat sekitar.
Contoh lain terdapat di Kota Lama Semarang. Di kawasan tersebut, sisa lahan terbuka milik perusahaan trem pertama di Indonesia ditemukan dan kemudian dilestarikan sebagai bagian dari museum.
โTerdapat sebuah museum yang tergolong baru yang dibuka di tengah area bundaran, jadi lokasinya unusual. Museum ini didirikan setelah ditemukannya sisa emplasemen milik perusahaan trem pertama di Indonesia,โ ucap Arida.
Arida menilai pelestarian warisan perkeretaapian sebaiknya tidak berhenti pada penyelamatan bangunan atau jalur lama. Peninggalan tersebut perlu dihubungkan kembali dengan kehidupan kawasan agar manfaatnya lebih luas.
Pengembangan dapat dilakukan melalui rute wisata, pusat interpretasi sejarah, museum, kegiatan budaya, serta promosi produk lokal. Masyarakat sekitar juga perlu dilibatkan sebagai pengelola, pemandu, pelaku usaha, dan penjaga pengetahuan sejarah setempat.

