Menjadi penggemar anime terkadang punya konsekuensi tersendiri bagi isi keranjang belanja. Awalnya hanya berniat membeli satu gantungan kunci karakter kesayangan. Namun, setelah membuka beberapa toko online shop, godaan mulai berdatangan. Ada stiker lucu, poster, kartu koleksi, boneka, sampai paket merchandise yang isinya bermacam-macam. Niatnya mencari satu barang, tahu-tahu keranjang belanja sudah 99+ saja.
Sebagai seorang anime lovers, penulis juga cukup sering berburu barang-barang yang berkaitan dengan anime di marketplace. Sebelum membeli, tentu ada beberapa hal yang perlu diperiksa. Mulai dari foto produk, harga, hingga ulasan pembeli sebelumnya. Bagian terakhir ini justru sering menjadi tempat penulis menemukan hal-hal menarik.
Pernah menemukan komentar seperti โworth it banget!โ, โfreebies-nya lucuโ, atau โthank you seller!โ saat membaca ulasan produk? Ada juga pembeli yang menggunakan kata cute, aesthetic, bahkan istilah Jepang seperti kawaii. Menariknya, komentar tersebut tetap mudah dipahami meskipun menggunakan campuran beberapa bahasa.
Mungkin Kawan GNFI juga pernah menemukan hal serupa. Coba ingat-ingat, berapa kali melihat komentar berbahasa campuran ketika sedang mencari barang di marketplace?
Fenomena ini ternyata cukup dekat dengan kehidupan digital sehari-hari. Bahkan, tanpa disadari, kebiasaan tersebut memperlihatkan bagaimana bahasa berkembang mengikuti lingkungan dan budaya penggunanya.
KetikaBeberapa Bahasa Bertemu dalam Satu Komentar
Dalam kajian linguistik, pertemuan penggunaan dua bahasa atau lebih dikenal sebagai kontak bahasa. Fenomena ini dapat terjadi dalam berbagai situasi, mulai dari percakapan langsung, lingkungan pergaulan, hingga komunikasi melalui media sosial dan platform belanja daring.
Salah satu bentuk kontak bahasa yang sering dijumpai adalah campur kode. Sederhananya, campur kode terjadi ketika seseorang menyisipkan unsur bahasa lain ke dalam bahasa yang sedang digunakan. Contohnya dapat dilihat dalam ungkapan โworth it bangetโ. Pola kalimatnya menggunakan bahasa Indonesia, tetapi terdapat frasa bahasa Inggris di dalamnya.
Selain campur kode, ada pula alih kode, yaitu peralihan penggunaan satu bahasa ke bahasa lain dalam sebuah tuturan. Misalnya, seseorang yang awalnya menulis komentar dalam bahasa Indonesia, kemudian beralih menggunakan kalimat berbahasa Inggris.
Kehadiran berbagai unsur bahasa tersebut menunjukkan bahwa komunikasi digital memiliki ruang yang cukup fleksibel. Pengguna dapat mengambil kosakata dari bahasa lain untuk menyampaikan maksud, memberi penekanan, atau menciptakan kesan tertentu. Selama pesan dapat dipahami, percampuran bahasa terasa wajar dalam percakapan.
Kenapa Harus Pakai Bahasa Inggris?
Mungkin ada yang bertanya, mengapa sebagian orang lebih suka menggunakan istilah asing ketika menulis ulasan? Bukankah bahasa Indonesia juga punya banyak kosakata untuk menyampaikan pujian atau rasa puas?
Salah satu alasannya berkaitan dengan kebiasaan berbahasa. Kosakata asing semakin mudah ditemukan melalui film, musik, media sosial, hingga berbagai konten digital. Karena sering didengar dan dibaca, beberapa istilah akhirnya terasa akrab untuk digunakan dalam komunikasi sehari-hari.
Selain itu, pilihan kata juga dapat memberikan nuansa yang berbeda. Mungkin saja seperti ungkapan yang terasa lebih praktis, atau terkadang entah bagaimana lebih sesuai dengan suasana yang ingin disampaikan. Misalnya, seseorang mungkin merasa kata cute lebih pas untuk menggambarkan gantungan kunci karakter favoritnya.
Hal menarik lainnya terlihat dari gaya penulisan khas warganet. Kata-kata seperti โlucuuuuโ, โmaaciiiwโ, atau โBGTTTTโ sering muncul untuk menunjukkan antusiasme. Hurufnya boleh memanjang sampai memenuhi layar, yang penting rasa senangnya tersampaikan!
Penggunaan emoji, tanda baca berulang, dan ejaan yang dimodifikasi juga ikut memberi warna pada komentar. Dalam komunikasi tertulis, ekspresi wajah dan intonasi tidak dapat terlihat secara langsung. Karena itu, pengguna internet sering memanfaatkan berbagai cara untuk menunjukkan perasaan melalui tulisan.
Ada Hubungannya dengan Anime?
Nah, bagian ini yang membuat fenomena tersebut semakin menarik bagi penulis. Produk bertema anime memiliki hubungan erat dengan budaya populer Jepang. Seiring penyebaran anime ke berbagai negara, sejumlah istilah dari bahasa Jepang ikut dikenal oleh para penontonnya.

Pengaruh budaya populer Jepang, seperti anime, yang turut membentuk cara komunitas penggemar berkomunikasi. (Foto: Pexels/Stephen Leonardi)
Salah satu contohnya adalah kawaii, yang berarti imut atau menggemaskan. Istilah ini cukup populer dalam budaya Jepang dan sering digunakan untuk menggambarkan karakter maupun benda yang dianggap lucu. Ketika muncul dalam ulasan merchandise, kata tersebut menjadi salah satu pilihan untuk menyampaikan kesan terhadap produk.
Selain istilah Jepang, kosakata bahasa Inggris juga sering digunakan dalam pembahasan merchandise. Sebut saja keychain untuk gantungan kunci, freegift untuk hadiah tambahan, packaging untuk kemasan, istilah-istilah tersebut cukup akrab dalam kegiatan jual beli produk koleksi.
Kawan GNFI, dunia fandom memang memiliki istilah dan kebiasaan komunikasi yang khas. Para penggemar sering menggunakan kosakata yang akrab dalam komunitasnya. Istilah tersebut kemudian menyebar melalui unggahan, forum, media sosial, hingga interaksi jual beli merchandise.
Tentu saja, penggunaan istilah tertentu tidak serta-merta membuktikan kemampuan bahasa atau latar belakang seseorang. Namun, pilihan kata yang muncul dapat memberikan gambaran tentang budaya populer yang memengaruhi komunikasi mereka.
Kolom Ulasan, Ruang Kecil dengan Cerita Beragam
Selama ini, kolom ulasan marketplace sering dianggap sebagai tempat untuk mencari informasi sebelum membeli barang. Calon pembeli ingin memastikan produk sesuai foto, kemasannya aman, dan barang tiba dalam kondisi baik. Penilaian bintang pun menjadi salah satu pertimbangan sebelum melakukan transaksi.
Namun, kolom ulasan juga dapat dilihat sebagai ruang untuk mengekspresikan pengalaman. Ada pembeli yang menulis komentar panjang dan terperinci. Ada yang cukup memberikan beberapa kata, mengunggah foto, atau menambahkan emoji. Setiap orang memiliki cara tersendiri untuk menyampaikan rasa puas, kecewa, maupun ucapan terima kasih kepada penjual.
Dari sudut pandang kebahasaan, komentar-komentar tersebut cukup menarik untuk diamati bagi penulis. Tulisan singkat yang muncul setelah sebuah transaksi dapat memperlihatkan pilihan kosakata, gaya komunikasi, serta pertemuan berbagai unsur budaya. Bahkan, aktivitas sederhana seperti memberikan ulasan produk dapat menjadi bagian dari perkembangan bahasa di ruang digital.
Jadi, Kawan GNFI, lain kali saat sedang berburu barang di marketplace, cobalah sesekali memperhatikan bahasa dalam kolom ulasannya. Di antara foto produk, bintang penilaian, dan komentar pembeli, ada banyak hal menarik yang bisa ditemukan. Pilihan kata yang terlihat sederhana ternyata dapat bercerita tentang kebiasaan berbahasa, pengaruh budaya populer, hingga cara orang mengekspresikan diri di ruang digital.
Kolom ulasan memang bisa menjadi tempat mencari pertimbangan sebelum membeli barang. Namun, siapa sangka, dari sana juga bisa ditemukan cerita tentang bahasa yang terus berkembang. Dan kalau setelah membaca ulasan itu akhirnya ikut memasukkan merchandise ke keranjang, yaโฆ itu urusan lain.


