Kabupaten Garut, Jawa Barat, menyimpan berbagai jejak sejarah yang belum sepenuhnya terungkap. Salah satunya berada di Kampung Cibangban, RT 003/RW 010, Kelurahan Karangmulya, Kecamatan Karangpawitan. Di kawasan ini ditemukan Lingga-Yoni dan sejumlah fragmen batu yang diduga merupakan bagian dari bangunan candi pada masa lampau.
Temuan tersebut menjadi pintu masuk untuk menelusuri kemungkinan adanya aktivitas keagamaan Hindu di kawasan Garut pada masa lalu. Namun, di balik bentuk batu-batu yang menarik perhatian itu, masih terdapat sejumlah pertanyaan mengenai asal-usul, usia, dan konteks sejarahnya.
Pada Kamis, 29 Oktober 2026, penelusuran dilakukan ke lokasi temuan. Melalui Lembaga Ta'lif wan Nasyr (LTN) Nahdlatul Ulama Majelis Wakil Cabang (MWC) Karangpawitan, penelusuran tersebut mempertemukan saya dengan Rian, salah seorang bagian dari tim yang mendalami keberadaan Lingga-Yoni di Cibangban.
Dalam kesempatan itu, saya memperoleh penjelasan lebih terperinci mengenai temuan tersebut, sekaligus membaca dokumen Dokumentasi Visual Objek Diduga Cagar Budaya (ODCB) yang disusun oleh LTN NU MWC Karangpawitan.
Dokumentasi ini menjadi salah satu sumber awal untuk memahami karakter temuan batu, lokasi keberadaannya, serta berbagai informasi yang masih perlu ditelusuri melalui penelitian arkeologis.
Berawal dari Survei pada November 2024
Identifikasi temuan di Cibangban tidak terlepas dari keterlibatan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) bersama Tim Ahli Cagar Budaya Kabupaten Garut.
Menurut Warjita, sejarawan Garut, identifikasi Lingga-Yoni dan fragmen batu yang diduga merupakan bagian dari bangunan candi bermula dari survei lapangan yang dilakukannya bersama Tim Ahli Cagar Budaya dan Disparbud pada November 2024.
Penelusuran tersebut kemudian ditindaklanjuti oleh Dr. Lutfi Yondri, M.Hum., dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Rangkaian kegiatan ini menunjukkan pentingnya kerja sama antara pemerintah daerah, ahli cagar budaya, peneliti, dan masyarakat dalam mengenali tinggalan sejarah yang masih berada di lingkungan permukiman.
Temuan di Cibangban berada di lingkungan Pesantren Daarusholihin, dekat kompleks pemakaman lama. Sejumlah batu yang ditemukan memiliki bentuk dan karakter yang diduga berkaitan dengan komponen bangunan candi.
Lingga-Yoni dan Fragmen Batu Andesit
Salah satu temuan penting dalam dokumentasi ODCB adalah Lingga-Yoni yang terbuat dari batu andesit.
Berdasarkan dokumen tersebut, Lingga-Yoni masih berada dalam satu kesatuan. Bagian lingganya dilaporkan masih utuh, sedangkan bagian cerat yoni telah hilang atau mengalami kerusakan.
Dalam tradisi Hindu, Lingga-Yoni berkaitan dengan pemujaan terhadap Siwa. Karena itu, keberadaan benda tersebut menjadi petunjuk arkeologis yang penting untuk mengkaji kemungkinan aktivitas keagamaan Hindu aliran Saiwa di kawasan Cibangban.
Selain Lingga-Yoni, dokumentasi mencatat sejumlah batu yang diduga merupakan komponen arsitektur candi, antara lain pelipit sisi genta, pelipit jangga, pelipit patta, dan batu perimping.
Terdapat pula balok-balok batu andesit yang kini dimanfaatkan sebagai anak tangga kolam penduduk dan fondasi.
Bentuk serta pengerjaan batu-batu tersebut membuka peluang penelitian mengenai kemungkinan adanya bangunan kuno di kawasan itu. Meski demikian, identifikasi sebagai bagian dari bangunan candi masih perlu diperkuat melalui kajian arkeologis.
Hingga kini, dokumen yang tersedia belum memberikan kepastian mengenai usia bangunan asal, nama kerajaan yang membangunnya, ataupun bentuk bangunan secara keseluruhan.
Dari Tinggalan Masa Lalu Menjadi Batu Istiwa
Salah satu informasi menarik disampaikan Warjita mengenai pemanfaatan Lingga-Yoni tersebut oleh masyarakat.
Sebelum dikenal sebagai Lingga-Yoni dalam penelusuran arkeologis, batu itu telah lama disebut sebagai batu istiwa dan digunakan masyarakat untuk membantu menentukan waktu salat.
Batu istiwa berkaitan dengan pengamatan posisi Matahari, khususnya ketika Matahari mencapai titik kulminasi. Pengamatan tersebut merupakan salah satu metode yang dikenal dalam penentuan waktu salat.
Keterangan ini menambah dimensi menarik dalam perjalanan benda tersebut. Batu yang secara arkeologis diduga berkaitan dengan tradisi keagamaan Hindu ternyata juga memiliki fungsi praktis dalam kehidupan masyarakat Islam pada masa berikutnya.
Fenomena penggunaan kembali benda lama merupakan bagian dari dinamika sejarah masyarakat. Namun, kapan perubahan fungsi itu berlangsung dan bagaimana prosesnya terjadi masih memerlukan penelitian tersendiri.
Dengan demikian, cerita mengenai batu istiwa ini perlu dipahami sebagai keterangan sejarah pemanfaatan benda berdasarkan informasi yang disampaikan Warjita, bukan sebagai bukti yang menentukan usia atau asal-usul Lingga-Yoni.
Berdekatan dengan Situ Cidahu
Hal lain yang menarik perhatian dalam penelusuran ini adalah kedekatan lokasi temuan dengan Situ Cidahu.
Menurut Warjita, kondisi geografis tersebut membuka kemungkinan bahwa bangunan candi yang berkaitan dengan Lingga-Yoni dan fragmen batu pernah berdiri di kawasan sekitarnya.
Dugaan ini menarik untuk diteliti lebih lanjut. Keberadaan Lingga-Yoni, batu-batu yang diduga merupakan komponen candi, dan kedekatan lokasinya dengan Situ Cidahu dapat menjadi dasar untuk menyusun penelitian arkeologis yang lebih luas.
Namun, kedekatan geografis tidak serta-merta membuktikan bahwa sebuah candi pernah berdiri tepat di sekitar situ. Diperlukan pemetaan sebaran temuan, penelitian lapangan, kajian kondisi lingkungan, dan penelusuran sumber sejarah untuk menguji dugaan tersebut.
Pertanyaan mengenai lokasi asli batu-batu itu juga masih terbuka. Apakah seluruhnya berasal dari satu bangunan, ataukah telah berpindah tempat sebelum digunakan kembali oleh masyarakat?
Jawaban atas pertanyaan tersebut dapat membantu mengungkap konteks sejarah temuan Cibangban.
Batu Candi di Lingkungan Pemakaman Lama
Dokumentasi ODCB juga mencatat pemanfaatan sejumlah batu yang diduga berasal dari bangunan candi sebagai pembatas makam dan nisan di kompleks pemakaman lama.
Di lokasi tersebut terdapat dua batu nisan yang mencantumkan angka tahun Hijriah 1211 H dan 1215 H.
Informasi ini memberikan petunjuk untuk mengkaji sejarah kompleks pemakaman. Akan tetapi, angka tahun pada nisan tidak dapat langsung digunakan untuk menentukan usia Lingga-Yoni atau waktu pembangunan bangunan yang diduga menjadi asal fragmen batu.
Dokumen juga memuat informasi masyarakat mengenai dugaan hubungan temuan batu dengan lokasi pengambilan tanah untuk pembangunan jalur kereta api yang tidak jauh dari pesantren.
Keterangan tersebut masih memerlukan verifikasi melalui penelusuran arsip pembangunan jalur kereta api, wawancara lanjutan, dan penelitian arkeologis.
Menjaga Jejak Sejarah yang Belum Terungkap

Temuan Batu ODCB/Foto : Rian-LTN NU Kp. Cibangban, Karangpawitan, Garut
Temuan Lingga-Yoni dan fragmen batu di Cibangban memperlihatkan bahwa sejarah lokal masih menyimpan banyak pertanyaan yang perlu dijawab melalui penelitian.
Dokumentasi LTN NU MWC Karangpawitan menjadi data awal identifikasi temuan. Disparbud, Tim Ahli Cagar Budaya, dan Dr. Lutfi Yondri dari BRIN turut mendukung kajian lanjutan untuk memastikan identitas dan nilai sejarah benda-benda terseb
Keberadaan temuan ini berpotensi memperkaya kajian mengenai sejarah keagamaan, perkembangan permukiman, dan pemanfaatan ruang di wilayah Garut pada masa lampau.
Namun, potensi tersebut perlu diikuti inventarisasi setiap benda, analisis bahan dan bentuk, penelusuran lokasi asal, serta penelitian arkeologis dapat dipertanggungjawabkan.
Pada akhirnya, Temuan Cibangban menjadi petunjuk sejarah Garut yang perlu diteliti dan dilestarikan sebagai warisan budaya.


