Jika Kawan GNFI berkunjung ke Kabupaten Subang, Jawa Barat, ada satu kesenian rakyat yang hampir pasti selalu mencuri perhatian. Musik kendang yang bertalu-talu, terompet yang melengking khas, serta gelak tawa penonton mengiringi empat orang pria yang menari lincah sambil memikul boneka singa besar. Di atas singa itu, duduk seorang anak kecil yang tersenyum bangga.
Itulah sisingaan, atau yang sering juga disebut "Gotong Singa". Bagi masyarakat modern, sisingaan mungkin dikenal sebagai hiburan seru untuk merayakan acara khitanan atau menyambut tamu penting. Namun, tahukah Kawan bahwa sejarah kelahiran kesenian ini ternyata memiliki banyak sudut pandang yang sangat mendalam?
Menelusuri Akar Sejarah Sisingaan, 3 Wajah di Balik Satu Tradisi
Sejarah kelahiran sisingaan di Subang tidaklah tunggal. Para ahli sejarah dan budayawan memiliki beberapa sudut pandang mengenai apa yang memicu lahirnya kesenian unik ini. Setidaknya, ada tiga versi sejarah yang melatarbelakangi kemunculan sisingaan:
Simbol Perlawanan Cerdas terhadap Penjajah
Versi yang paling populer menyebutkan bahwa sisingaan lahir pada masa penjajahan Inggris dan Belanda ketika Subang dikuasai oleh penguasa tanah partikelir (P&T Lands).
Masyarakat Subang sengaja membuat boneka singa yang mirip dengan lambang negara Inggris (United Kingdom) dan kemudian Belanda.
Tradisi ini, menaruh anak kecil di atas punggung singa dan digotong oleh empat orang dewasa, mengandung satir: suatu hari nanti, generasi muda Subang yang akan menginjak-injak dan mengusir kekuasaan asing dari tanah mereka. Karena dikemas sebagai hiburan rakyat, para penjajah tidak menaruh curiga.
Sindiran tersebut sengaja dilakukan, sebab masyarakat Subang pada masa itu tidak mampu melawan penjajah secara langsung. Melalui kesenian sisingaan ini diharapkan adanya persatuan dari rakyat Subang untuk melawan penjajah ketika sisingaan digelar.
Akan tetapi ada hal menarik dari versi ini. Makna sisingaan sebagai simbol perlawanan rakyat Subang baru muncul belakangan, tepatnya setelah pelaksanaan seminar sisingaan pada tahun 1988. Fakta ini membuktikan adanya metamorfosis atau perubahan nilai simbolis yang melekat pada kesenian tradisional tersebut.
Media Syiar dan Islamisasi
Versi yang ke-2 melihat Sisingaan erat kaitannya dengan proses islamisasi atau penyebaran agama Islam di tatar Sunda. Tradisi ini diciptakan sebagai daya tarik atau media hiburan untuk anak-anak yang akan dikhitan (sunat).
Dalam tradisi Islam, khitanan adalah simbol fase penting seorang anak laki-laki menuju kedewasaan. Agar anak-anak tidak takut menghadapi proses khitanan, mereka dihibur dengan cara diarak keliling kampung menunggangi boneka singa layaknya seorang raja sehari.
Musik yang riang dan atraksi yang seru berhasil mengalihkan rasa takut anak-anak sekaligus mengumpulkan masyarakat untuk mempererat tali silaturahmi.
Untuk versi ke-2 ini terdapat hal unik di dalamnya, sebab masyarakat Sunda tidak mengenai hewan Singa yang menjadi hewan tunggangan di sisingaan. Oleh karena itu, muncul dugaan bahwa ada pengaruh asing yang masuk ke Subang. Dugaan yang paling kuat yaitu adanya pengaruh dari Persia dan India melalui hubungan perdagangan.
Hal ini diperkuat dengan adanya temuan arkeologi manik-manik yang ditemukan di kawasan Situs Subanglarang. Manik-manik tersebut berasal dari Asia Selatan. Ini didasarkan pada bentuk ukiran yg terdapat pada manik-manik tersebut. Selain itu, ukiran tersebut menunjukkan waktu yang diperkirakan sekitar abad ke-15.
Di Asia Selatan telah berdiri kerajaan islam pada abad ke-15 yang dikenal dengan nama Kerajaan Mughal. Kerajaan ini memiliki bendera berwarna hijau yang terdapat gambar matahari dan singa, seperti yang terdapat pada bendera Kerajaan Safawi (Persia).
Bendera sebagai salah satu wujud identitas suatu bangga dan identitas merupakan proses yang penting dalam berkomunikasi. Dalam dunia perdagangan bendera biasanya diletakkan di tiang kapal paling atas yang secara tidak langsung menyebarluaskan identitasnya.
Masyarakat Subang diduga mulai mengenal singa saat berinteraksi dengan pendatang dari India di sekitar lokasi penemuan manik-manik. Proses komunikasi tersebut sejalan dengan masifnya penyebaran agama Islam yang dilakukan oleh orang-orang Arab, Persia, dan India sejak abad ke-7 sampai abad ke-15.
Ungkapan Terima Kasih kepada Tuan Tanah
Untuk versi terakhir ini, ada dugaan bahwa sisingaan adalah ucapan atau ungkapan terima kasih kepada tuan tanah yang telah mensejahterakan masyarakatnya yang bernama Peter Willem Hofland.
Peter Willem Hofland atau P.W. Hofland adalah tuan tanah berkebangsaan Belanda campuran. Ia dilahirkan di Madras, India.
Perkembangan wilayah Subang tidak terlepas dari kontribusi signifikan yang diberikan oleh P.W. Hofland. Beliau adalah tuan tanah di Kabupaten Subang dari tahun 1848-1872. Selama kepemilikannya, Subang menjadi wilayah produktif, dari awalnya tidak bisa ditanam apa-apa hingga menghasilkan profit yang besar.
Selain memajukan sektor pertanian ekspor lewat irigasi, P.W. Hofland juga meningkatkan kesejahteraan warga melalui pasar murah dan pendidikan. Ia mendirikan sekolah dasar untuk belajar berhitung serta bahasa Melayu. Berbagai terobosan ini membuatnya memiliki reputasi yang sangat baik di mata pemerintah kolonial dan penduduk lokal.
Keuntungan finansial yang didapatkan pemerintah dari bisnis ekspor P.W. Hofland menjadikannya sosok yang sangat dihargai oleh pemerintah Hindia Belanda.
Begitu besarnya pengaruh Hofland hingga saat ia meninggal pada tahun 1872, Kerajaan Belanda menganugerahinya gelar The Order of the Netherlands Lion. Sebagai bentuk penghormatan terakhir, dibuatkan sebuah makam yang megah serta mencolok dibangun khusus untuk dirinya.
Pemberian gelar Lion oleh Kerajaan Belanda kepada P.W. Hofland memicu dugaan bahwa kesenian sisingaan dibuat demi menghormatinya. Namun, pencetus tradisi ini ditengarai bukan masyarakat kelas bawah, melainkan kelompok elite lokal. Mengingat peran mereka sebagai penyambung lidah antara penguasa dan rakyat, kaum elite ini memiliki kedekatan khusus dengan sang tuan tanah.
Sintesis Nilai: Mana Sejarah yang Paling Benar?
Kita tidak perlu memperdebatkan versi sejarah mana yang paling benar karena kebudayaan selalu berkembang, dan sisingaan Subang bisa jadi merupakan gabungan dari ketiganya.
Seni gotong singa ini tidak hanya memenuhi unsur ritual khitanan dan potret sosio-ekonomi masa lalu, tetapi juga menyimpan pesan perlawanan rakyat yang terselubung. Sudut pandang yang kaya inilah yang membuat nilai budayanya begitu luar biasa
Sisingaan di Era Modern: Simbol Identitas yang Tak Lekang Waktu
Seiring perkembangan zaman pasca-kemerdekaan, esensi pertunjukan sisingaan kembali bergeser menjadi seni pertunjukan serbaguna. Kesenian ini kini lazim dijumpai sebagai penghormatan bagi tamu agung, daya tarik utama festival budaya Subang, hingga bagian dari ritual ruatan bumi saat panen raya.
Secara filosofis, tarian yang bertumpu pada keseimbangan empat orang pemikul ini memberikan pelajaran berharga mengenai arti kekompakan dan gotong royong, sebab keindahan gerak singa tersebut sepenuhnya bergantung pada sinergi yang solid di antara mereka.


