seikerei ketika rakyat dipaksa membungkuk ke arah matahari terbit - News | Good News From Indonesia 2026

Seikerei: Ketika Rakyat Dipaksa Membungkuk ke Arah Matahari Terbit

Seikerei: Ketika Rakyat Dipaksa Membungkuk ke Arah Matahari Terbit
images info

Seikerei: Ketika Rakyat Dipaksa Membungkuk ke Arah Matahari Terbit | Sumber: Generated AI


Ikuti GNFI di WhatsApp

Seikerei merupakan sebuah ritual penghormatan yang wajib dilaksanakan oleh masyarakat Indonesia pada masa pendudukan militer Jepang. Kewajiban ini menjadi potret kelam bagaimana kediktatoran penguasa berusaha menundukkan tidak hanya fisik, tetapi juga nilai spiritual rakyat.

Pelaksanaan ritual ini memicu gejolak besar di berbagai penjuru daerah. Penolakan demi penolakan dilancarkan karena aturan tersebut dinilai menciderai keyakinan tauhid yang dipegang teguh oleh masyarakat.

Seikerei, Penghormatan kepada Kaisar Jepang yang Diwajibkan

Pengertian seikerei dapat dijelaskan sebagai sikap membungkukkan badan serong ke arah timur laut menuju Kota Tokyo. Ritual penghormatan ini diwajibkan oleh pemerintah militer Jepang untuk dilaksanakan oleh masyarakat setiap pukul tujuh pagi.

Tata cara pelaksanaannya menuntut setiap orang berdiri tegak lalu membungkuk secara dalam sebagai tanda tunduk. Dalam konteks pendudukan Jepang di Indonesia, aturan ini diberlakukan secara ketat di sekolah-sekolah, instansi pemerintahan, hingga keramaian umum.

Praktik seremonial tersebut dipaksakan kepada seluruh lapisan warga tanpa terkecuali. Akibatnya, kebiasaan hidup masyarakat sehari-hari diatur secara paksa demi memenuhi ambisi doktrinasi budaya penguasa imperialis.

baca juga

Mengapa Rakyat Indonesia Diwajibkan Melakukan Seikerei?

Kedudukan Kaisar Hirohito dalam sistem kepercayaan Shinto di Jepang ditempatkan pada posisi yang sangat suci. Sosok Kaisar diyakini sebagai keturunan langsung dari Dewa Matahari atau Amaterasu Omikami.

Oleh karena itu, penghormatan setinggi-tingginya wajib dipersembahkan kepada sang pemimpin.

Kebijakan seikerei dimanfaatkan oleh pihak Jepang sebagai sarana penanaman loyalitas mutlak dan disiplin militer. Melalui ritual yang dipaksakan ini, kepatuhan rakyat terhadap kekuasaan pendudukan berusaha dibentuk secara sistematis.

Lagu kebangsaan Jepang, Kimigayo, juga kerap diperdengarkan bersamaan dengan pengibaran bendera Hinomaru untuk melengkapi proses internalisasi budaya tersebut.

Segala keramahan Jepang pada awal kedatangannya pun terbukti hanya sekadar propaganda manis belaka.

baca juga

Penolakan Seikerei, Persinggungan antara Kebijakan Jepang dan Keyakinan Masyarakat

Penolakan keras terhadap kewajiban seikerei dilancarkan oleh kalangan ulama dan masyarakat muslim Indonesia. Pembungkukan badan kepada selain Allah SWT dianggap sebagai perbuatan yang bertentangan dengan asas tauhid dalam ajaran Islam.

Tokoh-tokoh besar seperti K.H. Hasyim Asy'ari dan K.H. Zaenal Mustofa secara tegas menentang pelaksanaan ritual tersebut. Penolakan ini tidak hanya didasari oleh prinsip keagamaan semata, tetapi juga menjadi bentuk perlawanan terhadap dominasi penjajah.

Selain seikerei, ketegangan semakin diperparah oleh berbagai aturan diskriminatif lainnya. Pelarangan pengibaran bendera Merah Putih, pembatasan lagu Indonesia Raya, serta pelarangan penggunaan bahasa dan tulisan Arab makin menyulut perlawanan rakyat.

baca juga

6 Jenis Teuku Abdul Jalil dan Perlawanan terhadap Kewajiban Seikerei di Aceh

Perlawanan fisik pertama terhadap kekejaman pendudukan Jepang meletus di wilayah Cot Plieng, Aceh, pada tahun 1942. Gerakan perjuangan ini dipimpin oleh seorang ulama kenamaan bernama Teuku Abdul Jalil.

Latar belakang perlawanan dipicu oleh kemurkaan rakyat atas tindakan sewenang-wenang serta penistaan nilai keagamaan yang dilakukan tentara Jepang.

Panggilan menghadap dari aparat pendudukan ditolak secara tegas oleh Teuku Abdul Jalil. Akibatnya, bentrokan fisik tak terelakkan hingga tempat pengajiannya dibakar oleh pasukan Jepang.

Pertempuran sengit akhirnya pecah pada November 1942 dan mengakibatkan Teuku Abdul Jalil gugur di medan bakti. Meskipun pemimpin perjuangan telah gugur, semangat perlawanan rakyat Aceh tidak pernah padam dan justru makin meluas ke daerah lain.

baca juga

Seikerei sebagai Potret Ketegangan pada Masa Pendudukan Jepang

Praktik seikerei menjadi bukti nyata bahwa penjajahan tidak hanya merampas sumber daya alam, tetapi juga berusaha mengendalikan kedaulatan mental rakyat. Ritual ini digunakan sebagai instrumen politik untuk mengukur sejauh mana masyarakat dapat ditundukkan.

Namun, tekanan dan paksaan yang dilancarkan oleh pemerintah militer pendudukan justru membangkitkan keberanian bangsa Indonesia. Keteguhan dalam mempertahankan akidah dan prinsip hidup menjadi dorongan utama dalam memicu perlawanan di berbagai daerah.

Peristiwa penolakan seikerei memperlihatkan bahwa kehormatan dan keyakinan masyarakat tidak dapat dibeli dengan propaganda. Sejarah mencatat bahwa perlawanan terhadap ritual ini menjadi pilar penting dalam merawat api perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. 

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Revaldy Maulana Latumeten lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Revaldy Maulana Latumeten.

RM
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.