Kawan GNFI, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menjadi tantangan dalam upaya menjaga lingkungan di Indonesia. Selain merusak vegetasi dan habitat satwa, kebakaran juga dapat menghasilkan asap yang mengganggu kesehatan serta aktivitas masyarakat di sekitar wilayah terdampak.
Penanganan kebakaran dengan skala dan karakteristik yang berbeda membutuhkan peralatan serta metode yang sesuai. Hal ini juga berlaku untuk kebakaran di lingkungan sehari-hari, seperti rumah, kantor, atau fasilitas umum. Ketika api masih dalam tahap awal, penggunaan alat pemadam yang tepat dapat membantu mencegah kebakaran berkembang lebih besar.
Salah satu perlengkapan yang digunakan untuk keperluan tersebut adalah Alat Pemadam Api Ringan (APAR). Meski bentuknya relatif serupa, APAR memiliki beberapa jenis dengan media pemadam dan fungsi yang berbeda.
Karena itu, penting bagi kita untuk mengenali karakteristik setiap jenis APAR agar penggunaannya sesuai dengan sumber api dan kondisi kebakaran. Untuk mengetahui lebih lanjut, yuk, simak pembahasan selengkapnya!
Apa Itu APAR?
Alat Pemadam Api Ringan (APAR) adalah alat pemadam portabel yang dirancang untuk menangani kebakaran pada tahap awal, ketika api masih relatif kecil dan memungkinkan untuk dikendalikan. Alat ini umumnya berbentuk tabung bertekanan yang berisi media pemadam, seperti air, busa, serbuk kimia kering, atau karbon dioksida.
Biasanya, alat ini juga menjadi bagian dari perlengkapan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) di lingkungan perusahaan. Fungsi utama APAR adalah membantu menghentikan pembakaran sebelum api menyebar lebih luas. Cara kerjanya bergantung pada jenis media yang digunakan, mulai dari menurunkan suhu bahan yang terbakar hingga menghambat kontak bahan bakar dengan oksigen atau menghentikan reaksi pembakaran.
Namun, APAR tidak dapat digunakan untuk semua jenis kebakaran. Penggunaan media pemadam yang tidak sesuai justru dapat menimbulkan bahaya tambahan. Oleh sebab itu, penting untuk memahami karakteristik setiap jenis APAR sebelum menggunakannya.
Jenis-Jenis APAR dan Fungsinya
Berdasarkan media pemadam yang digunakan, terdapat empat jenis APAR yang umum dijumpai, yaitu APAR air, busa, serbuk kimia kering, dan karbon dioksida. Berikut perbedaan fungsi masing-masing jenisnya.
1. APAR Air (Water)
APAR air menggunakan air bertekanan untuk memadamkan api dengan menurunkan suhu bahan yang terbakar. Ketika panas berkurang, proses pembakaran dapat dihentikan.
Jenis ini cocok untuk kebakaran kelas A, yakni kebakaran yang melibatkan bahan padat non logam, seperti kayu, kertas, kain, dan karet.
Sebagai catatan, APAR air tidak boleh digunakan pada kebakaran yang melibatkan instalasi listrik bertegangan atau cairan mudah terbakar. Air dapat menghantarkan listrik dan berisiko memperluas kebakaran pada bahan tertentu.
2. APAR Busa (Foam)
APAR busa menggunakan media busa, salah satunya Aqueous Film Forming Foam (AFFF), yang membentuk lapisan untuk menutupi permukaan bahan bakar. Lapisan tersebut membantu menghambat kontak bahan bakar dengan oksigen sekaligus mendinginkan permukaan yang terbakar.
APAR busa umumnya digunakan untuk kebakaran kelas A dan B. Selain bahan padat seperti kertas dan kain, jenis ini dapat menangani kebakaran yang melibatkan cairan mudah terbakar, seperti bensin dan minyak tertentu.
Namun, APAR busa tidak cocok untuk kebakaran listrik yang masih bertegangan, kecuali produk tersebut secara khusus dirancang dan dinyatakan aman untuk kondisi tersebut.
3. APAR Serbuk Kimia Kering (Dry Chemical Powder)
APAR serbuk kimia kering menggunakan bubuk kimia yang bekerja dengan menghambat reaksi pembakaran. Jenis ini banyak digunakan karena tersedia dalam formulasi yang mampu menangani beberapa kelas kebakaran sekaligus.
APAR serbuk kimia kering dengan klasifikasi yang sesuai umumnya dapat digunakan untuk kebakaran kelas A, B, dan C, termasuk kebakaran yang melibatkan bahan padat, cairan mudah terbakar, serta instalasi listrik bertegangan.
Salah satu keunggulannya adalah cakupan penggunaan yang relatif luas sehingga sering ditempatkan di kendaraan, rumah, perkantoran, dan fasilitas industri.
Kekurangannya, serbuk yang dilepaskan dapat meninggalkan residu dan mengotori area sekitar. Residu tersebut juga berpotensi mengganggu atau merusak peralatan tertentu, sehingga pemilihan jenis APAR tetap perlu mempertimbangkan kondisi lokasi.
4. APAR Karbon Dioksida (CO₂)
APAR karbon dioksida menggunakan gas CO₂ sebagai media pemadam. Gas ini membantu mengurangi ketersediaan oksigen di sekitar api dan memberikan efek pendinginan ketika dilepaskan.
Jenis ini umumnya digunakan untuk kebakaran kelas B dan C, terutama yang melibatkan cairan mudah terbakar atau peralatan listrik bertegangan. Karena tidak meninggalkan residu padat, APAR CO₂ dapat menjadi pilihan untuk area dengan peralatan elektronik atau yang sesuai dengan kondisi penggunaannya.
Meski begitu, CO₂ perlu digunakan dengan hati-hati di ruang tertutup karena dapat menurunkan kadar oksigen. Pada kebakaran bahan padat tertentu, api juga berpotensi menyala kembali jika sumber panas belum benar-benar hilang.
Mengenal Kelas Kebakaran agar Tidak Salah Memilih APAR
Kawan GNFI, perbedaan jenis APAR tidak hanya terletak pada media pemadamnya, tetapi juga pada jenis kebakaran yang dapat ditangani. Karena itu, mengenali kelas kebakaran menjadi bagian penting dalam menentukan alat yang sesuai. Mengutip dari Dinas Pemadan Kebakaran dan Penyelamatan Kota Banda Aceh, kebakaran dibagi menjadi empat golongan, yaitu sebagai berikut.
- Kelas A: Kebakaran yang melibatkan bahan padat nonlogam, seperti kayu, kertas, kain, dan karet. Jenis APAR yang sesuai antara lain air, busa, dan serbuk kimia kering dengan klasifikasi yang tepat.
- Kelas B: Kebakaran yang melibatkan cairan mudah terbakar, seperti bensin, solar, oli, dan pelarut tertentu. Penanganannya dapat menggunakan APAR busa, serbuk kimia kering, atau CO₂ sesuai karakteristik bahan yang terbakar.
- Kelas C: Kebakaran yang melibatkan instalasi listrik bertegangan dalam klasifikasi yang digunakan di Indonesia pada sumber tersebut. APAR serbuk kimia kering atau CO₂ dapat digunakan sesuai petunjuk dan peruntukan produk.
- Kelas D: Kebakaran yang melibatkan logam mudah terbakar, seperti magnesium, natrium, dan kalium. Kebakaran ini memerlukan media pemadam khusus yang sesuai dengan jenis logamnya.
Perlu diingat bahwa klasifikasi kebakaran dapat berbeda antar standar. Karena itu, Kawan GNFI sebaiknya memeriksa label APAR dan mengikuti pedoman keselamatan yang berlaku di lokasi masing-masing.


