Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) belum juga padam. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat luas kebakaran hutan dan lahan di enam provinsi prioritas mencapai 129.899,59 hektare hingga 12 Oktober 2026. Keenamnya adalah Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.
Karhutla Belum Padam, Api Bersembunyi di Bawah Tanah
Per 13 Oktober, BNPB masih menangani 639,23 hektare lahan, dan 513,89 hektare di antaranya berada di Taman Nasional Tanjung Puting. Pemadaman lewat udara terhambat jarak pandang yang rendah akibat asap tebal, sehingga operasi darat tetap menjadi cara utama.
Di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, petugas menyemprotkan air langsung ke lubang tanah yang menyala. BNPB menyebutnya sebagai ground fire, yaitu api yang menjalar di bawah permukaan walau bagian atas tanah terlihat padam.
BNPB memperkirakan kondisi ini berakhir paling cepat pertengahan Oktober dan paling lambat pekan ketiga November 2026. Studi di ScienceDirect mencatat periode kering akibat El Niño picu kebakaran panjang di gambut Asia Tenggara pada 1997-1998, 2002, 2006, 2009, dan 2015.
Mengapa Api di Lahan Gambut Sulit Padam
Lahan gambut terbentuk secara alami sejak ribuan tahun lalu. Menurut BRIN, ekosistem ini berperan mengatur tata air, menyimpan karbon, dan menjaga keanekaragaman hayati. Indonesia memiliki gambut tropis terluas di dunia, yakni 13,4 juta hektare.

Hutan Terbakar | Wikimedia Commons | Karya: Afriandi Makmur
Masalah muncul saat gambut dikeringkan. Peneliti Ahli Utama BRIN, Budi Hadi Narendra, menjelaskan kalau pertanian intensif membuat gambut lebih padat dan kurang mampu mengalirkan air. Kondisi itu membuatnya rentan terhadap kekeringan dan kebakaran.
Setelah kering, api bisa masuk ke dalam lapisan gambut. Sifatnya yang tersembunyi membuat bara sulit terdeteksi oleh satelit pemantau hotspot biasa. Peneliti Columbia University, Robert Field, melalui laman resmi NASA menyebut bahwa begitu api merambat ke bawah tanah, “api tersebut tak kunjung padam”.
Karena itu, menyiram permukaan saja tidak cukup. BNPB sarankan pembasahan menyeluruh (ground soaking), yang bisa dikombinasikan dengan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) bersama BMKG dan TNI untuk memicu hujan buatan di titik yang sulit dijangkau satgas darat.
Tumbuhan Endemikuntuk Restorasi Gambut
Selain memadamkan api, gambut yang rusak perlu dipulihkan. Studi di ScienceDirect mencari tumbuhan endemik yang cocok untuk menghijaukan kembali lahan gambut terbuka yang pernah terbakar.
Peneliti menanam 21 spesies pohon di dua lokasi di Kalimantan Tengah, yaitu Kalampangan dekat Palangka Raya dan tepian Sungai Sabangau. Selama dua tahun, mereka memantau kelangsungan hidup dan pertumbuhan bibit, serta muka air tanah dan suhu.
Hasilnya, empat spesies paling potensial untuk restorasi lahan gambut adalah balangeran, saga, keramu, dan pasang atau mempening.
Pasang mencatat pertumbuhan tertinggi, yakni 220% dari tinggi awal setelah 1,5 tahun di Kalampangan. Balangeran dan saga menyusul dengan pertumbuhan masing-masing lebih dari 100%.
Tiap lokasi tantangannya berbeda. Di Kalampangan, hambatan utamanya kebakaran. Di tepian sungai, bibit terganggu air yang naik turun ekstrem.
Tumbuhan endemik dipilih karena lebih cocok dengan tanah gambut. Studi itu mencatat kelapa sawit dan akasia jarang berhasil tumbuh di gambut tanpa pengaturan muka air dan pemupukan intensif. Tanpa restorasi aktif, pemulihan akan sangat lambat.
Dari BRIN, Peneliti Ahli Madya Laode Alhamd menyebut enam jenis dengan laju tumbuh terbaik dan tingkat kematian rendah: Acronychia porter, pohon gelam, bintangur, meranti rawa, empening/pasang, dan hangkang atau sejenis pohon nyatoh.

Tanaman Acronychia porter | Foto: alchetron
“Jenis itu melengkapi tumbuhan yang sudah dikenal dalam restorasi ekosistem gambut, seperti ramin, jelutung, punak, meranti rawa, balangeran, nyatoh, dan perepat,” ungkapnya.
Beberapa di antaranya sudah akrab dengan rawa gambut. Meranti bunga tumbuh alami di hutan rawa gambut campuran dan di Kalimantan Selatan juga dikenal sebagai lintang. Hangkang, yang di Kalimantan juga disebut Jongkang, ditemukan di hutan rawa campuran.
Tinjauan Smith dan rekan di The Applied Ecologist menelaah 94 proyek reboisasi gambut. Ada 141 spesies tercatat ditanam, dengan rata-rata 62% bertahan hidup. Spesies yang tumbuh lebih lambat justru bertahan lebih lama, sehingga peneliti mendorong penanaman lebih banyak spesies dan pertukaran data pemantauan.

