Kabupaten Boven Digoel adalah sebuah kabupaten yang terletak di Provinsi Papua Selatan, Indonesia. Ibu kota kabupaten ini berada di Tanah Merah.
Wilayah ini dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2002 dari hasil pemekaran Kabupaten Merauke. Selain namanya yang unik dan keindahan alam yang ciamik, Boven Digoel juga menyimpan rekam jejak sejarah pergerakan bangsa yang sangat penting.
Boven Digoel dikenal luas sebagai lokasi pengasingan para tokoh perintis kemerdekaan Indonesia di era kolonial Belanda. Siapa tokoh saja tokoh yang pernah diasingkan di sana?
Kabupaten Boven Digoel: Selayang Pandang
Melansir dari situs resmi Pemerintah Kabupaten Boven Digoel, nama Boven Digoel berasal dari bahasa Belanda, dengan kata boven yang berarti "atas" atau "hulu". Penamaan ini merujuk pada letak geografisnya yang berada di kawasan hulu Sungai Digoel.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Kabupaten Boven Digoel memiliki luas wilayah sekitar 23.558 km² hingga 27.108 km². Wilayah administratif ini terbagi ke dalam 20 distrik dan 112 kampung.
Per akhir 2024, jumlah penduduk Boven Digoel tercatat sebanyak 71.997 jiwa. Tingkat kepadatan penduduknya tergolong sangat rendah, yaitu sekitar 2,7 jiwa per kilometer persegi.
Secara topografi, sebagian besar wilayahnya merupakan dataran rendah dengan ketinggian berkisar antara 25 hingga 100 meter di atas permukaan laut. Wilayah ini beriklim tropis dengan suhu udara rata-rata 23°C hingga 33°C dan didominasi oleh hutan lebat.
Mayoritas masyarakatnya menggantungkan hidup di bidang pertanian, perkebunan, dan kehutanan. Selain itu, masyarakat lokal yang tinggal di daerah aliran sungai biasanya aktif mencari ikan.
Kawan GNFI, Boven Digoel juga menjadi salah satu wilayah di Papua yang dikembangkan menjadi pusat perkebunan kelapa sawit.
Penjara Boven Digoel dan Pengasingan Bung Hatta dkk
Sejarah Boven Digoel sebagai tempat pengasingan bermula dari keputusan rapat Raad van Nederlandsch-Indie pada 18 November 1926. Pemerintah kolonial Belanda kemudian membangun kamp konsentrasi ini pada awal tahun 1927 di bawah pimpinan Kapten L. Th. Becking.
Pembuangan para tokoh pergerakan dilakukan tanpa proses peradilan menggunakan hak istimewa Exorbitante Rechten. Lokasi ini terisolasi di tengah hutan belantara dan rawa-rawa sehingga sangat sulit bagi para tahanan untuk melarikan diri.
Kompleks pengasingan ini terbagi menjadi dua area utama, yaitu kamp Tanah Merah dan Tanah Tinggi. Tahanan yang kooperatif ditempatkan di Tanah Merah. Sementara itu, tahanan non-kooperatif diasingkan ke Tanah Tinggi.
Mohammad Hatta dan Sutan Sjahrir tiba di pengasingan Tanah Merah pada Januari 1935. Kedua tokoh PNI Baru ini diasingkan karena aktivitas politik mereka dianggap membahayakan kekuasaan Belanda.
Selama berada di Digoel, Bung Hatta tetap aktif membaca, menulis, dan memberi pelajaran kepada sesama tahanan. Akibat kecaman publik internasional, Belanda akhirnya memindahkan Hatta dan Sjahrir ke Banda Neira pada 1936.
Selain Bung Hatta dan Sjahrir, tokoh pergerakan lain seperti Sayuti Melik, Marco Kartodikromo, dan Chalid Salim juga turut dibuang ke Digoel. Total tawanan politik yang pernah mendekam di kamp ini mencapai lebih dari 1.200 orang.
Lingkungan yang keras serta maraknya penyakit malaria dan TBC membuat banyak pejuang gugur di tempat pembuangan ini. Tokoh pers Mas Marco Kartodikromo bahkan wafat dan dimakamkan di Digoel pada tahun 1935.
Pada tahun 1943 menjelang masuknya tentara Jepang, Belanda menutup kamp ini dan memindahkan para tahanan ke Australia. Saat ini, bekas Penjara Boven Digoel ditetapkan sebagai situs cagar budaya nasional.


