filosofi penamaan kereta api indonesia - News | Good News From Indonesia 2026

Filosofi Penamaan Kereta Api di Indonesia: Mengangkat Alam dan Tradisi Nusantara

Filosofi Penamaan Kereta Api di Indonesia: Mengangkat Alam dan Tradisi Nusantara
images info

Rangkaian kereta api di Indonesia dengan latar belakang pegunungan megah. | AI generated


Ikuti GNFI di WhatsApp

Pernahkah Anda bertanya-tanya dari mana asal nama-nama kereta api di Indonesia? Sebut saja Bromo, Sindoro, Lodaya, hingga Turangga. Nama-nama tersebut terdengar akrab di telinga masyarakat, tetapi memiliki latar belakang yang sangat khas dengan kekayaan tanah air.

PT Kereta Api Indonesia (Persero) memiliki tradisi memberi nama kereta berdasarkan kekayaan alam, cerita rakyat, hingga sejarah Nusantara. Langkah ini bertujuan agar kereta api tidak sekadar menjadi alat transportasi, melainkan juga cerminan identitas dan budaya bangsa.

Terinspirasi dari Nama Gunung yang Megah

Banyak kereta kelas eksekutif menggunakan awalan kata "Argo", yang dalam bahasa Jawa kuno berarti gunung. Penggunaan nama gunung mencerminkan ketangguhan, keanggunan, serta pemandangan indah yang dilewati jalur kereta tersebut.

Pertama, ada kereta api Argo Bromo. Namanya diambil dari Gunung Bromo di Jawa Timur yang terkenal dengan keindahan kawahnya.

Ada juga kereta api Argo Lawu dan Argo Dwipangga. Dua nama kereta api paling populer di Pulau Jawa ini terinspirasi dari Gunung Lawu yang berdiri di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Terakhir ada Argo Sindoro dan Argo Muria yang mengabadikan nama gunung-gunung tinggi di Jawa Tengah.

Berakar dari Nama Sungai Besar

Selain gunung, aliran sungai juga menjadi sumber inspirasi nama kereta. Sungai melambangkan aliran kehidupan dan kelancaran perjalanan.

Ada kereta api Serayu yang namanya diambil dari nama Sungai Serayu yang mengalir melintasi beberapa kabupaten di Jawa Tengah.

Ada juga kereta api Bogowonto. Dinamai seperti itu karena terinspirasi dari Sungai Bogowonto yang hulunya berada di kawasan Gunung Sumbing dan bermuara di Samudra Hindia.

Lagi, kereta api Bengawan yang namanya merujuk pada Bengawan Solo, sungai terpanjang di Pulau Jawa.

Diambil dari Satwa Langka dan Cerita Budaya

KAI juga mengangkat nama satwa asli Indonesia serta tokoh-tokoh cerita pewayangan:

  • Turangga: Berasal dari kata dalam bahasa Jawa yang berarti kuda tunggangan bangsawan, lambang kecepatan dan keandalan.
  • Sancaka: Terinspirasi dari sosok ular naga yang dipercaya kuat dan menjaga ketenangan alam.
  • Harina: Memiliki arti kijang kencana, melambangkan keanggunan dan kelincahan dalam bergerak.

Tradisi penamaan ini menjadi cara sederhana namun bermakna untuk memperkenalkan kekayaan alam dan budaya Indonesia kepada para penumpang di setiap perjalanan.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Muhammad Sholeh lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Muhammad Sholeh.

MS
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.