Ada sebuah cerita rakyat dari Kalimantan Timur tentang sumpah seorang ayah di Pocepak. Sumpah ini terucap karena sang ayah mendapatkan hukuman atas perbuatan yang tidak dia lakukan sama sekali.
Bagaimana kisah lengkap dari cerita rakyat Kalimantan Timur tersebut?
Kisah Sumpah Seorang Ayah di Pocepak, Cerita Rakyat dari Kalimantan Timur
Dinukil GNFI dari buku Serpihan Cerita Rakyat Kalimantan Timur, alkisah pada zaman dahulu hiduplah sebuah keluarga yang terdiri dari pasangan suami istri dan seorang anak perempuan. Mereka hidup dengan rukun dan bahagia bersama.
Pada suatu masa, sang istri jatuh sakit. Tidak lama kemudian, sang istri pun meninggal dunia akibat penyakit tersebut.
Kini hanya tinggal sang ayah bersama anak perempuannya. Mereka pun hanya hidup berdua sejak saat itu.
Setiap hari sang ayah selalu pergi bekerja ke ladang. Dia pun selalu membawa anak perempuannya tersebut pergi ke ladang.
Dia tidak ingin anaknya hanya tinggal sendirian di rumah. Oleh sebab itu, dirinya selalu membawa sang putri untuk ikut pergi bekerja bersamanya.
Seiring berjalannya waktu, anak gadis tersebut mulai tumbuh dewasa. Dari awalnya yang hanya anak perempuan, dirinya pun tumbuh menjadi gadis yang cantik jelita.
Walau begitu dirinya tetap ikut sang ayah setiap kali bekerja ke ladang. Bahkan dirinya sudah bisa ikut membantu pekerjaan sang ayah di ladang.
Ternyata pemandangan ini menjadi sesuatu yang asing di tengah masyarakat. Mereka merasa aneh melihat sang ayah yang selalu membawa anak gadisnya berdua ke ladang.
Akhirnya muncul gosip miring di tengah masyarakat. Mereka berkata jika sang ayah sudah melakukan besahu.
Besahu sendiri merupakan istilah ketika seorang laki-laki tergoda dan membuat perbuatan yang tidak senonoh dengan anaknya. Gosip ini pun tersebar dengan cepat di tengah masyarakat.
Kabar miring ini ternyata juga sampai ke telinga sang raja. Akhirnya sang raja pun menjatuhkan hukuman untuknya.
Sang ayah pun dijatuhi hukuman mati atas tuduhan tersebut. Tepat pada hari yang ditentukan, algojo pun datang ke rumah sang ayah dan anak perempuannya itu.
Setibanya di sana, sang ayah bersiap dan pasrah atas nasib yang dia dapati. Meskipun demikian, sang ayah sempat mengucapkan sebuah sumpah sebelum eksekusi dimulai.
Sang ayah bersumpah jika memang dia bersalah dan melakukan perbuatan buruk seperti gosip yang tersebar, maka seluruh ladang yang ada di tempat tinggalnya akan tumbuh subur. Namun sebaliknya jika dia tidak berbuat demikian, maka ladang yang ada di daerahnya akan mengalami kekeringan.
Setelah sang ayah mengucapkan sumpah, eksekusi pun dimulai. Algojo pun langsung mengayunkan parang ke arah leher sang ayah.
Namun anehnya parang algojo tidak bisa melukai leher sang ayah. Padahal parang tersebut sudah diasah hingga sangat tajam sebelumnya.
Algojo pun berulang kali berusaha menebas leher sang ayah. Namun hasil yang didapatkan pun nihil.
Sang ayah kemudian berkata jika parang tersebut tidak akan bisa melukainya. Sang ayah kemudian mengambil parang miliknya dan memberikannya kepada algojo.
Dia menyuruh algojo tersebut memakai parangnya. Dengan demikian barulah dia bisa menjalankan tugas yang diberikan oleh sang raja.
Algojo pun kemudian mengambil parang tersebut. Benar saja, eksekusi sang ayah pada akhirnya berjalan dengan mudah.
Bertahun-tahun berlalu, sumpah sang ayah mulai menampakkan hasilnya. Daerah yang dulunya subur mendadak mengalami kekeringan.
Semua ladang yang ada di sana pun akhirnya mati dan tidak bisa diolah. Kejadian ini menjadi bukti jika sang ayah dihukum atas tindakan yang tidak dia lakukan sama sekali.
Konon makam sang ayah diyakini berada di daerah Pocepak.


