Kisah Sari Dukung dan belut masapi adalah salah satu cerita rakyat yang berasal dari daerah Sulawesi Selatan. Cerita Rakyat ini berkisah tentang seekor belut masapi yang mengobati penyakit borok di tubuh seorang penggembala bernama Sari Dukung.
Bagaimana kisah lengkap dari cerita rakyat Sulawesi Selatan tersebut?
Kisah Sari Dukung dan Belut Masapi, Cerita Rakyat dari Sulawesi Selatan
Dinukil GNFI dari buku Kumpulan Cerita Legenda dari Tanah Duri, alkisah pada zaman dahulu hidup seorang raja yang memiliki banyak kerbau. Untuk merawat kerbau-kerbaunya tersebut, ada seorang pemuda yang bertugas sebagai penggembala bernama Sari Dukung.
Sari Dukung bukanlah pengembala biasa. Dia mampu mengontrol banyaknya kerbau milik sang raja seorang diri.
Jika hendak mengumpulkan kerbau-kerbau tersebut, dia akan naik ke atas gunung dan berteriak dengan kencang. Nantinya para kerbau akan berkumpul dan mengikuti arahan dari Sari Dukung.
Pada suatu hari, Sari Dukung menderita sakit keras. Sekujur tubuhnya terkena borok yang bengkak-bengkak dan pecah.
Sari Dukung pun tidak bisa bertugas saat itu. Alhasil kerbau sang raja berkeliaran secara bebas begitu saja karena tidak ada yang mampu mengontrolnya.
Sudah banyak tabib yang didatangkan untuk mengobati penyakit Sari Dukung. Namun belum ada satu obat pun yang manjur untuk mengatasinya.
Pada suatu ketika, Sari Dukung tengah makan di tepi sungai. Dirinya merenung tentang penyakit yang dia alami.
Tidak lama kemudian, muncul seekor belut masapi dari dalam sungai. Dia menegur Sari Dukung dan bertanya mengapa tubuhnya demikian.
Sari Dukung pun menjelaskan penyakit yang sedang dia alami. Belut masapi itu pun menawari bantuan pada Sari Dukung.
Dia berkata jika bisa mengobati penyakit borok tersebut. Hanya saja, Sari Dukung mesti rutin memberikan makanan untuknya setiap hari.
Sari Dukung setuju dengan syarat tersebut. Dengan spontan, dia memberikan makanan yang dibawanya dan hanya menyisakan sedikit untuknya.
Setelah memakan semua makanan itu, belut masapi pun menjilati tubuh Sari Dukung. Kejadian ini terus berulang beberapa hari kemudian.
Sebelum menggembalakan kerbau, Sari Dukung mampir terlebih dahulu ke sungai tersebut untuk memberi makan belut masapi. Sebagai balasan, belut masapi pun menjilati sisa penyakit yang masih ada di kulit Sari Dukung.
Perlahan penyakit borok tersebut mulai sembuh sedikit demi sedikit. Hanya saja, tubuh Sari Dukung makin kurus setiap harinya karena hanya makan sedikit saja.
Sang raja merasa khawatir melihat hal tersebut. Dia menduga ada seseorang yang memeras Sari Dukung.
Akhirnya sang raja memerintahkan pengawal untuk mengawasi Sari Dukung. Jika ada yang memeras makanan darinya, sang pengawal mesti harus mengambil tindakan dan menghabisinya.
Pengawal yang ditugaskan pun berangkat menjalankan perintah. Begitu melihat Sari Dukung memberi makan belut masapi, pengawal tersebut langsung mengeluarkan pedang dan menebasnya saat itu juga.
Sari Dukung tentu terkejut melihat hal tersebut. Dirinya menjadi marah karena penolongnya dihabisi begitu saja.
Hal ini membuat Sari Dukung tidak mau lagi menggembalakan kerbau sang raja. Menyikapi hal tersebut, Sari Dukung pun dipanggil menghadap ke istana.
Sari Dukung menjelaskan jika karena belut manapi lah penyakit yang dia alami bisa sembuh. Menyadari kesalahannya, sang raja pun meminta maaf pada Sari Dukung.
Sang raja meminta pengawalnya membawa jasad belut manapi. Dengan kesaktian yang dia miliki, belut manapi tersebut kembali hidup seperti sedia kala.
Akhirnya sang raja menyerahkan belut manapi itu pada Sari Dukung. Berkat hal tersebut, Sari Dukung kembali bersedia untuk menggembalakan kerbau-kerbau milik sang raja.


