mengapa bahasa indonesia disebut egaliter - News | Good News From Indonesia 2026

Mengapa Bahasa Indonesia Disebut sebagai Bahasa yang Egaliter?

Mengapa Bahasa Indonesia Disebut sebagai Bahasa yang Egaliter?
images info

Mengapa Bahasa Indonesia Disebut sebagai Bahasa yang Egaliter? | Wikimedia Commons | Arifedisant


Ikuti GNFI di WhatsApp

Bahasa Indonesia memiliki keunikan yang tidak selalu ditemukan dalam bahasa daerah di Nusantara. Salah satunya adalah sifat egaliter atau kesetaraan dalam penggunaannya. Mengapa bahasa Indonesia disebut egaliter?

Dalam percakapan sehari-hari, seseorang dapat menggunakan kata yang sama ketika berbicara dengan teman, orang yang lebih tua, hingga orang yang memiliki kedudukan sosial lebih tinggi.

Karakter ini membuat bahasa Indonesia relatif mudah digunakan oleh masyarakat dari berbagai latar belakang. Namun, sifat egaliter tersebut bukan muncul begitu saja. Ada sejarah dan pertimbangan panjang yang melatarbelakangi terbentuknya bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan.

Pilihan Visioner 1928: Mengapa Bukan Bahasa Mayoritas yang Dipilih?

Ketika para pemuda dari berbagai daerah berkumpul dalam Kongres Pemuda II pada 27–28 Oktober 1928, salah satu keputusan penting yang dihasilkan adalah menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Bahasa Indonesia berakar dari bahasa Melayu yang telah lama digunakan sebagai bahasa perhubungan atau lingua franca. Bahasa ini berkembang melalui aktivitas perdagangan, pelayaran, dan interaksi masyarakat di berbagai wilayah Nusantara.

baca juga

Menariknya, bahasa Jawa yang memiliki jumlah penutur lebih besar saat itu tidak dipilih sebagai dasar bahasa persatuan. Salah satu pertimbangannya adalah bahasa Melayu telah digunakan secara luas oleh masyarakat lintas suku dan tidak memiliki sistem tingkatan tutur seketat bahasa Jawa.

Pilihan tersebut menjadi langkah visioner. Para pendiri bangsa tidak menjadikan bahasa kelompok mayoritas sebagai identitas bersama, melainkan memilih bahasa yang lebih mudah diterima oleh berbagai kelompok masyarakat.

Anatomi Linguistik: Bahasa yang Menghapus Sekat Kasta

Salah satu alasan bahasa Indonesia disebut egaliter adalah tidak adanya sistem tingkatan bahasa atau speech level yang mengatur penggunaan kata berdasarkan usia, status sosial, maupun hubungan penutur.

Hal ini berbeda dengan bahasa Jawa yang mengenal tingkatan tutur seperti ngoko dan krama. Dalam bahasa Jawa, seseorang perlu mempertimbangkan lawan bicara sebelum memilih kosakata tertentu.

baca juga

Sementara itu, bahasa Indonesia menggunakan kata yang relatif sama dalam berbagai situasi. Misalnya, kata "makan", "tidur", dan "jalan" tidak mengalami perubahan bentuk hanya karena siapa lawan bicaranya. 

Bahasa Indonesia memang memiliki pilihan kata ganti seperti "aku", "saya", "kamu", dan "Anda". Ada pula sapaan "Bapak" dan "Ibu" untuk menunjukkan penghormatan. Namun, pilihan tersebut lebih berkaitan dengan konteks komunikasi dan kesantunan, bukan sistem kasta bahasa yang wajib diikuti.

Dampak Sosiologis: Merawat Demokrasi dan Rasa Senasib Sepenanggungan

Sifat egaliter bahasa Indonesia turut mendukung terbentuknya ruang komunikasi bersama bagi masyarakat yang memiliki latar belakang berbeda. Bahasa menjadi sarana untuk bertukar pikiran, menyampaikan pendapat, dan berpartisipasi dalam kehidupan publik tanpa ada sekat yang membatasi.

Bahasa Indonesia juga punya peran penting dalam perjuangan kemerdekaan. Saat itu, bahasa menjadi salah satu cara untuk menyatukan masyarakat dari berbagai daerah yang sama-sama ingin lepas dari penjajahan. Melalui bahasa yang sama, semangat untuk menjadi satu bangsa semakin kuat.

Setelah Indonesia merdeka, bahasa Indonesia ditetapkan sebagai bahasa negara melalui Pasal 36 UUD 1945. Penggunaannya pun semakin luas, mulai dari lingkungan pemerintahan, sekolah, hingga kehidupan sehari-hari.

Hingga sekarang, bahasa Indonesia menjadi bahasa yang bisa digunakan masyarakat dari berbagai suku dan daerah untuk saling berkomunikasi. Setiap orang bisa menyampaikan pendapat dan bertukar pikiran tanpa harus menggunakan bahasa dari kelompok tertentu. Hal ini juga sejalan dengan semangat demokrasi yang memberi ruang bagi setiap orang untuk menyuarakan pikirannya.

Merawat Kesetaraan Bahasa di Era Digital

Di era digital, sifat egaliter bahasa Indonesia semakin terlihat melalui media sosial dan forum diskusi daring. Masyarakat dapat saling bertukar informasi dan pendapat tanpa dibatasi latar belakang sosial maupun daerah asal.

Meski demikian, egaliter bukan berarti mengabaikan etika dan kesantunan. Penggunaan bahasa tetap perlu disesuaikan dengan situasi serta lawan bicara.

Jadi, jika dimaknai lebih dalam, bahasa Indonesia bukan sekadar alat komunikasi. Di dalamnya terdapat semangat persatuan dan kesetaraan yang diwariskan para pemuda pada 1928. Merawat bahasa Indonesia berarti turut menjaga ruang bersama agar setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk didengar dan dipahami.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Amanda Jingga Rambadani lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Amanda Jingga Rambadani.

AJ
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.