dunia kerja berubah gara gara ai ini 3 keterampilan yang kini diburu perusahaan - News | Good News From Indonesia 2026

Dunia Kerja Berubah Gara-Gara AI, Ini 3 Keterampilan yang Kini Diburu Perusahaan

Dunia Kerja Berubah Gara-Gara AI, Ini 3 Keterampilan yang Kini Diburu Perusahaan
images info

Diskusi Binus/Rizky Kusumo


Ikuti GNFI di WhatsApp

Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) mulai mengubah standar kebutuhan tenaga kerja di berbagai sektor industri. Kemampuan teknis yang selama ini menjadi modal utama lulusan perguruan tinggi kini tidak lagi cukup. Perusahaan membutuhkan talenta yang mampu beradaptasi, memanfaatkan AI, sekaligus memiliki kemampuan berpikir kritis dan mengambil keputusan.

Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan utama dalam diskusi panel bertajuk The Skills Advantage: Preparing Asia Pacific for the Next Economy dalam rangkaian QS Higher Ed Summit: Asia Pacific 2026.

Diskusi tersebut dimoderatori CEO QS Quacquarelli Symonds, Jessica Turner, dengan menghadirkan Country Manager Intel Indonesia, Harry K. Nugraha, M.M.; Rektor BINUS University, Dr. Nelly, S.Kom., M.M.; Head of Enterprise โ€“ Asia Coursera + Udemy, Rahit Kalsy; serta President Director HP Indonesia, Juliana Cen.

Kemampuan Teknis Tak Lagi Cukup, Perusahaan Cari Talenta Adaptif

Dalam diskusi tersebut, para pembicara sepakat bahwa perubahan teknologi menuntut tenaga kerja untuk terus memperbarui keterampilan. Bahkan, kemampuan yang relevan saat ini belum tentu masih dibutuhkan dalam beberapa tahun mendatang.

Harry K. Nugraha menilai, penguasaan keterampilan teknis tetap menjadi fondasi penting. Namun, kemampuan tersebut kini hanya menjadi tiket awal untuk memasuki dunia kerja, bukan lagi faktor utama yang membedakan seseorang dari kandidat lainnya.

โ€œJika saya mencari seseorang di tim saya, saya mencari seseorang yang memiliki pengetahuan lebih luas, memahami konteks bisnis secara keseluruhan, dan mampu melihat peran yang berbeda di luar tanggung jawabnya saat ini,โ€ ujar Harry.

Menurutnya, terdapat tiga hal yang perlu dipersiapkan seseorang ketika memulai karier di era sekarang. Pertama, memahami bisnis secara menyeluruh, bukan hanya berfokus pada pekerjaan sendiri. Kedua, memiliki kemampuan belajar dengan cepat. Ketiga, memperluas pengetahuan melalui jaringan profesional, mentor, rekan kerja, hingga pelanggan.

Rahit Kalsy turut menekankan pentingnya kombinasi tiga kompetensi utama, yakni pengetahuan fundamental sesuai bidang keahlian, kemampuan bekerja bersama AI, serta penilaian manusia.

โ€œAnda harus memiliki keahlian domain, kemampuan untuk bekerja bersama AI, dan bagian ketiga adalah penilaian,โ€ ujarnya.

Menurut Rahit, perusahaan kini tidak hanya membutuhkan pekerja yang mampu mengakses informasi, tetapi juga individu yang dapat mengidentifikasi persoalan, menyederhanakan solusi, dan menguji asumsi secara kritis.

Literasi AI, Berpikir Kritis, dan Kewirausahaan Jadi Kunci

Pandangan serupa disampaikan Juliana Cen. Ia menilai kemajuan AI telah mengubah cara perusahaan melihat kompetensi calon tenaga kerja. Kemampuan menggunakan teknologi bukan lagi kebutuhan eksklusif pekerja di bidang teknologi, melainkan keterampilan yang harus dimiliki semua profesi.

Juliana mengungkapkan, HP mendorong karyawannya untuk terus meningkatkan kemampuan digital melalui berbagai program pelatihan internal, termasuk pemanfaatan AI dan agen AI untuk mendukung pekerjaan sehari-hari.

Namun, ia menegaskan bahwa teknologi tetap membutuhkan penilaian manusia.

โ€œAI dapat membantu Anda dengan banyak riset, tetapi kita sebagai manusia masih perlu menaruh penilaian di sana,โ€ kata Juliana.

Selain literasi digital dan kemampuan manusia, Juliana juga menyoroti pentingnya keterampilan kewirausahaan. Menurutnya, pekerja harus memiliki rasa kepemilikan atau ownership untuk mengubah informasi dan teknologi menjadi sesuatu yang memberikan nilai tambah.

Di sisi lain, Dr. Nelly menjelaskan bahwa perguruan tinggi juga perlu membekali mahasiswa dengan kompetensi yang lebih luas. Di BINUS University, pengembangan atribut lulusan tidak hanya menitikberatkan pada keahlian teknis, tetapi juga adaptabilitas, kolaborasi, pemikiran kritis, literasi digital, dan karakter.

Menurutnya, AI harus dimanfaatkan mahasiswa untuk meningkatkan produktivitas dan menciptakan peluang baru. Meski demikian, keterampilan manusia tetap menjadi pembeda dalam menghasilkan keputusan dan solusi yang bermanfaat.

Diskusi tersebut memperlihatkan bahwa masa depan dunia kerja tidak hanya ditentukan oleh seberapa mahir seseorang menggunakan teknologi. Kemampuan belajar sepanjang hayat, berpikir kritis, membangun relasi, dan menciptakan nilai justru menjadi kompetensi yang semakin menentukan daya saing tenaga kerja.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

๐Ÿšซ AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.