BINUS memperkuat kolaborasi lintas sektor melalui penandatanganan Piagam Kerja Sama dalam agenda Multi-Helix Hub, bagian dari rangkaian QS Higher Ed Summit: Asia Pacific 2026 di Bali, Selasa (3/11). Inisiatif ini menjadi langkah untuk mempertemukan berbagai elemen strategis, mulai dari institusi pendidikan, industri, pemerintah, regulator, media, komunitas, hingga yayasan dalam membangun ekosistem yang mendukung pengembangan talenta dan inovasi.
Kolaborasi tersebut diwujudkan melalui National Ecosystem for Synergistic Transformation (NEST), sebuah platform terbuka yang mengintegrasikan pengetahuan, keahlian, jaringan, serta sumber daya dari berbagai sektor. Ekosistem ini dirancang agar para mitra dapat saling melengkapi dalam menciptakan program yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja sekaligus memberikan dampak positif bagi masyarakat.
CEO BINA NUSANTARA, Bernard Gunawan, mengatakan bahwa perkembangan teknologi dan perubahan kebutuhan industri menuntut dunia pendidikan untuk terus beradaptasi. Menurutnya, keterlibatan berbagai pihak menjadi penting agar pendidikan tidak hanya menghasilkan lulusan berkualitas, tetapi juga mampu memberikan kontribusi nyata terhadap pembangunan.
โSelama 45 tahun, BINUS bertumbuh bersama kepercayaan dan dukungan banyak pihak. Melalui NEST, kami ingin mempertemukan kekuatan dunia pendidikan, industri, pemerintah, media, dan masyarakat untuk membuka lebih banyak kesempatan bagi generasi penerus. Penandatanganan piagam ini menjadi langkah bersama untuk membawa gagasan kolaborasi menuju pelaksanaan yang manfaatnya dapat dirasakan masyarakat,โ ujar Bernard.
Libatkan Akademisi, Industri hingga GNFI dalam Ekosistem NEST
NEST dikembangkan dengan mempertemukan sejumlah elemen utama yang memiliki peran berbeda, tetapi saling mendukung. Dari sektor pendidikan dan akademisi, BINUS University bersama jajaran fakultas, termasuk Faculty of Engineering dan BINUS ASO School of Engineering, berkontribusi melalui pembelajaran, penelitian, serta pengembangan kompetensi berbasis kebutuhan masa depan.
Sementara itu, sektor industri dan startup berperan memberikan perspektif mengenai kebutuhan keterampilan di pasar kerja, komersialisasi hasil penelitian, hingga membuka peluang proyek inovasi dan pengalaman profesional. Salah satu mitra global yang turut memperkuat ekosistem inovasi tersebut adalah Leave a Nest Malaysia.
Keterlibatan pemerintah dan regulator juga menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem ini. Perannya mencakup penyelarasan arah penelitian dan pengembangan dengan kebijakan nasional, sekaligus mendukung keterhubungan antarpemangku kepentingan.
Di sisi lain, unsur komunitas, media, dan yayasan berperan memperluas jangkauan program serta menyebarluaskan pengetahuan dan hasil inovasi kepada masyarakat. Dalam kolaborasi ini, Good News From Indonesia (GNFI) turut menjadi bagian dari unsur media yang mendukung penguatan ekosistem NEST.
Kehadiran media diharapkan dapat membantu memperluas diseminasi informasi, mengangkat berbagai praktik baik, serta menghubungkan hasil kolaborasi dengan masyarakat yang lebih luas.
Pengembangan NEST sendiri berfokus pada empat agenda utama, yakni pengembangan talenta yang siap menghadapi masa depan, inovasi kolaboratif, pemanfaatan sumber daya bersama, serta penciptaan dampak sosial yang berkelanjutan.
Implementasinya dapat dilakukan melalui berbagai kegiatan, seperti pelatihan, pendampingan, riset bersama, proyek inovasi, hingga perluasan akses terhadap pengalaman dan kesempatan kerja. Berbagai sumber daya, mulai dari keahlian profesional, fasilitas, teknologi, data, hingga jaringan masing-masing mitra, juga dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas program.
Perluas Kolaborasi untuk Hadirkan Dampak Nyata bagi Masyarakat
Penandatanganan Piagam Kerja Sama di Bali menjadi kelanjutan dari dialog lintas sektor yang sebelumnya telah berlangsung di Jakarta pada Agustus dan Bogor pada Oktober 2026. Rangkaian pertemuan tersebut menjadi ruang bagi para mitra untuk mengidentifikasi kebutuhan, memetakan potensi, serta merumuskan peluang kerja sama yang dapat direalisasikan bersama.
Bernard berharap kolaborasi yang dibangun tidak berhenti pada kesepakatan formal, tetapi berlanjut menjadi program konkret yang membuka kesempatan belajar, meningkatkan kemampuan, dan mendorong kemandirian masyarakat.
โHarapan kami, kerja sama ini membuka kesempatan belajar, meningkatkan kemampuan, dan membantu masyarakat tumbuh lebih mandiri. Kita dapat memulainya dari kebutuhan yang bisa dijawab bersama, menentukan langkah yang jelas, lalu menjaga keberlanjutannya. Di situlah komitmen membina dan memberdayakan masyarakat diwujudkan,โ tambah Bernard.
Penyelenggaraan Multi-Helix Hub dalam QS Higher Ed Summit: Asia Pacific 2026 turut memperkuat ruang dialog antara perguruan tinggi dan berbagai sektor pembangunan. Sejalan dengan tema Advancing Education for Purpose and Impact, forum ini mendorong terciptanya hubungan yang lebih erat antara pendidikan, kebutuhan industri, inovasi, dan kesejahteraan masyarakat.
Bagi BINUS, pengembangan NEST merupakan bagian dari komitmen untuk terus membina dan memberdayakan masyarakat dalam membangun serta melayani bangsa. Dengan melibatkan akademisi, industri, pemerintah, media termasuk GNFI, komunitas, dan yayasan, kolaborasi ini diharapkan mampu menciptakan peluang yang lebih luas serta menghadirkan manfaat berkelanjutan bagi generasi mendatang.


