Mahasiswa Universitas Trisakti kembali turun gunung dan menyapu jalanan Jakarta. Kampus swasta yang terletak di Grogol, Jakarta Barat ini yang telah lama menjadi salah satu simbol gerakan mahasiswa dan perjuangan Reformasi, meneruskan perjuangan para pendahulunya.
Pada Kamis, 29 Oktober 2026, ratusan mahasiswa Trisakti bergerak dari kampus menuju kawasan Patung Kuda dan Jalan Medan Merdeka Selatan. Mereka membawa tiga tuntutan yang disebut Tritura, mulai dari pemulihan ekonomi, ekologi, pendidikan, politik dan kesehatan nasional; hingga pemberantasan inkompetensi; serta penegakan supremasi sipil.
Aksi itu berlangsung sehari setelah demonstrasi #IndonesiaSadar pada 28 Oktober.
Staf Khusus Wakil Menteri Sekretaris Negara, Binbin Firman Tresnadi, bahkan sempat datang untuk menerima aspirasi mahasiswa dan berjanji menyampaikannya kepada pimpinan eksekutif.
Nah, salah satu yang unik pada unjuk rasa kali ini, para demonstran menjalankan salat Magrib berjemaah di lokasi aksi. Jaket almamater biru tua yang sebelumnya dipakai untuk aksi dilepas dan dibentangkan di jalan sebagai sajadah.
Trisakti Dulu Bukan Kampus Langganan Demo
Tahukah Kawan, sebelum Tragedi Trisakti 1998, kampus ini dulunya tidak identik dengan aksi demonstrasi mahasiswa?
Malahan, kampus seperti Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, dan Universitas Gadjah Mada lah yang menggoreskan jejak panjang dalam menyampaikan aspirasi di jalan.
Hal itu juga dicatat dalam penelitian Siti Jubaedah tentang gerakan mahasiswa Trisakti pada Mei 1998.
Menurut penelitian yang dimuat dalam Criksetra: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 8 No. 2 Tahun 2019, Universitas Trisakti sebelumnya tidak dikenal sebagai kampus aktivis atau basis perlawanan mahasiswa terhadap penguasa.
Penelitian tersebut juga mencatat adanya pandangan di kalangan aktivis bahwa mahasiswa Trisakti kala itu dianggap berasal dari kelompok kelas menengah dan relatif tidak terlalu terdampak krisis.
โUniversitas Trisakti sebelumnya tidak pernah dikenal sebagai kampusaktifis atau basis perlawanan mahasiswaterhadap penguasaโฆ Bahkan dalammerespon kebijaksanaan penguasa padaawal 1998, ditengah-tengah krisis ekonomiyang melanda Indonesia dan beberapanegara Asia lain, kampus Trisakti relatif tenang dan tidak terpengaruh,โ tulis Jubaedah dalam penelitiannya.
Bisa dibilang, Trisakti kala itu bukan kampus yang kerap berada di barisan paling depan ketika gerakan mahasiswa Indonesia dibicarakan.
Dikenang sebagai Lokasi Tragedi
Cara pandang masyarakat terhadap Universitas Trisakti kemudian berubah setelah tragedi 12 Mei 1998.
Hari itu, ribuan civitas akademika Trisakti berkumpul di lingkungan kampus untuk menggelar aksi. Aksi tersebut bukan hanya diikuti mahasiswa. Dosen, pejabat fakultas dan universitas, karyawan, hingga unsur civitas akademika lainnya turut berada di lokasi. Pusat Krisis Universitas Trisakti mencatat sekitar 6.000 orang berkumpul di depan mimbar.
Mereka turut menyuarakan tuntutan Reformasi di tengah krisis ekonomi dan politik yang melanda Indonesia.
Sekitar pukul 12.25 WIB, massa ingin turun ke jalan dan bergerak menuju Gedung DPR/MPR untuk menyampaikan aspirasi. Mereka kemudian berjalan keluar kampus. Di depan kantor Wali Kota Jakarta Barat, rombongan dihadang barikade aparat.
Negosiasi berlangsung cukup lama. Mahasiswa sempat duduk dan melakukan mimbar bebas di jalan. Bahkan ketika hujan turun, massa masih bertahan.
Pada sorenya, ketegangan meningkat ketika mahasiswa dan aparat sama-sama bergerak mundur. Dalam rangkaian peristiwa setelah itu, terjadi penembakan yang membuat mahasiswa berlarian kembali ke dalam kampus.
Empat mahasiswa Trisakti kemudian tewas.
Mereka adalah Elang Mulia Lesmana, Heri Hertanto, Hafidin Royan, dan Hendriawan Sie. Mereka tertembak di kawasan kampus dan puluhan lainnya mengalami luka.
Tragedi itu kemudian menjadi salah satu catatan penting dalam rangkaian gerakan Reformasi 1998.
Trisakti, Pemantik Gelombang Reformasi
Empat mahasiswa yang gugur memicu kemarahan yang meluas ke berbagai lapisan masyarakat.
Kabar penembakan mahasiswa menyebar dan mengundang gelombang solidaritas. Aksi demonstrasi yang sebelumnya telah berlangsung di sejumlah kampus semakin membesar. Mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi berdatangan ke Jakarta dengan tuntutan yang sama, bahwa Presiden Soeharto harus mundur dari jabatannya.
Gerakan tersebut kemudian mencapai salah satu puncaknya ketika mahasiswa dari berbagai kampus menduduki Gedung DPR/MPR. Desakan terhadap Soeharto semakin sulit dibendung. Setelah berkuasa selama 32 tahun, ia akhirnya menyatakan mundur pada 21 Mei 1998, hanya delapan hari setelah Tragedi Trisakti.
Sejarah kemudian mencatat 12 Mei 1998 bukan hanya sebagai hari berkabung bagi Universitas Trisakti, melainkan juga sebagai salah satu momentum penting yang mengantarkan Indonesia menuju babak baru.
Trisakti Kerap Turun ke Jalan
Pada tahun-tahun berikutnya, mahasiswa Trisakti masih beberapa kali turun ke jalan dan melanjutkan perjuangan. Mereka pernah menyuarakan pemerataan pendidikan pada 2013, menuntut penyelesaian kasus Tragedi Trisakti pada 2015, hingga mengingatkan pemerintah tentang agenda Reformasi yang belum tuntas dalam aksi damai pada 2018.
Keterlibatan itu berlanjut ketika gelombang demonstrasi mahasiswa kembali membesar pada 2019. Kampus Trisakti menjadi salah satu titik kumpul Aliansi Mahasiswa Indonesia sebelum massa bergerak menuju Gedung DPR. Dalam aksi tersebut, mahasiswa menyuarakan penolakan terhadap sejumlah rancangan undang-undang, termasuk revisi UU KPK dan RKUHP.
Pada 2024, mahasiswa Trisakti kembali terlihat dalam sejumlah aksi. Mereka menyuarakan persoalan pemilu, menolak revisi UU Pilkada, serta menuntut penyelesaian kasus pelanggaran HAM masa lalu. Setahun kemudian, mereka turun ke Gedung DPR untuk memprotes revisi UU TNI.
Kini, pada 29 Oktober 2026, ratusan mahasiswa Trisakti kembali turun ke jalan. Mereka membawa tiga tuntutan yang berkaitan dengan pemulihan sektor nasional, pemberantasan inkompetensi pejabat publik, dan penegakan supremasi sipil.
ย
ย


