Kuala Lumpur dikenal sebagai salah satu kota metropolitan modern di Asia Tenggara dengan penataan ruang yang tertata rapi. Di balik pembangunan awal rencana induk kota tersebut, ada peran besar dari akademisi dan perencana asli Minangkabau, Prof. Emeritus Ezrin Arbi.
Lelaki kelahiran Bukittinggi ini sudah mendedikasikan dirinya selama beberapa dekade untuk mengabdi di dunia pendidikan arsitektur dan perencanaan wilayah di Malaysia. Melansir dari umresearchplus.com yang dikelola Universiti Malaya, kontribusinya mencakup penataan fisik kota, pendirian fakultas di berbagai perguruan tinggi negeri, hingga pelestarian warisan budaya.
Profil Ezrin Arbi
Ezrin Arbi lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat, pada 24 Oktober 1936 dari pasangan Arbi Sutan Rangkayo Nan Gadang dan Fatimah binti Haji Abdul Malik. Ayahnya merupakan seorang guru sejak masa Hindia Belanda. Sementara itu, ibunya adalah tamatan Meisjes School asal Maninjau.
Ezrin menghabiskan masa sekolahnya di Sumatra. Seteah lulus SMA, ia melanjutkan studi ke Jurusan Arsitektur Institut Teknologi Bandung (ITB).
Setahun menempuh pendidikan di ITB, Ezrin meraih beasiswa Colombo Plan untuk kuliah di University of Melbourne, Australia, hingga meraih gelar Bachelor in Architecture pada 1960. Ia juga melanjutkan jenjang pascasarjana bidang Town and Regional Planning di kampus yang sama.
Awal Karier dan Kepindahan ke Malaysia
Sekembalinya ke Indonesia pada 1962, Ezrin bekerja di Kementerian Perindustrian selama tujuh tahun. Pengalaman mengikuti pelatihan PBB di Bangkok pada 1968 kemudian mendorong keinginannya untuk mencari pengalaman kerja di luar negeri.
Atas ajakan dari rekan kuliahnya di Australia yang bekerja di MARA, Ezrin memutuskan pindah ke Malaysia pada Juni 1969. Ia memulai pengabdiannya di Negeri Jiran sebagai dosen untuk bidang arsitektur dan perencanaan di Institut Teknologi MARA (ITM, kini UiTM).
Pada tahun 1979, Ezrin menjadi Perancang Utama dan memimpin Unit Pelan Induk (Perancang Master Plan) di Dewan Bandaraya Kuala Lumpur (DBKL).
Bersama timnya, Ezrin berhasil merumuskan Pelan Struktur Bandaraya Kuala Lumpur (1980–2000) yang menjadi cetak biru pembangunan kota modern Kuala Lumpur. Selain tata kota Kuala Lumpur, ia juga terlibat dalam perencanaan wilayah Tiga Segi Jengka di Negeri Pahang pada 1984.
Atas jasa besarnya merancang tata ruang ibu kota, Yang di-Pertuan Agong Malaysia menganugerahkan tanda kehormatan Kesatria Mangku Negara (KMN) padanya di tahun 1983. Beliau juga menerima Anugerah Tokoh Pemimpin Masyarakat dari MBPJ pada tahun 1999.
Pelopor Pendidikan Arsitektur di Tiga Kampus Besar
Ezrin Arbi tercatat sebagai akademisi yang mendirikan dan mengembangkan jurusan arsitektur di tiga perguruan tinggi terkemuka di Malaysia, yaitu UiTM, UTM, dan Universiti Malaya (UM). Di UiTM, ia membangun fondasi program diploma yang berhasil meraih pengakuan internasional.
Pada 1985, Ezrin diangkat sebagai Profesor di Universiti Teknologi Malaysia (UTM) dan dipercaya menjabat sebagai Dekan Fakultas Alam Bina untuk memperkuat program pascasarjana. Selanjutnya pada 1995, ia diminta oleh Universiti Malaya (UM) untuk mendirikan Program Seni Bina.
Di Universiti Malaya, kepemimpinannya berhasil membawa program arsitektur UM meraih akreditasi internasional dari RIBA (Royal Institute of British Architects), yang pertama di Malaysia.
Pada tahun 2008, UM mengukuhkannya sebagai Profesor Emeritus. Sebagai informasi, Profesor Emeritus adalah gelar kehormatan pada seoang profesor atau guru besar yang sudah pensiun, tapi tetap diizinkan menggunakan gelar profesornya.
Selain fokus pada perancangan kota modern, Ezrin sangat aktif dalam kegiatan konservasi cagar budaya bersama Badan Warisan Malaysia. Mengutip dari MalaysiaGazette, beberapa proyek pelestarian penting yang ia pimpin meliputi pemugaran Dewan Tunku Canselor UM pascakebakaran 2001, Istana Balai Besar di Kedah, Rumah Kedai Belanda di Melaka, hingga Rumah Penghulu.
Ezrin juga mendirikan Journal of Design and the Built Environment yang terindeks Scopus. Ia juga menulis otobiografi berjudul Liku Hidup Perantau Minang: Dari Bukittinggi ke Kuala Lumpur pada 2016.


