Nasrulhaq pergi ke Italia. Bukan untuk belajar membuat pasta, tentu saja. Dosen Unismuh ini jauh-jauh ke negara tempat Menara Pisa berdiri untuk sekolah doktoral.
Di sana, ia menemukan fenomena yang ternyata punya pola serupa dengan asal negaranya. Di Palermo, Italia pun rupanya ada kendaraan yang parkir sembarangan dan orang-orang yang nekat membawa kendaraan ke tempat yang seharusnya bukan jalan.
Padahal, kota di Pulau Sisilia tersebut sudah memiliki kebijakan transportasi berkelanjutan. Pemerintahnya juga sudah menerapkan Sustainable Urban Mobility Plan (SUMP) sejak 2020.
Akan tetapi, namanya juga manusia. Parkir sembarangan masih terjadi. Kendaraan pribadi masih masuk ke kawasan pejalan kaki dan zona lalu lintas terbatas. Polisi kota pun punya persoalan sendiri karena jumlah dan kapasitas personelnya tidak sebanding dengan pekerjaan yang harus ditangani.
Persoalan itulah yang kemudian dibawa Nasrulhaq ke dalam penelitiannya.
Penelitian itu membawa dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar sukses menyelesaikan pendidikan doktor di University of Palermo, Italia, pada 2026.
Yang menarik, Nasrulhaq menjadi alumnus sekaligus dosen Unismuh pertama yang menyelesaikan pendidikan doktor di perguruan tinggi Eropa.
Ternyata, Masalahnya Bukan Cuma Orang yang Melanggar Aturan
Sustainability of Sustainable Mobility Policies through Enhancing Performance of Municipal Police and Local Stakeholders: Applying Dynamic Performance Management and Governance in the Palermo Case.
Itu adalah judul disertasi yang diambil Nasrul. Dari situ, ia ingin mengetahui bagaimana kebijakan transportasi berkelanjutan bisa terus berjalan.
Salah satu yang ia soroti adalah kinerja polisi kota dan para pemangku kepentingan lokal dalam menghadapi pelanggaran lalu lintas di Palermo. Ia melakukan pengamatan lapangan dan wawancara dengan berbagai pihak.
Dalam kasus Palermo, polisi kota disebut menghadapi beban kerja yang cukup besar. Maka, peningkatan patroli dinilai menjadi salah satu hal yang dibutuhkan. Tak hanya itu, kamera pengawas lalu lintas juga penting dan sanksi terhadap pelanggar pun harus konsisten.
Masalahnya, penelitian Nasr menunjukkan bahwa semua itu belum cukup.
Kalau masyarakat tidak mendapat edukasi, infrastrukturnya tidak mendukung, dan pemerintah serta berbagai lembaga tidak mau bekerja bersama, kebijakan transportasi berkelanjutan tetap bisa tersendat.
Nasr menyebut semua sektor harus bergerak secara bersamaan.
“Untuk mencapai mobilitas perkotaan berkelanjutan, semua sektor harus bergerak secara simultan,” katanya, sebagaimana dikutip dari laman resmi unismuh.ac.id.
Persoalan lalu lintas memang sering dibebankan kepada polisi. Padahal, menurut penelitian Nasr, urusan ini juga bergantung pada komitmen pemerintah kota dan legislatif.
Sebab, kamera lalu lintas, perbaikan trotoar, hingga edukasi masyarakat sama-sama butuh kebijakan dan anggaran.
Jadi, transportasi berkelanjutan bukan cuma perkara polisi menilang pelanggar. Ada pemerintah, lembaga lain, dan masyarakat yang harus ikut bergerak.
“Tindakan terbaik dalam mencapai keberlanjutan kebijakan mobilitas berkelanjutan adalah penyatuan tindakan mitigasi dan preventif yang didukung oleh pendekatan politis,” tambahnya
Penelitian Nasr ini mendapat dukungan pendanaan melalui Programma Operativo Nazionale (PON) Ricerca e Innovazione. Ini adalah program riset yang didanai bersama oleh Uni Eropa dan Pemerintah Italia.
Penelitian Nasr berkaitan dengan SDG 11, yakni tujuan pembangunan berkelanjutan yang membahas kota dan permukiman yang berkelanjutan.
Dari Unismuh, Nasrulhaq Nyasar ke Norwegia dan Belanda
Kawan, Nasrulhaq merupakan alumnus Program Studi Ilmu Administrasi Negara FISIP Unismuh Makassar.
Setelah menuntaskan studinya di Makassar, ia melanjutkan pendidikan magister di Program Studi Manajemen dan Kebijakan Publik FISIP Universitas Gadjah Mada.
Baru pada 2022, ia berangkat ke University of Palermo untuk menjalani pendidikan doktor.
Selama kuliah, Nasr tidak cuma berkutat di Palermo.
Pada tahun yang sama, ia mengikuti program visiting student di University of Bergen, Norwegia.
Setahun kemudian, giliran Radboud University di Belanda yang menjadi tempatnya memperluas pengalaman akademik.
Pada 2024, ia bahkan mengikuti kursus singkat di University of Baltimore, Amerika Serikat.
Nasr tercatat menjadi pemakalah dalam Annual Conference of the European Group for Public Administration di Lisbon, Portugal, pada 2022. Ia kembali mengikuti konferensi organisasi yang sama di Athena, Yunani, pada 2024.
Pengalaman tersebut memperluas jejaring akademiknya dalam bidang administrasi publik, desain kebijakan, dan tata kelola pemerintahan.


