mengenang suharti dari sepeda tua hingga punya restoran ayam goreng legendaris - News | Good News From Indonesia 2026

Mengenang Suharti, dari Sepeda Tua Hingga Punya Restoran Ayam Goreng Legendaris

Mengenang Suharti, dari Sepeda Tua Hingga Punya Restoran Ayam Goreng Legendaris
images info

Ayam Goreng Suharti dirintis dari berjualan menggunakan sepeda tua | Instagram Ayam Goreng Suharti


Ikuti GNFI di WhatsApp

Jaringan rumah makan yang kini tersebar di berbagai kota tentu bukan hasil dari usaha yang dibangun hanya dalam waktu semalam.

Jauh sebelum namanya dikenal sebagai merek rumah makan ayam goreng legendaris, Hj. Suharti pernah berkeliling menawarkan dagangannya menggunakan sepeda tua. Sebuah bakul besar berisi ayam goreng menjadi teman perjalanannya dari Yogyakarta hingga Surakarta.

Pada 1956, ketika usianya sekitar 26 tahun, Suharti belum memiliki restoran ataupun jaringan rumah makan seperti yang dikenal masyarakat sekarang. Kala itu, ia hanya mengandalkan keterampilan memasak serta kemauan untuk door to door menjajakan ayam goreng racikannya kepada calon pembeli.

Dengan bantuan sang ayah, Suharti berkeliling menggunakan sepeda sambil membawa bakul dagangan di bagian belakang. Cara itulah yang ditempuh pada awal perjalanan bisnis kuliner yang kelak melekat dengan namanya selama puluhan tahun.

baca juga

Mewarisi Resep Keluarga, tetapi Merintis Usaha Sendiri

Kawan, ternyata Suharti memiliki hubungan kekerabatan dengan Mbok Berek.

Nama Mbok Berek tentu tidak lagi asing bagi para pencinta ayam goreng kalasan. Ya, Mbok Berek adalah sosok yang dikenal sebagai salah satu pelopor ayam goreng khas Kalasan, Yogyakarta.

Dari sang nenek, Suharti mempelajari cara mengolah ayam goreng beserta racikan bumbunya. Ia sempat belajar di rumah makan milik Mbok Berek sebelum akhirnya mencoba menjual ayam goreng buatannya sendiri.

Meski memiliki hubungan keluarga dengan sosok yang lebih dahulu dikenal dalam bisnis ayam goreng, Suharti tidak meneruskan usaha sang nenek. Ia memilih membangun jalannya sendiri dengan berjualan secara keliling.

baca juga

Dagangannya bahkan ditawarkan hingga Surakarta. Pada masa itu, sepeda tua menjadi alat transportasi sekaligus sarana untuk membawa ayam goreng kepada pelanggan.

Usaha Berkembang Setelah Menikah

Perjalanan bisnis Suharti mulai memasuki babak baru setelah ia menikah dengan Sachlan Prato Hardjono pada 1961. Sang suami yang bekerja sebagai pegawai di lingkungan Kepatihan Yogyakarta kemudian ikut membantu mengembangkan usaha tersebut.

Jika sebelumnya Suharti berjualan menggunakan sepeda, setelah menikah ia dan suaminya mulai memanfaatkan skuter milik Sachlan untuk membawa dagangan.

Mereka juga memperluas cara berjualan, termasuk menawarkan ayam goreng di Pasar Gandekan, Yogyakarta.

baca juga

Dari usaha tersebut, keduanya mulai mengumpulkan keuntungan. Mereka mengumpulkannya sebagai modal untuk mengembangkan usaha.

Pada 1968, Suharti dan Sachlan membeli sebidang tanah seluas sekitar 900 meter persegi di kawasan Maguwoharjo, Yogyakarta.

Setelah bertahun-tahun berjualan, Suharti dan suaminya akhirnya memiliki tempat usaha sendiri.

Pada 1972, keduanya mendirikan rumah makan di Jalan Laksda Adisucipto, Yogyakarta. Rumah makan tersebut awalnya menggunakan nama Ayam Goreng Mbok Berek sebelum kemudian dikenal dengan nama Ayam Goreng Suharti.

baca juga

Rumah makan yang pertama kali dibangun itu juga masih tergolong sederhana. Berdasarkan sebuah penelitian yang dilakukan oleh Isrul Muheri Hutapea dalam skripsinya, disebutkan bahwa tempat tersebut pada awalnya hanya memiliki delapan meja dan kapasitas sekitar 40 orang.

Usaha tersebut terus berkembang pesat. Pada 1978, rumah makan itu diperluas untuk menampung lebih banyak pelanggan.

Nama yang Menjadi Warisan Kuliner

Perjalanan Suharti dalam membangun bisnis ayam goreng tidak selalu berjalan mulus. Setelah rumah tangganya dengan Sachlan berakhir, keduanya harus berpisah dalam mengelola usaha yang telah dirintis bersama selama puluhan tahun.

Sachlan tetap menjalankan rumah makan dengan nama Ayam Goreng Ny. Suharti. Sementara itu, Suharti memilih membangun usaha sendiri menggunakan nama Ayam Goreng Suharti, tanpa embel-embel "Ny." yang sebelumnya melekat pada merek mereka.

baca juga

Bukan hanya nama yang berbeda, identitas visual kedua rumah makan itu pun berubah. Jika Ayam Goreng Ny. Suharti tetap menggunakan logo bergambar ayam, Suharti memilih memasang foto dirinya sebagai logo restoran.

Pada Oktober 1991, Suharti kembali mendirikan rumah makan dengan mereknya sendiri. Setahun kemudian, tepatnya pada 1992, ia memperoleh hak atas nama Rumah Makan Ayam Goreng Suharti.

Keputusan menggunakan foto diri sebagai logo juga menjadi cara Suharti membedakan bisnisnya dari usaha yang sebelumnya dibangun bersama sang mantan suami.

Suharti Meninggal Dunia

Kisah panjang itu kini menjadi bagian dari sejarah kuliner Yogyakarta. Nama Suharti tidak hanya dikenal melalui sajian ayam goreng dengan kremesan, tetapi juga melalui perjalanan seorang perempuan yang memulai usaha dari penjualan keliling.

baca juga

Hj. Suharti meninggal dunia pada Jumat (30/10/2026) pukul 23.21 WIB dalam usia 86 tahun. Kepergiannya meninggalkan kenangan bagi pelanggan dan perjalanan bisnis yang telah dirintis selama puluhan tahun.

 

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Aslamatur Rizqiyah lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Aslamatur Rizqiyah.

AR
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.