Semangkuk soto hangat memang cocok dinikmati kapan saja, apalagi saat kuah gurihnya berpadu dengan aneka isian yang mengenyangkan.
Salah satunya, Kawan bisa nikmati soto legendaris khas Kebumen, Jawa Tengah, yaitu, Soto Tamanwinangun yang telah dikenal sejak sekitar 1960-an.
Kuliner ini bahkan menjadi bagian dari Festival Soto Tamanwinangun yang digelar di Pasar Banaran pada 20 Oktober 2026. Dalam festival tersebut, sebanyak 1.000 porsi soto dibagikan secara gratis kepada masyarakat.
Selain menjadi ajang berbagi makanan kepada masyarakat, festival ini juga menjadi kesempatan untuk memperluas pengenalan Soto Tamanwinangun agar semakin dikenal di luar Kebumen.
Lantas, apa yang membuat Soto Tamanwinangun layak dikenal lebih luas?
Ciri Khas Soto Tamanwinangun
Melansir dari laman KebumenKab, salah satu keunikan Soto Tamanwinangun terletak pada kuahnya yang menggunakan kacang tanah giling dengan kaldu entog. Perpaduan tersebut menghasilkan cita rasa gurih dengan warna kuah yang berbeda dari soto-soto pada umumnya.
Selain itu, isian soto ini juga khas, mulai dari soun, kecambah hijau, kol, lontong, dan gethuk goreng hingga suwiran daging entog.
Gethuk goreng yang disajikan bersama soto ini terbuat dari singkong dan kentang yang sudah dibumbui dengan garam dan bawang putih. Kehadiran gethuk goreng inilah yang membuatnya terasa berbeda.
Sebagai sentuhan akhir, Kawan juga bisa menambakan taburan bawang merah goreng untuk menambah aroma dan memperkaya cita rasanya. Dari racikan khas tersebut, Soto Tamanwinangun memiliki identitas kuliner yang melekat pada masyarakat Kebumen.
Seiring berjalannya waktu, para pedagang juga menyediakan pilihan topping ayam kampung sebagai alternatif saat harga entog meningkat. Meski begitu, entog tetap menjadi pilihan utama karena sudah menjadi bagian dari ciri khas Soto Tamanwinangun.
Menilik Sejarahnya
Di balik racikan kuah dan isiannya yang khas, Soto Tamanwinangun ternyata juga menyimpan sejarah panjang. Kuliner ini awalnya dikenal dengan nama Soto Kasaran karena pedagangnya banyak yang berasal dari Dukuh Kasaran, Kelurahan Tamanwinangun.
Kemudian sekitar tahun 1960-an, Soto Tamanwinangun diracik oleh lima tokoh yang berperan penting dalam sejarah kuliner ini. Mereka dikenal sebagai “Pandawa Lima Soto Tamanwinangun” yang terdiri dari Mbah Munawar, Mbah Sojali, Mbah Sahudi, Mbah Madchusen, dan Mbah Jamil.
Pada awal kemunculannya, seporsi soto ini dijual seharga 3 ringgit. Seiring berjalannya waktu, harganya naik menjadi Rp25 pada 1986, kemudian pada 1996 jadi Rp200 dan pada tahun 2000 harganya Rp400.
Kini, pada 2026, Soto Tamanwinangun ditawarkan dengan dua pilihan topping, yaitu ayam kampung seharga Rp12.000 dan entog seharga Rp13.000 per porsi.
Para pedagang dahulunya menjajakan soto masih dengan cara dipikul sambil berkeliling. Mereka bahkan membawa dagangannya sampai ke kecamatan lain di luar Kebumen.
Sekarang cara berjualan tersebut sudah mulai berkembang. Sebagian pedagang beralih menggunakan gerobak, sementara yang lain membuka warung untuk melayani pelanggan.
Resep dan usaha Soto Tamanwinangun terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Upaya ini turut membuat kuliner tersebut semakin dikenal oleh masyarakat Kebumen dan sekitarnya.
Selain itu, para pedagangnya kini sudah tersebar di berbagai ruas jalan di Kota Kebumen hingga wilayah lain.


