Di tengah banyaknya sate yang menggunakan tusuk bambu, masyarakat Jejeran, Bantul, punya cara berbeda. Mereka justru menggunakan jeruji sepeda untuk membakar daging kambing.
Bukan Tusuk Bambu, Melainkan Jeruji Sepeda
Bayangkan menikmati seporsi sate kambing dengan tusukan yang biasanya kita temukan pada roda sepeda. Alih-alih menggunakan bilah bambu seperti kebanyakan penjual sate, hidangan khas Bantul ini justru menggunakan batang besi tipis yang dikenal sebagai jeruji sepeda.
Inilah sate klatak, kuliner khas Jejeran, Kecamatan Pleret, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Keunikannya bukan hanya terletak pada rasa daging kambing yang gurih, melainkan juga pada penggunaan jeruji besi sebagai alat penusuk sekaligus penghantar panas ketika proses pembakaran.
Kompas.com menyampaikan bahwa penggunaan jeruji besi menjadi pembeda utama kuliner ini. Panas dari bara api dapat merambat melalui tusukan besi sehingga membantu proses pematangan daging hingga bagian dalam.
Sederhana, tetapi justru di situlah letak keunikannya. Sebuah benda yang biasanya menjadi bagian dari roda kendaraan menjelma menjadi identitas kuliner yang membuat orang penasaran.
Dari Jejeran, Tradisi yang Terus Bertahan
Sate klatak bukan sekadar variasi sate kambing. Kuliner ini memiliki cerita panjang yang tumbuh dari kehidupan masyarakat Bantul. ANTARA News menyebutkan bahwa sate ini telah dikenal sebagai kuliner khas Pasar Jejeran, Wonokromo, Pleret, Bantul.
Keistimewaannya juga terlihat dari cara pengolahan. Daging kambing dipotong relatif besar, kemudian ditusuk menggunakan jeruji besi dan dibumbui secara sederhana, terutama dengan garam. Setelah matang di atas bara, sate biasanya disajikan bersama kuah gulai.
Nama klatak sendiri memiliki cerita menarik. Salah satu penjelasan yang berkembang di masyarakat menghubungkannya dengan bunyi yang muncul ketika sate dibakar.
Suara tersebut menyerupai bunyi klatak-klatak, yang kemudian melekat sebagai nama hidangan. Dengan ciri khas tersebut, sate klatak berhasil membangun identitas yang berbeda dari sate kambing pada umumnya.
Dari Warung Sederhana Menjadi Peluang Ekonomi
Keunikan kuliner tentu tidak berhenti pada pengalaman makan. Di balik seporsi sate klatak, terdapat peluang usaha yang tumbuh bersama popularitas makanan khas daerah.
Salah satu contohnya adalah perjalanan Sate Klathak Pak Pong. Kompas.com dalam pemberitaannya, Sate Klathak Pak Pong Jadi Primadona Wisata Kuliner saat Mudik Lebaran ke Yogyakarta (16 April 2024) mengisahkan Zakiron atau Pak Pong yang memulai usaha pada 1997 dengan menyewa kios kecil di kawasan Jejeran.
Perjalanan tersebut tidak selalu berjalan tanpa tantangan. Pada 2000, Zakiron memanfaatkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) untuk mengembangkan bisnisnya.
Kisah ini memperlihatkan bagaimana kuliner lokal dapat tumbuh menjadi usaha yang memiliki daya tarik lebih luas. Identitas produk yang kuat, cita rasa khas, dan konsistensi dalam mempertahankan karakter makanan menjadi modal penting bagi pelaku usaha.
Bagi kawasan Jejeran, keberadaan usaha sate klatak juga menjadi bagian dari daya tarik kuliner yang mengundang pengunjung. Semakin dikenal sebuah makanan khas, semakin besar pula peluang bagi usaha kuliner dan aktivitas ekonomi di sekitarnya untuk berkembang.
Kreativitas Lokal Tidak Selalu Harus Rumit
Penggunaan jeruji sepeda pada sate klatak memberikan pelajaran menarik tentang inovasi masyarakat. Sesuatu yang terlihat sederhana bisa menghasilkan pembeda yang kuat ketika digunakan dengan cara yang tepat.
Namun, penggunaan jeruji sepeda dalam kuliner ini perlu dipahami secara tepat. Belum ada bukti yang cukup untuk menyimpulkan bahwa jeruji tersebut berasal dari limbah bengkel atau merupakan program daur ulang logam. Penggunaan ulang jeruji sebagai alat memasak juga tidak otomatis menjadikannya produk ramah lingkungan.
Aspek kebersihan, keamanan bahan yang bersentuhan dengan makanan, serta kondisi jeruji yang digunakan tetap perlu diperhatikan.
Meski begitu, sate klatak menunjukkan bahwa kreativitas lokal tidak selalu harus lahir dari teknologi canggih atau modal besar. Terkadang, inovasi justru muncul dari keberanian melihat benda sehari-hari dengan fungsi yang berbeda.
Dari Jejeran, kita belajar bahwa sebuah identitas kuliner dapat tumbuh dari keputusan sederhana yang dipertahankan lintas generasi. Sebab, terkadang sesuatu yang membuat sebuah daerah dikenal bukanlah hal yang paling mewah, melainkan hal sederhana yang tidak terpikirkan oleh orang lain.

