Di tengah meningkatnya ancaman perubahan iklim, kesadaran terhadap dampak lingkungan dari aktivitas sehari-hari semakin penting, termasuk dalam memilih moda transportasi.
Setiap perjalanan yang dilakukan, baik menggunakan kendaraan pribadi, kereta api, maupun pesawat terbang, turut menghasilkan emisi karbon yang berkontribusi terhadap pemanasan global. Namun, tahukah kamu bahwa setiap moda transportasi memiliki tingkat emisi yang berbeda?
Kereta api dan pesawat terbang menjadi dua pilihan transportasi yang banyak digunakan untuk perjalanan jarak jauh. Meskipun sama-sama menawarkan kemudahan mobilitas, keduanya memiliki perbedaan dalam penggunaan energi, kapasitas angkut, serta jumlah emisi gas rumah kaca yang dihasilkan.
Kereta api, dengan kemampuan mengangkut banyak penumpang dalam satu perjalanan, memiliki potensi untuk menekan emisi karbon per penumpang dibandingkan moda transportasi lainnya.
Komparasi Jejak Karbon per Penumpang-Kilometer
Salah satu cara untuk mengetahui tingkat emisi suatu moda transportasi adalah melalui pengukuran jejak karbon per-penumpang-kilometer (passenger-kilometer). Pengukuran ini menunjukkan jumlah emisi gas rumah kaca yang dihasilkan untuk mengangkut satu penumpang sejauh satu kilometer. Dengan metode tersebut, perbandingan antarjenis transportasi dapat dilakukan secara lebih proporsional.
Berdasarkan data Our World in Data 2022, yang bersumber dari UK Department for Energy Security and Net Zero, kereta api nasional (national rail) menghasilkan 35 gram CO₂e per penumpang-kilometer. Sementara itu, penerbangan jarak pendek (short-haulflight) menghasilkan sekitar 151 gram CO₂e per penumpang-kilometer.
Dengan demikian, menggunakan kereta api berpotensi menekan emisi sekitar 76,8% dibandingkan penerbangan jarak pendek untuk setiap penumpang pada jarak yang sama.
Sebagai gambaran lain, emisi penerbangan domestik dalam sumber yang sama mencapai sekitar 246 gram CO₂e per penumpang-kilometer. Jika dibandingkan dengan kereta api nasional, selisihnya bahkan mencapai sekitar 85,8%. Angka ini menunjukkan bahwa keunggulan kereta api dalam menekan emisi dapat berada pada kisaran 70–80% untuk perbandingan dengan penerbangan jarak pendek, bahkan lebih besar jika dibandingkan dengan rata-rata penerbangan domestik.
Perlu diingat, angka tersebut merupakan estimasi berdasarkan faktor emisi di Inggris, sehingga hasil aktual dapat berbeda menurut jenis kereta, pesawat, tingkat keterisian, dan sumber energi yang digunakan.
Perbandingan tersebut juga memperlihatkan perbedaan dengan moda transportasi lainnya. Mobil berbahan bakar bensin menghasilkan sekitar 170 gram CO₂ ekuivalen per penumpang-kilometer, sedangkan bus rata-rata menghasilkan sekitar 97 gram CO₂ ekuivalen per penumpang-kilometer. Angka ini menunjukkan bahwa kereta api memiliki intensitas emisi yang relatif rendah dibandingkan sejumlah moda transportasi bermotor lainnya.
Jika melihat kondisi di Indonesia, data operasional PT Kereta Api Indonesia (KAI) juga menunjukkan angka emisi yang menarik. Kereta api jarak jauh tercatat menghasilkan sekitar 15,64 gram CO₂ per penumpang-kilometer. Angka tersebut menunjukkan intensitas emisi yang relatif rendah dibandingkan mobil berbahan bakar bensin yang diperkirakan menghasilkan 90-100 gram CO₂ per penumpang-kilometer dengan asumsi rata-rata dua orang dalam satu mobil.
Perbedaan tersebut memperlihatkan potensi transportasi berbasis rel dalam menekan emisi karbon. Dengan kapasitas angkut yang besar, energi operasional kereta dapat dimanfaatkan secara bersama oleh banyak penumpang sehingga emisi yang dihasilkan untuk setiap individu menjadi lebih rendah.
Perlu diperhatikan bahwa data KAI menggunakan satuan CO₂, sedangkan Our World in Data menggunakan CO₂e, sehingga keduanya memiliki cakupan dan metode penghitungan yang berbeda serta tidak dapat dibandingkan secara langsung.
Selain itu, emisi penerbangan tidak hanya berasal dari pembakaran bahan bakar pesawat. Aktivitas penerbangan juga menimbulkan dampak pemanasan tambahan melalui emisi non-CO₂, di atmosfer pada ketinggian tertentu. Faktor tersebut turut memengaruhi besarnya jejak karbon penerbangan apabila dihitung menggunakan satuan CO₂ ekuivalen.
Efisiensi Penggunaan Energi: Daya Angkut Massal dalam Sekali Jalan
Keunggulan kereta api dalam menekan jejak karbon juga berkaitan dengan kapasitas angkutnya. Dalam satu perjalanan, satu rangkaian kereta mampu membawa ratusan hingga ribuan penumpang, bergantung pada jenis rangkaian dan konfigurasi tempat duduk. Kemampuan mengangkut banyak orang sekaligus membuat energi yang digunakan untuk mengoperasikan kereta dapat dimanfaatkan secara bersama oleh seluruh penumpang.
Prinsip ini dikenal sebagai efisiensi energi per penumpang. Semakin banyak penumpang yang diangkut dalam satu perjalanan, semakin kecil porsi energi operasional yang dialokasikan kepada setiap individu, dengan asumsi penggunaan energi kendaraan tidak meningkat secara sebanding dengan jumlah penumpang. Sebaliknya, kendaraan dengan kapasitas lebih kecil berpotensi menghasilkan emisi per penumpang yang lebih tinggi apabila tingkat keterisiannya rendah.
Dari sisi teknis, kereta api juga memiliki keuntungan karena roda baja bergerak di atas rel baja. Kontak antara roda dan rel menghasilkan hambatan gulir yang relatif rendah dibandingkan ban kendaraan yang bergerak di atas permukaan jalan. Hal ini memungkinkan kereta mengangkut beban besar dengan kebutuhan energi yang relatif efisien.
Sementara itu, pesawat terbang membutuhkan energi untuk menghasilkan gaya angkat, mengatasi hambatan udara, dan mempertahankan ketinggian selama penerbangan. Proses lepas landas membutuhkan daya yang besar, terutama dalam penerbangan jarak pendek. Kebutuhan energi tersebut turut berkontribusi terhadap tingginya emisi per penumpang-kilometer.
Efisiensi penggunaan energi dalam transportasi massal juga memberikan manfaat di luar pengurangan emisi. Penggunaan kereta api secara luas dapat membantu mengurangi jumlah kendaraan pribadi di jalan raya, mengurangi kepadatan lalu lintas, serta menekan konsumsi bahan bakar. Dengan demikian, pengembangan transportasi berbasis rel tidak hanya mendukung pengurangan emisi gas rumah kaca, tetapi juga berkontribusi terhadap peningkatan kualitas lingkungan perkotaan
Dekarbonisasi Jalur Rel: Menuju Elektrifikasi Penuh dan Green Transit
Meskipun kereta api memiliki intensitas emisi yang relatif rendah, upaya pengurangan jejak karbon tetap perlu dilakukan. Salah satu langkah penting adalah elektrifikasi jalur rel, yaitu penggunaan tenaga listrik sebagai sumber penggerak kereta untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar diesel.
Kereta listrik memiliki keunggulan karena tidak menghasilkan emisi gas buang langsung dari proses pengoperasiannya. Berbeda dengan kereta diesel yang membakar bahan bakar fosil, kereta listrik memperoleh energi dari jaringan listrik. Namun, hal ini tidak berarti kereta listrik sepenuhnya bebas emisi. Emisi tetap dapat dihasilkan dari proses pembangkitan listrik, bergantung pada sumber energi yang digunakan.
Oleh karena itu, manfaat elektrifikasi akan semakin optimal apabila didukung oleh penggunaan energi terbarukan. Pemanfaatan tenaga surya, angin, air, dan sumber energi rendah karbon lainnya dapat membantu mengurangi emisi tidak langsung dari operasional kereta listrik. Kombinasi antara elektrifikasi dan energi bersih menjadi salah satu strategi penting untuk mewujudkan sistem perkeretaapian yang lebih berkelanjutan.
Transformasi transportasi massal seperti KRL, MRT, dan LRT harus diimbangi dengan dekarbonisasi sektor hulu untuk menekan emisi tidak langsung dari pembangkit listrik. Lebih dari sekadar mengganti mesin diesel, perwujudan konsep green transit yang utuh menuntut pendekatan menyeluruh yang mencakup integrasi antarmoda yang mulus, efisiensi energi di stasiun, pengelolaan limbah operasional, serta pembangunan infrastruktur yang ramah lingkungan.
Memilih Kereta Api sebagai Wujud Gaya Hidup Berkelanjutan
Upaya mengurangi emisi karbon tidak selalu harus dimulai dari perubahan besar. Memilih moda transportasi yang lebih rendah emisi, dapat menjadi salah satu bentuk kontribusi individu terhadap pelestarian lingkungan. Ketika tersedia pilihan perjalanan yang sesuai, menggunakan kereta api dapat membantu mengurangi jejak karbon dibandingkan menggunakan moda transportasi dengan intensitas emisi lebih tinggi.
Selain manfaat lingkungan, kereta api juga menawarkan berbagai keuntungan bagi masyarakat. Kapasitas angkut yang besar memungkinkan mobilitas penumpang berlangsung lebih terorganisasi, sementara penggunaan jalur khusus dapat mengurangi ketergantungan terhadap jalan raya.
Bagi masyarakat perkotaan, transportasi berbasis rel juga menjadi alternatif untuk menghindari kepadatan lalu lintas dan mendukung perjalanan yang lebih terencana.
Namun, perubahan menuju gaya hidup berkelanjutan tidak hanya menjadi tanggung jawab masyarakat. Pemerintah dan operator transportasi perlu memastikan tersedianya layanan kereta api yang aman, nyaman, terjangkau, dan mudah diakses. Peningkatan kualitas infrastruktur, ketepatan waktu perjalanan, integrasi antarmoda, serta pengembangan jaringan elektrifikasi juga menjadi faktor penting agar masyarakat semakin tertarik menggunakan transportasi publik.
Dengan kapasitas angkut massal, efisiensi penggunaan energi, dan potensi pengembangan teknologi berbasis energi bersih, memilih kereta api merupakan salah satu langkah nyata untuk mendukung pola mobilitas yang lebih ramah lingkungan.


