Ketersediaan air bersih masih menjadi tantangan bagi sejumlah wilayah di Daerah Istimewa Yogyakarta, terutama kawasan perbukitan karst di Kabupaten Gunungkidul.
Kondisi geografis batuan kapur membuat sebagian masyarakat harus menghadapi keterbatasan akses air, khususnya ketika musim kemarau tiba. Karena itu, penyediaan sarana air bersih menjadi salah satu kebutuhan penting untuk menunjang kehidupan sehari-hari warga.
Menjawab kebutuhan tersebut, Kemenkeu Satu Peduli Wilayah DIY bersama Baitulmaal Muamalat (BMM) dan sejumlah mitra kebaikan meresmikan fasilitas sumur bor di Padukuhan Trukan Ngampo, Kalurahan Pacarejo, Kapanewon Semanu, Kabupaten Gunungkidul, Jumat (30/10). Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Oeang Republik Indonesia (HORI) ke-80.
Libatkan 6 Unsur Kemenkeu DIY

Peresmian fasilitas sumur bor di Semanu, Gunungkidul, DIY, Jumat (30/10) | Foto: Istimewa
Program pembangunan sumur bor tersebut merupakan bentuk kontribusi sosial jajaran Kementerian Keuangan kepada masyarakat. Kepala Perwakilan Kemenkeu Satu DIY sekaligus Kepala Kanwil Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) DIY, Tauhid, menjelaskan bahwa kegiatan ini melibatkan enam unsur Kemenkeu Satu di wilayah DIY.
Ia menyebut, peringatan HORI tidak hanya menjadi momentum untuk mengenang perjalanan sejarah keuangan negara, tetapi juga kesempatan bagi jajaran Kementerian Keuangan untuk memberikan manfaat secara langsung kepada masyarakat.
"Sesuai amanat Menteri Keuangan RI, seluruh jajaran Kemenkeu di daerah diminta untuk terus bersatu dan memberikan kontribusi dalam membangun daerah serta memberi manfaat bagi masyarakat," ujar Tauhid.
Sumur Bor Ditambah Program Konservasi Air

Peresmian fasilitas sumur bor di Semanu, Gunungkidul, DIY, Jumat (30/10) | Foto: Istimewa
Tidak hanya membangun infrastruktur penyediaan air, program ini turut memperhatikan keberlanjutan sumber daya air di kawasan tersebut. Manager Regional Office DIY Baitulmaal Muamalat (BMM), Sari Triastuti, menjelaskan bahwa sumur bor dibangun dengan kedalaman sekitar 75 meter dan dilengkapi tandon berkapasitas 5.000 liter.
Menurutnya, pembangunan fasilitas air bersih perlu berjalan beriringan dengan upaya menjaga lingkungan, terutama daerah tangkapan air yang berperan dalam mempertahankan ketersediaan sumber air.
"Program sarana air bersih di Padukuhan Trukan Ngampo ini memiliki kedalaman pengeboran sekitar 75 meter dengan debit air yang stabil dan tandon berkapasitas 5.000 liter," jelas Sari.
Menjangkau 147 Kepala Keluarga

Peresmian fasilitas sumur bor di Semanu, Gunungkidul, DIY, Jumat (30/10) | Foto: Istimewa
Bagi masyarakat setempat, keberadaan sumur bor ini menjadi tambahan sarana untuk memenuhi kebutuhan dasar rumah tangga. Lurah Pacarejo, Suhadi, menyampaikan bahwa selama ini pemenuhan kebutuhan air bersih di wilayahnya masih belum merata, baik dari sisi jumlah maupun kualitas pasokan.
Fasilitas yang dibangun di Padukuhan Trukan Ngampo tersebut ditujukan untuk membantu 147 kepala keluarga (KK). Suhadi menilai dukungan dari berbagai pihak turut membantu pemerintah kalurahan dalam menjangkau kebutuhan masyarakat, mengingat keterbatasan anggaran yang tersedia.
"Bantuan CSR dan kolaborasi seperti ini sangat kami harapkan karena anggaran kelurahan sangat terbatas untuk menjangkau seluruh kebutuhan di 28 padukuhan," tutup Suhadi.


