Riwayat pendidikan presiden di Indonesia memperlihatkan latar belakang akademik yang beragam, mulai dari teknik sipil, teknik mesin, ilmu pertanian, hingga pendidikan militer dan pesantren. Sejak Soekarno hingga Prabowo Subianto, delapan presiden RI memiliki perjalanan pendidikan yang berbeda sebelum memimpin pemerintahan.
Menariknya, tidak semua presiden merupakan lulusan perguruan tinggi sipil. Ada yang berhasil meraih gelar doktor dari universitas luar negeri, menempuh pendidikan hingga akademi militer, bahkan pernah berkuliah di sejumlah kampus tanpa menyelesaikan studinya. Riwayat pendidikan presiden di Indonesia ini memberikan gambaran mengenai almamater, jurusan, serta latar belakang pendidikan para pemimpin bangsa.
Menelusuri Jejak Pendidikan Delapan Presiden Indonesia
Untuk Kawan GNFI yang penasaran dengan apa saja riwayat pendidikan presiden-presiden yang pernah menjabat di Indonesia, berikut ini adalah rangkumanya.
1. Soekarno
Presiden pertama RI, Soekarno, menempuh pendidikan menengah di Hoogere Burgerschool (HBS) Surabaya. Setelah itu, ia melanjutkan studi di Technische Hoogeschool te Bandoeng (THS), yang kini dikenal sebagai Institut Teknologi Bandung (ITB), pada 1921.
Di sana, Soekarno mempelajari teknik sipil dengan bidang Weg- en Waterbouwkunde atau teknik jalan dan bangunan air. Ia berhasil meraih gelar insinyur pada 1926.
2. Soeharto
Berbeda dari Soekarno, Soeharto tidak melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi sipil. Dikutip dari laman resmi Perpustakaan Nasional, Ia sempat berpindah-pindah di beberapa sejumlah sekolah dasar di wilayah Yogyakarta dan Wuryantoro, Wonogiri, Jawa Tengah. Pada 1940–1941, Soeharto mulai mengikuti pendidikan militer, termasuk Sekolah Bintara di Gombong, Jawa Tengah. Ia terpilih sebagai anggota TNI pada 1945.
3. B.J. Habibie
B.J. Habibie memulai pendidikan teknik mesin di Fakultas Teknik Universitas Indonesia Bandung (kini ITB) pada 1954. Dikutip dari laman resmi KPU Temanggung, setahun kemudian, pada tahun 1955 hingga 1965 Bacharuddin Jusuf Habibie melanjutkan studi ke RWTH Aachen atau Rhein Westfalen Aachen di Jerman Barat, dengan jurusan spesialisasi konstruksi pesawat terbang.
Dengan riwayat pendidikan yang gemilang Pak Habibie memperoleh gelar Diplom-Ingenieur pada 1960 dan Doktor-Ingenieur pada 1965 dengan predikat summa cum laude.
4. Abdurrahman Wahid (Gus Dur)
Presiden keempat RI ini memiliki latar belakang pendidikan pesantren, antara lain di Krapyak, Tegalrejo, dan Tambakberas. Gus Dur kemudian belajar di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir, pada 1964–1966, tetapi tidak menyelesaikan studinya. Ia melanjutkan pendidikan ke Universitas Baghdad, Irak, pada 1966–1970 dan menyelesaikannya di sana. Gus Dur memepajari jurusan Sastra dan Humaniora ketika berkuliah di Universitas Baghdad.
5. Megawati Soekarnoputri
Megawati Soekarnoputri pernah menempuh pendidikan di Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran (Unpad) pada 1965–1967. Namun studi ini tidak beliau lanjutkan. Lalu, Ia kemudian melanjutkan kuliah di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI) pada 1970–1972. Namun, kedua pendidikan tinggi tersebut tidak diselesaikannya hingga memperoleh gelar sarjana karena ada beberapa situasi politik yang berkaitan dengan beliau..
6. Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)
Presiden SBY adalah presiden pertama kali yang dipilih langsung oleh rakyat. Untuk latar belakang pendidikan SBY menempuh pendidikan formalnya dari SD Negeri hingga SMA Negeri di Kota Pacitan. Lalu, pada tahun 1970, beliau melanjutkan di Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (AKABRI), Magelang, dan lulus sebagai lulusan terbaik pada 1973.
Dikutip dari laman resmi Perpusnas, setelah lulus dari ABRI, SBY masih melanjutkan pengembangan kompetensi melalui berbagai pendidikan dan pelatihan militer, baik di dalam maupun luar negeri. Beberapa di antaranya adalah Airborne and Ranger Course di Fort Benning, Georgia, Amerika Serikat (1976), Infantry Officer Advanced Course di institusi yang sama pada 1982–1983 dengan predikat Honor Graduate, serta Jungle Warfare Training di Panama (1983).
Pada 1984, ia mengikuti Anti Tank Weapon Course di Belgia dan Jerman, kemudian melanjutkan pendidikan melalui Kursus Komandan Batalyon di Bandung (1985) dan Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (Seskoad) pada 1988–1989.
Sementara itu, di bidang akademik, SBY memperoleh gelar Master of Arts (MA) dari Webster University, Amerika Serikat, serta gelar doktor bidang Ilmu Ekonomi Pertanian dari Institut Pertanian Bogor (IPB) pada 2004.
7. Joko Widodo
Joko Widodo atau Jokowi merupakan lulusan Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM). Dikutip dari laman resmi Universitas Gadjah Mada, Ia mulai menempuh pendidikan pada 1980 dan dinyatakan lulus pada 5 November 1985.
8. Prabowo Subianto
Prabowo Subianto menghabiskan masa sekolah formal mulai dari SD - SMA di sejumlah negara karena mengikuti keluarganya, antara lain Singapura, Hong Kong, Malaysia, Swiss, dan Inggris. Ia kemudian menempuh pendidikan formal di Akademi Militer Nasional di Magelang, pada 1970–1974.
Setelah lulus, Prabowo mengikuti berbagai kursus dan pelatihan militer, seperti Kursus Para Komando, Jump Master, Free Fall, serta Counter Terrorist Course di Jerman. Pelatihan tersebut merupakan pendidikan lanjutan militer, bukan gelar akademik.
Riwayat pendidikan presiden di Indonesia menunjukkan bahwa setiap pemimpin memiliki perjalanan akademik dan pengalaman belajar yang berbeda. Pendidikan tinggi dapat menjadi bekal untuk memperluas wawasan, membangun pola pikir kritis, serta memahami berbagai persoalan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara lengkap dengan problem solving yang tepat untuk rakyat.
Latar belakang pendidikan memang bukan menjadi satu-satunya hal untuk mengukur keberhasilan kepemimpinan seorang kepala negara, akan tetapi latar belakang pendidikan yang jelas menjadi salah satu parameter penting yang harus pemimpin negara miliki.
Di sisi lain, mengenai keterbukaan mengenai riwayat pendidikan hingga verifikasi dokumen pendidikan yang jelas dan sesuai ketentuan yang berlaku agar informasi mengenai latar belakang akademik pejabat negara dapat dipertanggungjawabkan.
Hal ini untuk menjaga kepercayaan masyarakat terhadap penyelenggaraan pemerintahan lengkap dengan adanya intergritas yang dimiliki.
Untuk menelusuri informasi menarik lainnya seputar tokoh, sejarah, dan berbagai perkembangan berita positif terkini yang ada di Indonesia, yuk, baca artikel-artikel lainnya di Good News From Indonesia (GNFI)!


