budaya asal bapak senang - News | Good News From Indonesia 2026

Menyoroti Budaya Asal Bapak Senang (ABS) yang Masih Membayangi Dunia Kerja

Menyoroti Budaya Asal Bapak Senang (ABS) yang Masih Membayangi Dunia Kerja
images info

Menyoroti Budaya Asal Bapak Senang (ABS) yang Masih Membayangi Dunia Kerja | Foto: Zanyar Ibrahim di Unsplash


Ikuti GNFI di WhatsApp

Apa Kawan GNFI pernah bertemu seseorang yang hobi mengiyakan setiap permintaan atasan—bahkan ide-ide terabsurd si bos—memfilter dan hanya melaporkan hal-hal positif, serta mengabaikan potensi krisis demi merealisasikan konsep asal bapak senang?

Tabiat semacam ini ternyata jauh lebih lazim kita temui di lingkungan sekitar, mulai dari institusi pendidikan tempat kita menimba ilmu, perusahaan tempat rekan atau kerabat kita bekerja, hingga organisasi pemerintahan.

Lalu muncul pertanyaan, memang apa masalahnya kalau kita berusaha menyenangkan orang yang secara hierarki berada di atas kita?

Sebelum kita menyelami akar permasalahan dari mentalitas ini, mari kita pahami terlebih dahulu definisi serta asal-usul istilah "asal bapak senang" yang kerap menjadi bahan refleksi di berbagai instansi ini.

baca juga

Asal Bapak Senang dan Hubungannya dengan Budaya Birokrasi

Arti Asal Bapak Senang dan Hubungannya dengan Budaya Birokrasi | Unsplash @Vitaly Gariev
info gambar

Arti Asal Bapak Senang dan Hubungannya dengan Budaya Birokrasi | Unsplash @Vitaly Gariev


Secara sederhana, arti asal bapak senang merujuk pada perilaku bawahan yang cenderung melakukan sesuatu atau memberikan respons yang menyenangkan atasan semata, meskipun hal tersebut tidak sepenuhnya sesuai dengan kenyataan di lapangan. Fenomena semacam ini disebut Worang dalam Suyatno, Armstrong, dan Thomas (2017) lazim ditemui terutama di institusi pemerintahan.

Dalam kajian lain, mentalitas ini erat kaitannya dengan sifat feodal yang masih mengakar. Dalam penelitiannya, Ridhuan (2018) juga menyinggung bagaimana mentalitas ABS banyak menjangkiti kalangan birokrasi dan aparatur pemerintah.

Contoh perilaku asal bapak senang sangat beragam dan barangkali terasa dekat dengan kehidupan Kawan sekalian, mulai dari selalu membenarkan keputusan pimpinan secara mutlak, menyanjung atasan berlebihan, tetap memuji atasan karismatik meski ia mengumpati pelanggan, menutupi masalah krusial, menghindari ruang kritik, hingga hanya melaporkan kabar baik demi menjaga posisi aman di perusahaan atau barangkali menjaga status gula darah dan tekanan darah atasan stabil.

Kondisi ini sering kali membuat relasi antara atasan dan bawahan bergeser menjadi orientasi pencitraan semata dan tidak fokus pada objektif riil perusahaan. Akibatnya, profesionalitas dan proporsionalitas dalam bekerja kerap dikesampingkan demi kepuasan personal seorang pemimpin. Tak jarang, pelanggan yang merupakan raja sebenarnya pun terlantar dan terabaikan.

baca juga

Sejarah "Asal Bapak Senang", Berawal dari Nama Band Pengiring Bung Karno

Sejarah
Sejarah "Asal Bapak Senang", Berawal dari Nama Band Pengiring Bung Karno | Unsplash @Vitaly Gariev

Jika menelisik ke belakang, sejarah asal bapak senang memiliki akar yang unik. Ridhuan (2018) mengaitkan sikap ini dengan mentalitas feodal dan sejarah panjang bangsa Indonesia yang pernah mengalami penjajahan, di mana tekanan untuk mencari perlindungan melahirkan sikap penurut agar tidak disakiti.

Ada juga penelitian lain yang mengaitkan dengan sejarah populer. Wiyanti et al., (2021) menjelaskan kalau nama tersebut mulanya melekat pada sebuah band bentukan anggota pasukan pengawal Presiden Soekarno dari Resimen Cakrabirawa. Band bernama "Asal Bapak Senang" ini dibentuk khusus untuk mengiringi pertunjukan tari kesukaan Presiden Soekarno di istana.

Dalam perjalanannya, istilah tersebut bergeser menjadi sindiran negatif. Ungkapan ini kerap digunakan untuk merujuk pada sejumlah kebiasaan dan perilaku anak buah yang dinilai rela melakukan apa pun, entah baik maupun buruk, asalkan atasan mereka tetap bahagia.

Mengapa Kebiasaan Asal Bapak Senang Bisa Tumbuh?

Budaya asal bapak senang tidak tumbuh begitu saja. Ada andil dari struktur relasi kerja yang terlalu hierarkis di masyarakat. Ketakutan akan konsekuensi buruk ketika berbeda pendapat, kepentingan mempertahankan jabatan, hingga ketiadaan ruang aman untuk menyampaikan koreksi dan kritik bagi institusi juga membuat orang-orang yang berada di posisi terbawah memilih jalan aman.

Faktor historis juga turut memegang peranan penting. Seperti yang disinggung sebelumnya oleh Ridhuan (2018), pengalaman dijajah oleh bangsa asing selama ratusan tahun membentuk mentalitas feodal. Sikap ini mendorong sebagian orang untuk mencari "selamat" dengan cara menyenangkan pihak yang berkuasa dengan imbalan keselamatan dan perlindungan.

baca juga

Ketika Terlalu Sering Mengiyakan, Sikap Kritis Bisa Hilang

Menyoroti Budaya Asal Bapak Senang: Arti, Sejarah, dan Dampaknya | Unsplash @Vitaly Gariev
info gambar

Menyoroti Budaya Asal Bapak Senang: Arti, Sejarah, dan Dampaknya | Unsplash @Vitaly Gariev


Dampak asal bapak senang bagi individu, organisasi, hingga stakeholders tentu tidak bisa dianggap kerdil. Kebiasaan ini membuat seseorang enggan menguji kevalidan informasi, enggan menyampaikan gagasan alternatif, enggan membuat perubahan bahkan meski itu berpeluang menghasilkan dampak positif, atau ragu mengoreksi keputusan yang keliru.

Dalam skala birokrasi, laporan yang dimanipulasi agar terlihat baik berisiko melahirkan kebijakan yang salah sasaran, tidak solutif, dan menghasilkan efek yang dipertanyakan bahkan malah merugikan target audiensnya.

Lebih jauh lagi, Ridhuan(2018) dalam Enam Watak Manusia Indonesia dalam Perspektif Bela Negara, Konflik Sosial dan Pembangunan Masyarakat mencontohkan situasi yang lebih ekstrem tetapi familiar, bahwa sisa-sisa mentalitas feodal ini dapat turut menyuburkan praktik suap-menyuap entah untuk melancarkan proyek, memuluskan kenaikan jabatan, maupun dalam proses rekrutmen yang kerap dibungkus halus sebagai "ucapan terima kasih".

baca juga

Membangun Lingkungan yang Tidak Takut Kritik

Mengurangi bahkan menghapus mentalitas ABS menuntut perubahan kesadaran dari berbagai pihak. Langkah awalnya dapat Kawan GNFI mulai dengan hal sederhana: melatih diri untuk mendengar secara terbuka (open-minded) tanpa langsung disisipi prasangka, tanpa label bahwa semua orang adalah musuh yang berusaha menjatuhkan kita.

Pemimpin perlu didorong untuk menerima masukan sebagai bahan evaluasi dan refleksi, bukan sebagai bentuk pembangkangan atau agenda untuk melumpuhkan.

Di sisi lain, penting bagi pekerja untuk menumbuhkan sikap kritis di tempat kerja. Menyampaikan pendapat secara jujur dan berbasis data bukan berarti menentang atasan, hal ini bisa menjadi wujud tanggung jawab moral demi hasil kerja yang lebih optimal, efektif, dan solutif bagi "raja-raja" kita yang sebenarnya, para pelanggan atau audiens.

Ingin memperkaya wawasan menarik seputar Nusantara dan informasi unik lainnya seputar kebudayaan serta fenomena sosial? Kawan GNFI dapat menjelajahi berbagai artikel di ragam rubrik Good News From Indonesia!

baca juga

 

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Allicia Dhea lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Allicia Dhea.

AD
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.